NEGERI SEJUTA PERAWAN

NEGERI SEJUTA PERAWAN
Keinginan Jenita


__ADS_3

"Piring itu memang bebas dari racun, tapi tidak dengan gelas yang baru saja kalian gunakan untuk minum."


Glek!


"Apa kamu bilang?"


Jack menyeringai. "Gelas itu sudah saya olesi dengan racun. Racun yang sama dengan yang di bawa dayang istana kalian kemarin."


"Apa!"


"Huwek! Huwek!"


Raja Damendra dan Ratu Amuba langsung kalang kabut dan berusaha mengeluarkan air yang telah mereka minum.


"Hahaha ..." Jack tertawa begitu keras. "Ternyata kalian mudah dibodohi! Hahaha ..."


Kau!" Hardik Ratu Amuba dengan tatapan penuh kebencian.


"Tenang saja, saya hanya bercanda. Hahaha ..."


Nafas kedua orang itu tersengal sengal. Mereka sungguh terlihat sangat bodoh di mata pria yang sedang tertawa penuh kemenangan.


"Anda pikir perbuatan anda itu sangat lucu? Hah!" teriak Raja Damendra tak terima.


"Dan anda pikir dengan mengirim dua dayang untuk meracuni saya, itu perbuatan baik?" balas Jack yang membuat kedua orang itu terkesiap.


"Jangan asal nuduh kamu!" hardik Damendra.


Ya, ya, ya ... tidak ada manusia jahat yang mau mengakui kejahatannya," balas Jack dengan santainya.

__ADS_1


"Kau!"


Raja Damendra belum menyelesaikan ucapannya, tiba tiba seorang penjaga istana datang menghampiri Jack.


"Maaf, Tuan. Saya mau lapor."


"Ada apa?" tanya Jack pada seorang penjaga.


"Maaf, kami belum menemukan keberadaan Ratu Jenita, tuan."


Deg!


Raja Damendra sontak terkejut mendengarnya. "Apa maskudnya?"


"Seperti yang kalian dengar, Jenita dari semalam kabur dari istana," Jack yang menjawabnya.


"Apa! Tidak mungkin?" Sangkal Raja Damendra.


Mata Damendra semakin membelalak. Mulutnya ternganga dan dia tidak bisa berkata apa apa. Sedangkan Ratu Amuba, dia berusaha untuk tidak percaya dengan apa yang Jack ucapkan. Bahkan dia menuduh kalau ini hanya akal akalannya Jack aja. Tapi Jack hanya bisa tersenyum sinis mendengarnya.


"Penjaga!" seru Jack.


"Iya, Tuan."


"Mulai saat ini, jika Raja Damendra dan Ratu Amuba datang, segera usir mereka!"


"Apa!" teriak Raja dan Ratu bersamaan. Mereka mulai memaki Jack dengan kata kata kasar, tapi Jack tidak peduli. Dia memilih pergi keluar istana meninggalkan dua orang yang teriak kepadanya dengan segala makian dan sumpah serapahnya.


Saat langkah kaki Jack menuju kandang kuda, dia melihat Insana dan Nafata keluar lewat pintu kecil yang ada di belakang istana. Jack ingat, pintu itu juga yang digunakan Jenita saat menemui Nafata di tempat persembunyiannya. Sontak saja, Jack langsung mengikuti kemana mereka pergi.

__ADS_1


Hingga beberapa saat kemudian Jack melihat Nafata dan Insana masuk ke dalam gubug yang sama persis dengan gubug yang dulu digunakan Nafata. Dengan banyak pertanyaan di dalam benaknya, Jack segera mendekati gubug tersebut.


"Sudah aku duga, kamu pasti bersembunyi disini," ucap Nafata yang cukup mengagetkan bagi gadis yang sedang menikmati buah hasil buruannya.


"Eh, Nafata, Insana!" pekik Jenita tanpak sedikit gugup.


"Kenapa Ratu Jenita semalam tidak pulang? Kami semua khawatir mencari Ratu," ucap Insana dengan wajah sendunya. Mereka lantas duduk diatas tikar yang sama dengan Jenita.


"Tidak perlu khawatir, sekarang kalian tahu saya ada disini bukan?" balas Jenita berusaha tenang meski hatinya merasa getir.


"Pulanglah, Ratu. Kami semua mengkhawatirkanmu," pinta Nafata.


Jenita tersenyum kecut. "Tidak. Mungkin memang sudah saatnya aku harus mengembalikan kerajaan itu pada kamu, Nafata. Aku akan tetap disini."


"Apa maksudmu?" tanya Nafata.


Jenita kembali tersenyum dan kali ini senyumannya lebih lebar. "Aku hanya ingin bebas, Putri. Bebas dari semua masalah yang ada. Masalah kerajaan, masalah Ayahku. Jujur aku lelah. Aku merasa apa yang aku lakukan dan usahakan tidak ada artinya. Bahkan kamu tahu, Nafata, tidak ada orang yang menginginkanku. Bahkan ayah aku sendiri."


Insana dan Nafata tentu saja kaget mendengar pengakuan Jenita. Begitu juga dengan Jack yang mendengar pembicaraan mereka dari balik dinding bambu.


"Apa ini ada hubungannya dengan sikap Jack kepadamu semalam?" pertanyaan Nafata cukup mengagetkan Jeniita, tapi wanita itu berusaha menyembunyikan keterkejuttannya dengan kembali menampilkan senyumnya.


"Tuan Jack? Tidak," kilah Jenita dengan diiringi senyum lebarnya. "Tentu saja tidak ada hubungannya dengan dia."


"Jangan bohong!" cecar Nafata.


"Siapa yang bohong, Nafata? Bahkan semalam kami sudah baikkan saat kami bertemu di kandang kuda."


Deg!

__ADS_1


Jack tertegun mendengarnya. Bagaimana mungkin Jenita malah berbohong dan menutupi sikapnya yang mengabaikan Jenita? Dada Jack bergemuruh saat itu juga. Sesal kembali menelusup di hatinya.


@@@@@


__ADS_2