
Setelah selesai musyawarah bersama orang orang yang berada di dalam kerajaan, kini tiga pria dan tiga wanita nampak duduk bersama di taman samping. Mereka merasa lega dengan keputusan yang mereka ambil. Yang membuat mereka lega adalah ide Jack yang terdengar brilian dan sangat masuk akal serta menguntungkan.
Semua nampak antusias dengan ide yang dicetuskan oleh Jack. Mereka akan berusaha semaksimal mungkin mencari pria yang benar benar mau membantu mereka. Para wanita yang ada di dalam kerajaan juga ditugaskan untuk menyebar berita itu ke seluruh penduduk secara diam diam.
Kini Jack sedang berunding untuk urusan pribadinya. Tentu saja, hal ini harus melibatkan wanita yang sedang dekat dengan dirinya. Begitu juga dengan Nikki dan Rahul. Mereka juga menggandeng wanita mereka untuk ikut bermusyarah dalam mengambil keputusan nanti. Para pria tidak ingin, nantinya ada salah paham lagi seperti tadi siang.
"Apa tadi yang anda umumkan itu, atas saran naga?" tanya Jenita pada pria yang ada disampingnya.
"Kamu! Bukan anda, tapi, Kamu," balas Jack penuh penekanan. "Kenapa harus slalu di ingatkan terus sih?"
"Iya, iya, kamu, iya," balas Jenita gemas.
"Ulang lagi!" titah Jack.
Jenita sontak mendengus tapi tetap menuruti kemauan Jack. "Apa tadi yang kamu umumkan itu, atas saran dari Naga?"
"Bukan," jawab Jack. "Itu ide aku sendiri."
Kening Jenita mengernyit sebagai tanda tidak percaya. "Mana mungkin?"
"Tuh! Dua orang saksinya," jawab Jack sambil matanya menunjuk ke arah Jack dan Nikki. Jenita lansung memandang ke arah dua pemuda di seberang meja.
"Benar, Ratu. Itu murni ide dari kepala Jack sendiri," ucap Nikki tanpa ditanya terlebih dahulu. "Aku aja malah kaget, Jack memiliki ide bagus seperti itu."
__ADS_1
"Terus nasib kita gimana, Jack? Kita nggak menikmati mahkota wanita lagi?" tanya Rahul. Pertanyaan itu langsung saja membuat Jack dan Nikki spontan melirik pada wanita yang ada di sebelahnya.
"Kenapa Tuan malah melirik ke arahku?" tanya Nafata.
Nikki langsung memasang senyum lebarnya. "Ya kan, aku minta persetujuanmu, Putri. Aku masih boleh kan? Menikmati mahkota wanita lain buat penyembuhan?"
"Tergantung Ratu Jenita. Aku ikut dia aja," jawaban Nafata membuat Nikki sontak melongo.
"Lah? Masa tergantung Ratu? Ini kan diantara kita, Putri," ucap Nikki sedikit frustasi.
Sedangkan Jack matanya terus menatap wajah Nafata dan hampir tak berkedip. Dia menampilkan senyum termanisnya dengan kedua tangan menopang dagu.
"Kenapa senyum senyum begitu?" tanya Jenita sambil sekilas melirik sinis ke arah Jack.
"Bilang langsung aja terus terang, tidak perlu merayu seperti itu," balas Jenita langsung kepada intinya.
"Hehehe ..." Jack sontak cengengesan. "Berarti aku masih boleh membantu menyembuhkan mereka?"
"Kalau aku melarang, memangnya kamu akan patuh?"
"Hehehe ..." Jack cengengesan lagi. "Maka itu, daripada sembunyi sembunyi, kan, lebih baik ngomong langsung. Lagian, ini kan sekalian buat menguji keperkasaanku juga, Ratuku. Kalau aku perkasa, Ratuku pasti akab seneng dong."
"Ah iya, benar," Rahul menimpali. "Ini juga buat menambah keperkasaan kita juga. Biar kita bisa ikut perang jika pulau ini di serang."
__ADS_1
Jenita kembali melirik ke arah Jack yang masih senyum senyum kepadanya. Jenita tahu benar hal ini akan terjadi. Apa lagi Jenita juga masih ingat saat pertama kali bertemu dengan Jack. Jenita juga sudah mempertimbangkan segalanya dan dia memang harus bisa bersikap bijak dalam hal ini.
"Baiklah, kalian silakan membantu menghilangkan kutukan pada para wanita. Tapi, kalian hanya boleh melakukannya sekali dalam tiga malam. Bagaimana?" ucap jenita akhirnya memberi keputusan.
"Benarkah?" tanya Jack dengan mata yang berbinar.
"Atau mau aku batalkan?"
"Jangan!" Seru Jack, Nikki dan Rahul bersamaan. Jack langsung menarik wajah Jenita dan memberi ciuman secara bertubi tubi. "Terima kasih, Ratuku yang sangat cantik."
Awalnya Jenita mencibir tapi lama kelamaan senyumnya terkembang juga. Nafata pun merasa senang dengan keputusan Jenita, begitu juga Insana. Dan yang paling bahagia pastinya ketiga pria yang ada di sana.
"Oh iya, Putri, aku tuh mau tanya, tapi tolong putri Nafata jangan berpikri yang macam macam," ucap Jack, membuat semua yang ada di sana nampak terkejut.
"Tanya apa?"
"Ini soal harta tersembunyi, apa benar, di pulau ini ada harta itu?"
Nafata sedikit terkejut, tapi tak lama kemudian dia tersenyum. "Benar, disini memang ada harta yang tersembunyi, tapi itu sangat berbahaya."
"Berbahaya?"
...@@@@...
__ADS_1