
Setelah puas menumpahkan segala rasa yang dipendam dalam dada, kini kondisi Jenita sudah lebih baik. Apa lagi setelah selesai menangis, Jack membawa Jenita untuk naik kuda bersama sekedar jalan jalan keliling kerajaan agar suasana hati Jenita tidak sekacau tadi dan terhibur dengan suasana baru.
Selama menjadi seorang ratu, Jenita memang tidak terlalu peduli untuk keluar istana. Jenita memilih menghabiskan waktunya dengan berdiam di dalam Istana meski tidak ada kegiatan apa apa. Jenita keluar istana hanya pada saat saat tertentu saja. Seperti saat mencari tumbal perawan atau urusan lainnya yang berhubungan dengan kerajaan.
Namun saat ini, Jenita tampak terkejut dan takjub dengan apa yang dia lihat di depan matanya. Jack membawa Jenita ke sebuah pantai dimana di tepi panta itu ada sebuah bukit dan diantara bukit itu air terjun yang sangat deras dengan airnya yang langsung jatuh ke dalam laut.
Jack sendiri tahu tempat itu karena tadi saat berangkat, dia bertanya tanya kepada warga mengenai tempat yang bagus di pulau itu. Banyak yang merekomendasikan tempat itu, jadi Jack pun memilihnya. Dan akhirnya disinilah mereka berada.
"Aku baru tahu kalau disini ada tempat sebagus ini," ucap Jenita dengan tatapan mata yang tak lepas dari pemandangan yang ada.
"Memang kamu selama ini kemana saja, Ratuku? Masa tidak tahu ada tempat sebagus ini?" tanya Jack dengan tangan yang masih melingkar di pinggang Jenita serta menjaga keseimbangannya karena mereka masih berada di atas kuda.
"Aku memang hampir tak pernah keluar untuk sekedar menikmati alam. Entahlah, aku sendiri nggak tahu kenapa aku lebih suka berdiam diri di dalam istana," balas Jenita dengan tenang tapi terdengar getir di telinga.
__ADS_1
"Itu karena kamu terlalu larut dalam tekanan orang tua kamu dan keadaan kerajaan. Ya sudah, sekarang jangan seperi itu lagi. Banyak hal baik yang bisa kamu lakukan, oke? Sekarang kita turun dan duduk disana, yuk," ucap Jack penuh dengan nasehat yang membuat hati Jenita tenang dan terhibur. Mereka lantas turun dari kuda dan melangkah ke sebuah tempat dimana terdapat bebatuan di bibir pantai.
Langit yang nampak berawan membuat udara yang ada disana terasa lebih sejuk. Jack dan Jenita tidak perlu tempat untuk berteduh. Kini keduanya duduk di atas batu besar sambil menikmati luasnya laut yang ada di depan mata mereka.
"Tuan," ucap Jenita pelan.
"Hmm? Kenapa?" balas Jack dengan lembutnya.
"Seteleh kejadian tadi bersama ayahku, mungkin sebentar lagi pulau ini akan mendapat banyak masalah," ucap Jenita dengan kepala sedikit menunduk menatap gulungan ombak kecil yang pecah membentur bebatuan. "Aku takut rakyat pulau ini akan menderita karena ulah ayahku."
"Cepat atau lambat, masalah pasti akan terjadi. Maka itu, sebelum pulau ini mendapat masalah besar, kita harus bisa mengantisipasinya. Kita harus bersiap diri sebelum pulau ini diserang oleh pihak manapun."
Kini gantian Jenita yang menatap Jack lekat lekat. "Apa kamu sudah memiliki rencana?"
__ADS_1
"Tentu saja," jawab Jack lantang sambil membalas tatapan Jenita. "Aku sudah memikirkannya dengan sangat matang. Kita tinggal menunggu waktu untuk melaksanakannya saja."
Jenita tersenyum tipis. "Ternyata kamu bisa memikirkan hal seriinci itu dalam diamnya kamu, Tuan. Apa di dunia sana, kamu juga memikirkan segalanya dengan sangat rinci setiap ada rencana?"
Senyum Jack sontak melebar, bahkan dia terkekeh kecil mendengar ucapan Jenita. "Tidak. Di duniaku, aku justru terlalu santai dalam setiap rencana yang akan aku kerjakan. Malah kadang aku tidak memikirkan apapun."
Jenita pun ikut tersenyum dengan mata yang terus memandang wajah tampan di sampingnya. "Apa kamu tidak rindu dengan dunia tempat kamu berasal, Tuan."
Pertanyaan Jenita sontak perlahan memudarkan senyum Jack. Dia menoleh membalas tatapan wanita itu. "Setiap anak manusia yang pergi jauh, pasti dia rindu dengan daerah asal dan keluarganya. Begitu juga dengan aku. Setiap saat aku memikirkan, bagaimana keadaan orang tua aku? Apa mereka saat ini baik baik saja? Atau mungkin sesuatu yang buruk terjadi pada mereka karena aku yang tidak kunjung pulang, dan bisa saja aku sudah dianggap mati oleh mereka. Aku selalu memikirannya, Ratuku. Aku selalu rindu keluargaku."
"Terus kalau kamu menemukan jalan pulang, apa yang akan kamu lakukan, Tuan?"
Deg!
__ADS_1
...@@@@@@...