NEGERI SEJUTA PERAWAN

NEGERI SEJUTA PERAWAN
Dilema


__ADS_3

Setelah puas merasakan nikmat pagi bersama para wanitanya, kini ketiga pria itu sedang duduk melingkari meja yang sama dan penuh dengan hidangan lezat yang tersaji di atas meja. Binar ceria sungguh terlihat jelas di mata ketiga pemuda itu. Tanpa saling bertukar cerita pun mereka sudah tahu apa yang telah terjadi pada mereka.


Namun, yang namanya laki laki, kalau sudah akrab dan berkumpul, biasanya lebih terbuka soal urusan ranjang daripada urusan hati. Mungkin benar, urusan ranjang bisa menjadi tolak ukur keperkasaan pria. Maka itu kebangggan seorang pria akan terlihat jelas dalam lamanya permainan ranjang.


"Bagaimana kamu semalam, Hul? Bisa?" tanya Nikki disela sela menyantap sarapannya. Entah itu sebuah pertanyaan atau sekedar ejekan, tapi sebelum pertanyaan Nikki di jawab, pria keturunan india itu terlebih dahulu mendengus sebal. Apa lagi saat melihat Nikki dan Jack tersenyum lebar bersama, meyakinkan hati rahul kalau kedua teman barunya sedang bertanya sekaligus meledeknya.


"Cih! Mentang mentang kalian sudah berpengalaman, yang masih lugu, kalian tindas," cibir Rahul.


"Hahaha ... siapa yang menindas?" tanya Nikki. "Aku kan cuma tanya? Lagian kayak cewek aja sih kamu, sensitif banget?"


"Ya lagian, yang kayak gitu ditanyaain. Pasti kalian juga lebih tahu. Apa lagi kalian sudah menjadi suhu dalam dunia peranjangan," balas Rahul tak mau kalah.


"Hahaha ... suhu apaan? Ngarang aja kalau ngomong," balas Nikki.


"Eh, tapi, kayaknya benar sih kata Rahul. Kita sebentar lagi bakalan jadi suhu," ucap Jack memotong perdebatan dua temannya hingga pandangan mata keduanya menatap Jack dengan penuh tanda tanya.


"Maksud kamu, Jack?" tanya Rahul.


"Apa kalian lupa kalau kita sudah bisa melunturkan kutukan Naga? Jika Ratu Jenita mengumumkan tentang kesembuhannya, sudah dipastikan semua wanita disini minta dilunturkan kutukannya oleh kita, kalian pasti tahulah apa yang bakalan terjadi."

__ADS_1


Kening Nikki dan Rahul kompak mengernyit bersama, mencerna ucapan Jack. Sejenak keduanya saling pandang lalu kembali memandang Jack yang sedang asyik makan kepala ayam goreng.


"Jadi akan ada banyak wanita yang pasrah di atas ranjang kita, Jack?" tanya Rahul dengan mata menuntut kebenaran dari hasil pemikirannya.


"Benar, akan ada banyak sekali wanita yang menyerahkan mahkotanya kepada kita untuk disodok, kamu mau? tanya Jack sembari membalas tatapan Rahul.


"Mau lah, Jack!" Seru Rahul sangat antusias. "Orang dikasih, masa di tolak. Lagian, mereka juga kan, pengin sembuh. Iya nggak, Nik?"


"Benar Jack, kita pasti mau," Nikki menimpali. "Kenapa? Kok kamu kayak ada yang mengganjal?"


Sebelum menjawab, Jack terlebih dulu mencuci tangan pada air yang sudah disediakan. Lalu dia meraih gelas dan meminum isina yang tinggal setengah.


Nikki dan Rahul langsung melongo mendengarnya. Benar apa yang dkatakan Jack, apa mereka sanggup? Main dengan satu wanita saja, lelahnya bukan main, apa lagi ini, banyak wanita, satu pulau.


"Iya yah? Bisa bisa pinggangku patah," sahut Rahul. "Belum lagi benih kita, tercecer di banyak rahim, hahaha ..."


"Benar, yang ada lutut kita bakalan cepet keropos. Haduh," Nikki menimpali.


"Nah maka itu, kita harus sama sama nyari solusi. Bagaimana caranya agar semua wanita disini bisa diselamatkan, tanpa kita membantu semuanya," ucap Jack.

__ADS_1


"Jenita sudah mau mengumumkannya apa belum, Jack?"


"Ya belum sih, Nik. Aku minta waktu buat membicarakannya dulu sama kalian."


Nikki pun menganggukkan kepalanya beberapa kali. Kini, ketiganya langsung terdiam dengan otak yang sedang bekerja. Mereka bener benar mencari solusi bersama, mencari jalan keluar masalah penyodokan lubang wanita.


"Aku ada ide!" seru Rahul. Kedua temannya sontak saja langsung menatapnya. "Begini ..." Rahul langsung menberi tahu idenya. Tanya jawab pun berlangsung saat ide itu diungkapkan. Hingga tak lama kemudian, kata sepakat keluar dari mulut mereka.


Sedangkan di tempat lain, tepatnya di tepi pantai yang sangat sepi di Pulau Kagomara, nampak lima wanita turun dari sebuah kapal.


"Sekarang, kalian sudah berada di palau Kagomara. Berbaurlah dengan penduduk pulau ini. Cari informasi sebanyak banyaknya, mengerti?"


"Mengerti, Kapten!"


"Bagus! Pergilah."


Kelima wanita itu pergi meninggalkan sang kapten yang sedang menyeringai jahat.


...@@@@@@@...

__ADS_1


__ADS_2