NEGERI SEJUTA PERAWAN

NEGERI SEJUTA PERAWAN
Ada Yang Menyerang


__ADS_3

Kabar tentang munculnya batu bercahaya ungu dengan cepat menyebar. Hampir semua kerajaan yang ada di muka bumi, terutama yang memiliki ambisi untuk menjadi kerajaan yang terkuat, menyambut baik kabar ini. Tentu saja mereka semua mempersiapkan segala sesuatunya untuk turut andil dalam memperebutkan batu penuh kekuatan tersebut.


Bagaimana bisa berita tentang batu itu cepat menyebar? Sedangkan yang tahu tanda tanda akan keberadaan batu itu hanya sang naga dan lonceng milik Raja Roma. Tentu saja itu semua peran dari mata mata atau pengkhianat. Hampir di setiap kerajaan pasti memiliki mata mata atau penghianat. Begitu juga yang terdapat pada kerajaan Raja Roma.


Keserakahan dan ambisi Raja Roma menjadikan kerajaannya bagai sarang pengkhianat. Meski banyak juga yang setia, nyatanya, barisan orang orang yang sakit hati dan penuh dendam jumlahnya tidak sedikit. Mereka memilih berkhianat demi runtuhnya Kerajaan Roma.


Meski banyak pembencinya, tapi Raja Roma tak pernah gentar terhadap kerajaan manapun. Malah banyak kerajaan yang porak poranda di tangan pasukan Raja Roma. Maka itu, banyak kerajaan yang menjalin hubungan demi keamaan kerajaan mereka.


Maka itu orang orang yang mengetahui keberadaan batu bercahaya ungu harus pandai menutup mulut dan menjaga rahasia. Seperti Jenita dan Insana. Kesembuhan Nafata menjadi jalan mereka berdua untuk mengetahui fakta kalau kalung yang dipakai tiga pemuda ternyata adalah batu bercahaya ungu yang terbelah menjadi tiga bagian.


"Bagaimana batu itu bisa berada di tangan kalian?" tanya Jenita dengan wajah tidak percaya.


"Ceritanya sangat panjang, Ratuku," jawb Jack dan itu membuat Jenita menndengus sebal. Jack dengan cueknya menyebut nama Jenita dengan embel embel ratuku. Diprotespun percuma, Jack malah akan semakin menjadi.


"Bagaimana bisa? Saya ingin tahu ceritanya, Tuan?" kini Nafata yang bertanya.


"Ceritanya nanti saja saat kita hendak tidur, putri. Aku akan menceritaian semuanya," Nikki yang menjawab pertanyaan Nafata.


"Benarkah?" Nikki dengan sangat yakin mengangguk. "Baiklah, aku tunggu," ucap Nafata sembari tersenyum senang.


"Kamu mau tahu juga?" kini giliran Rahul yang bertanya pada Insana.

__ADS_1


"Besok saya cari tahu melalui Putri Nafata saja," jawaban Insana tentu saja bukan jawaban yang diharapkan Rahul, pemuda itu pun merasa kesal mendengarnya.


Rahul lantas menoleh ke arah dua lelaki di sebelahnya. "Aku minta, kalian jangan dulu cerita tentang batu kita ini pada Nafata dan Jenita. Biarkan aku saja yang cerita ke Insana."


"Loh? Kenapa jadi kayak gitu?" tanya Jack.


Pria keturunan India itu lantas melirik Insana. "Biar wanita itu peka kalau aku juga ingin tidur bersamanya."


Sontak empat orang yang ada disana langsung terbahak, sedangkan Insana mencebikkan bibirnya merasa kesal dan Rahul menunjukkan senyum kemenangangannya.


Di saat suara tawa belum reda sepenuhnya, tiba tiba suara ketukan pintu terdengar dari kamar Nikki. Seketika semua orang yang ada di dalamnya langsung menghentikan suara tawa mereka dengan wajah terkejut.


Jenita yang merasa terpanggil, langsung saja beranjak menuju pintu dan membukanya. "Ada apa, Panglima?"


"Maaf, saya menganggu anda, Ratu. Ada kekacauan di pasar rakyat, Ratu," lapor sang panglima.


"Kekacauan?" tanya Jenita terkejut. Begitu juga dengan orang orang yang ada di sana. "Kenapa kalian tidak melakukan tindakan?"


"Maaf, Ratu, kami sudah berusaha melawannya, tapi dia sangat mahir dalam melakukan perlawananan, Ratu. Dia sangat kuat."


"Dia!"

__ADS_1


"Dia seorang pria, memakai penutup muka dan caping, Ratu. Dia membuat kekacauan dengan merusak barang dagangan penduduk."


"Apa! Baiklah, saya akan segera bertindak. Tolong suruh pengawal siapkan kuda!"


"Siap, Ratu!" Panglima langsung beranjak pergi melaksanakan perintah Ratu Jenita.


"Hati hati Jenita, mungkin ini adalah sebuah jebakan," tiba tiba Nafata memberi peringatan.


"Jebakan?" Jack yang bertanya.


"Iya, jebakan atau pancingan. Biasanya penyerangan kepada rakyat dilakukan dengan tujuan mengundang seseorang agar keluar dari persembunyian atau semacamnya," terang Nafata.


"Terus menurutmu? Mereka memancing siapa? Bukankah saat ini kerajaan terlihat aman?" Jack kembali bertanya.


Nafata pun terdiam sambil berpikir. Tapi tak lama kemudian dia menatap tajam tiga pria didekatnya.


"Dia memancing pemilik batu bercahaya ungu!"


"Apa!"


...@@@@@@...

__ADS_1


__ADS_2