
Waktu terus merangkak maju. Kini hari berganti lagi. Ketika siang menjelang, para penduduk mulaai melakukan aktifitasnya masing masing. Ada yang menjalankan aktifitas biasa, ada pula yang menjalankan aktifitas yang tidak biasa.
Yang termasuk atifitas biasa adalaah berdagang, bertani, berkebun atau yang lainnya, seperti yang biasa dilakukan setiap hari. Sedangkan aktifitas tak biasa adalah segala kegiatan yang berasal dari istana, seperti melakukan ritual pemusnahan kutukan naga ataupun beratih bela diri serta membuat beberapa senjata dan alat perang lainnya.
Untuk berendam air rendaman batu bercahaya ungu hanya dilakukan menjelang petang dengan durasi yang tidak terlalu lama. Hal itu sengaja dilakukan agar keberadaan batu bercahaya ungu tidak terendus keberadaanya oleh orang orang yang menginginkan batu tersebut untuk tujuan jahat.
Jack, Nikki dan Rahul, juga turut ambil bagian dalam mengasah kemampuan bela dirinya. Selain untuk mengawasi para penduduk yang berlatih, mereka juga harus berlatih untuk membela diri mereka sendiri jika suatu saat ada penyerangan.
Dari ketiga pemuda itu, yang sering menjadi pusat perhatian adalah Jack. Selain memiliki wajah yang tampan dan badan yang bagus, tatto yang melekat pada tubuh Jack juga menjadi pusat perhatian. Mereka rata rata pada takjub karena gambar yang menempel pada tubuh Jack tergolong unik karena tidak luntur oleh air.
Banyak warga yang bertanya tentang tatto itu dan Jack sendiri bingung menjelaskannya. Dia sering menjawab asal jika ada yang menyinggung soal tatonya. Kadang Jack menjawab kalau itu adalah simbol dari orang cerdas sampai tanda pria paling tampan. Dan parahnya, semua yang mendapat jawaban seperti itu percaya saja.
Seandainya para penduduk wanita berani berkata jujur, banyak dari mereka yang bercinta dengan Jack. Bagi para wanita, tatapan mata Jack saja sudah sangat meresahkan, apa lagi bagian tubuh Jack yang lainnya seperti bibir, ketiak, dada, perut dan gerak geriknya. Tapi sayang, para wanita tidak ada yang berani jujur. Mereka lebih suka memendam hasrat mereka sendiri.
Setelah selesai berlatih, Jack dan kedua kawannya menghampiri para wanita yang sudah menunggu mereka dengan beberapa hidangan yang tersaji di atas meja.
"Wah! Insana! Kamu lagi nggak sibuk? Tumben siang ini bisa gabung?" ucap Nikki sambil mendaratkan pantatnya di kursi sebelah Nafata.
"Iya, Tuan. Karena semalam ada yang merengek minta ditemenin," balas Insana tanpa memandang wajah pria yang sedang tersindir dengan jawaban wanita itu.
__ADS_1
"Siapa yang merengek? Astaga! Kayak anak kecil aja, merengek minta di temenin," Jack malah ikut meledek pria keturunan india yang sekarang sedang menahan gemas kepada gadisnya.
"Ya ada saja, Tuan. Orangnya pake ngancam, kalau tidak di temenin, dia akan tidur dengan banyak wanita tiap harinya."
Jack dan Nikki sontak serentak tergelak, sedangkan Rahul langsung melingkarkan tangannya di pinggang Insana dan memberi ciuman di pipi karena begitu gemas. Jenita dan Nafata sendiri hanya senyum senyum melihat tingkah mereka.
"Ihh, apaan sih? Main cium cium, huh!" sungut Insana.
"Kamu makin cantik aja kalau lagi marah, wanitaku. Membuat aku lapar saja dan ingin memakanmu," ucap Rahul dengan manjanya.
Insana sontak mencebikkan bibirnya. "Katanya aku makin cantik kalau sedang tidak memakai baju. Tapi sekarang ucapannya beda lagi. Dasar pllin plan."
"Berarti kalau aku sedang tidak berada di sisimu, aku juga tetap cantik dong? Tapi kok kamu malah protes?"
"Astaga! Yang itu beda lagi, Sayang," wajah Rahul kini terlihat frustasi.
"Hahaha ..." Jack tiba tiba terbahak. "Dimana mana wanita selalu benar dan selalu menang!" Nikki dan Rahul langsung mengacungkan jempol ke arah Jack sebagai pertanda kalau mereka setuju dengan ucapan pria bertato itu.
"Eh, Tuan Jack, besok jadwalnya padat tidak?" tanya Nafata sembari menyuapi makanan ke mulut Nikki.
__ADS_1
"Ya paling seperti biasa, kenapa memang? Putri ada perlu?" balas Jack.
Sebelum menjawab, Jenita mengedarkan pandangan ke sekitarnya. Merasa cukup aman, dia baru menjawabnya. "Aku harap kalian masih bisa di percaya."
Semua orang yang ada disana sontak mengerutkan kening mereka. "Emang kenapa, Putri? Ada sesuatu rahasia yang ingin kamu katakan?" tanya Nikki.
"Besok kita ke tempat harta yang tersembunyi, bagaimana?" ucap Nafata.
"Serius?" tanya Jack dan Rahul hampir bersamaan, dan dengan mantap Nafata mengangguk.
"Baiklah, nanti setelah makan, aku akan cek semua keadaan. Kalau aman, besok kita berangkat."
"Sip!"
...@@@@@@...
mampir ke sini juga yuk
__ADS_1