NEGERI SEJUTA PERAWAN

NEGERI SEJUTA PERAWAN
Utusan Raja Roma


__ADS_3

"Maaf, Ratu. Di depan ada yang ingin bertemu."


"Bertemu? Siapa?"


"Katanya dia utusan dari Raja Roma."


"Apa!"


Jenita dan yang lainnya tercengang mendengarnya. Mereka saling tatap satu sama lain. Tentu saja, tiga wanita yang ada di sana sangat terkejut dengan apa yang baru saja mereka dengar. Berbeda dengan tiga pemuda yang bersama wanita itu. Jack, Nikki dan Rahul memang tidak kenal siapa itu Raja Roma. Mereka hanya mendengar kalau Raja Roma begini dan begitu. Makanya mereka nampak biasa saja saat mendengar hal itu.


"Suruh tunggu sebentar, nanti saya temui dia."


"Baik, Ratu," penjaga istana langsung pergi untuk menyampaikan pesan Jenita. Begitu penjaga pergi, Jenita, Insana dan Nafata langsung dengan wajah terlihat panik.


"Bagaimana ini? Raja Roma mengutus orang datang kemari? Ada hal apa kira kira ya?" tanya Jenita pada dua wanita yang sedang dalam panik juga.


"Apa mungkin ayah kamu melapor pada Raja Roma kalau aku masih hidup dan berada disini?" terka Nafata.


"Bisa jadi itu, Putri. Aduh, bagaimana ini?" Insana menimpali.


"Kalian ini, kenapa terlihat begitu khawatir sih?" tanya Nikki sambil mengusap kepala Nafata.


"Karena kami tahu, betapa kejamnya Raja Roma itu. Wajar jika kami khawatir," balas Jenita.

__ADS_1


Jack menggenggam erat tangan Jenita. "Temui saja. Aku akan mengawasi Ratu dari kejauhan, ya?"


Dengan penuh pertimbangan, Jenita lantas mengangguk. Dia berdiri bersama Jack dan pergi meninggalkan yang lain lalu menemui tamunya.


"Jangan khawatir, semua pasti akan baik baik saja. Oke?" hibur Nikki. Begitu juga dengan Rahul, dia sibuk menenangkan Insana.


Sementara itu, begitu Jenita sampai di aula istana. "Apa anda utusan dari Raja Roma?"


Kening sang utusan berkerut. Jelas sekali dia terkejut. "Iya saya utusan Raja Roma. Kalau boleh tahu, siapa anda?"


Tentu saja Jenita terkejut dengan pertanyaan yang baru saja terlontar oleh pria itu. "Tentu saja saya Ratu di sini. Apa anda tidak mengenali saya ataupun istana ini?"


"Apa!" pekik sang utusan. "Bukankah di sini dipimpin oleh seorang pria asing yang mengambil alih istana ini?"


"Maaf, Yang mulia Ratu, kami mendengar sendiri dari Raja kami. Maka itu Yang mulia Raja kami menyuruh kami datang kemari guna memberi tahu kalau Raja kami ingin datang berkunjung esok hari."


"Darimana Raja Roma mendengar berita seperti itu?" desak Jenita karena sangat penasaran.


"Raja kami mendengar berita itu dari Raja Damendra saat Raja kami datang berkunjung."


"Apa!" Jenita merasa syok mendengarnya. "Raja Damendra?" tanya Jenita dengan perasan getir. Bagaimana mungkin ayahnya bisa sejahat itu? Hati Jenita bergejolak perih.


"Benar, Raja Damendra yang mengatakannya. Baiklah, apa Raja kami akan diterima kehadirannya esok hari?"

__ADS_1


"Datanglah, saya akan menyambutnya dengan baik," ucap Jenita dengan nada bergetar. Berhubung ini sudah sore, anda saya ijinkan menginap satu malam di sini. Pilihlah tempat sesuka anda, pelayan istana akan siap melayani anda."


"Terima kasih, Yang mulia."


Setelah mendapat persetujuan, pria utusan Raja Roma itu lantas pamit untuk segera memberi tahu kabar baik itu esok hari. Dia pergi bersama pelayan penjaga kerajaan yang tadi sempat dipanggil oleh Jenita untuk menemani tamu dan menemui pelayan istana. Sedangkan Jenita terduduk di singgasananya dengan perasaan yang tidak menentu. Terlihat sekali kalau dia sangat kecewa dengan tindakan ayahnya.


"Mungkin Raja Damendra mengira aku telah merebut kekuasaan kamu, Ratuku," ucap Jack yang saat ini sudah berdiri di sisi singgasana Jenita setelah keluar dari persembunyiannnya.


Jenita langsung menoleh dan menatap Jack dengan tatapan penuh tanya. "Apa maksud kamu, Tuan Jack?"


Jack lantas menceritakan kejadian kemarin pagi saat Jenita kabur dari kerajaan. "Mungkin ayahmu mengira kamu sudah pergi jauh dan tidak terima karena aku mengaku sebagai Raja yang baru."


Sekarang Jenita mengerti alasannya. Pantas saja tadi utusan Raja Roma nampak begitu kaget saat melihat Jenita datang. Bahkan orang itu tak segan segan menunjukkan rasa terkejutnya dan mengatakannya secara langsung.


"Sudah, Ratuku. Jangan terlalu dipikirkan," ucap Jack sembari mengusap lembut kepala wanita itu.


"Tapi aku takut, tuan Jack."


"Jangan takut. Kita hadapi semuanya sama sama, oke? Sekarang kita gabung dengan yang lain. Kita bahas, apa yang sebaiknya kita lakukan."


Tanpa bersuara, Jenita langsung berdiri dan menggenggam erat tangan lengan Jack terus melangkah menuju tempat keberadaan teman temannya.


...@@@@@...

__ADS_1


__ADS_2