NEGERI SEJUTA PERAWAN

NEGERI SEJUTA PERAWAN
Siap Nggak Ya?


__ADS_3

"Em ... apa kamu siap kalau aku mengumumkan berita tentang hilangnya kutukan yang bersarang di tubuhku?"


Kening Jack berkerut kemudian tersenyum tipis. "Kenapa tanya sama aku? Kan kamu yang sembuh, Ratuku?"


"Tapi kan ini ada hubungannya dengan kamu, Tuan Jack."


"Ada hubungannya dengan aku? Apa?"


"Kamu juga harus bisa melunturkan kutukan seluruh wanita di pulau ini."


"Waduh!"


"Kok waduh? Kamu lupa sama janji kamu?"


Mendengar suara Jenita yang sedikit meninggi membuat Jack langsung tersenyum lebar. "Bukannya lupa, Ratuku. Kaget aja tadi."


Ya, apa yang dikatakan Jenita memang benar. Jack telah berjanji akan menyembuhkan seluruh wanita yang ada di pulau ini. Tapi apa Jack mampu? Jack pun bertanya tanya dalam hati. Bukannya Jack tidak mau, tapi jumlah wanita disini begitu banyak. Mungkin ada ribuan atau bahkan jutaan, Jack tidak tahu pastinya berapa. Namun yang pasti saat ini Jack malah bingung sendiri. Masa iya, dia tiap hari harus membobol mahkota wanita. Benar benar sudah seperti seorang dokter yang menerima pasien saja.


Meskipun nanti Nikki dan Rahul juga ikut membantu, apa mereka juga akan sanggup? Dulu Jack sering membayangkan jika dia bisa setiap hari mencicipi lubang semua wanita cantik, pasti hidupnya sangat bahagia. Tapi sekarang, ketika keinginannya menjadi nyata, Jack malah bingung sendiri.


"Gimana? Kok malah diam?" desak Jenita yang tiba tiba melamun.


"Eh ... aku lagi berpikir aja. Apa nanti tidak menimbulkan penyakit?" ucap Jack mencari alasan.


"Menimbulkan penyakit? Kamu takut terserang penyakit karena berganti ganti pasangan dalam hubungan ranjang?" Jack mengangguk dengan cepat. "Jangan khawatir, nanti aku bikinin kamu ramuana buah mokondo."


"Apa? Ramuan buah Mokondo?" tanya Jack dengan ekspresi wajah antara terkejut dan ingin terbahak. Di pulau ini, mokondo adalah nama jenis buah. Di negara asal Jack, mokondo itu istilah ejekan buat kaum pria.

__ADS_1


"Iya, kenapa? Kok dari tadi kaget mulu?" tanya Jenita heran.


Hehehe ... namanya unik."


"Jadi bagaimana? Aku umumkan apa bagaimana?"


"Jangan dulu deh, biar nanti aku bicarakan dulu sama Nikki dan Rahul."


"Baiklah," Jenita mengalah dan dia bangkit dari tidurnya.


"Mau kemana?" tanya Jack begitu melihat Jenita turun dari ranjang.


"Mau mandi, ada rapat kerajaan."


"Ikut!" seru Jack, dan dia langsung bangkit dan turun dari ranjang. Jenita menoleh dan menatap Jack dengan wajah terkejut. Saat dia hendak protes dan melarangnya, Jack terlebih dahulu bersuara, "Jangan menolak atau kamu tidak akan pernah bisa mandi!"


Di kamar lain, tepatnya di kamar Nikki. Pria itu juga sedang berendam air hangat di kolam yang ada di dalam kamarnya. Tentu saja Nikki tidak sendirian, ada wanita yang sedang bersandar di dadanya sambil menikmati pijatan tangan Nikki di bawah perutnya.


"Aku tidak menyangka kalau kolam ini bisa juga menggunakan air hangat. Aku pikir cuma bisa di isi air dingin," ucap Nikkki dengan jari tangan yang terus bergerak lembut.


"Memangnya para pelayan tidak memberi tahu caranya?"


"Tidak, tidak ada yang mau menjelaskannya sama sekali."


"Tapi sekarang Tuan Nikki sudah tahu cara, kan?"


"Iya, berkat kamu."

__ADS_1


"Aww! Sakit, Tuan!"


Nikki hanya terkekeh. Dia merasa gemas hingga memberi cubitan mesra pada bibir lubang nikmat milik Nafata. Nikki lantas mengencangkan pelukannya. Sejenak mereka saling diam dalam kehangatan yang mereka ciptakan.


"Kira kira setelah ini, apa lagi yang akan terjadi, ya?" tanya Jenita beberapa saat kemudian.


"Tidak tahu, Putri. Kenapa?" tanya Nikki lembut.


"Saat ini pasti Raja Roma sudah mengerahkan pasukannya untuk mencari saya. Saya yakin cepat atau lambat, saya akan ditemukan oleh mereka."


Nikki menghembus nafasnya pelan pelan. Dia tahu kalau wanita yang sedang dia peluk dari belakang masih dalam ketakutan. Entah apa saja yang dilakukan Raja Roma dahulu saat Nafata menjadi tawanan. Pasti rasa sakitnya sangat membekas di dalam hati hingga Nafata masih terbayang bayang rasa takut teramat dalam.


"Kamu bisa bela diri?"


"Bisa, tapi saya sudah lama tidak berlatih."


"Baguslah. Bagaimana kalau nanti siang kita berlati bersama?"


"Tuan mau mengajari saya?"


"Bukan mengajari, kita berlatih bersama sama. Kita harus kuat dan saling kerja sama melawan Raja Roma."


"Tapi pasukan Raja Roma sangat kuat, Tuan."


"Tidak masalah. Selama kita berusaha, pasti akan ada jalan untuk melawannnya. Yang penting kita harus terus berusaha."


"Baiklah, Tuan," ucap Nafata akhirnya pasrah dan mereka pun saling tersenyum dengan tubuh yang sangat rapat.

__ADS_1


...@@@@@@...


__ADS_2