
Nafata memetik buah seperti buah rambutan tapi bentuknya lebih kecil, seukuran buah kelengkeng dan menyerahkannya kepada Rahul.
"Makanlah!"
Rahul yang merasa heran tentu saja menerima buah itu, mengupas kulitnya dan memakan isinya. Saat biji dari buah itu terlihat, mata Rahul sontak membelalak.
"Ini ...."
"Apa?" tanya Jack dengan wajah heran menatap Rahul. Sedangkan Nafata malah tersenyum dan senyuman Nafata tentu saja membuat kelima orang lainnya penasaran.
"Apaan sih, Hul?" desak Nikki yang menjadi semakin penasaran dengan yang apa yang Rahul lihat di tangannya.
Dengan tangan bergetar, Rahul menunjukkan biji buah yang baru saja dia makan. "Be-berlian."
"Apa!" pekik semuanya dan mereka mengerumuni Rahul dan memastikan apa yang dikatakan pemuuda itu.
"Wah! Benar, ini berlian!" seru Jack dan mereka secara bergantian memegang dan melihatnya. "Putri Nafata, ini beneran berlian?"
Nafata sontak tersenyum. "Ya benar. Itu adalah berlian."
"Wow! Keren!" seru para pria. Para wanita juga tak kalah terkejutnya. "Jadi buah ini menghasilkan biji berlian?" tanya Jack lagi.
"Ya, seperti yang kalian lihat. Ambillah buah yang kulitnya berwarna sangat merah. Selain yang merah, jangan kalian petik. Karena prosesnya belum sempurna jadi belum ada biji berliannya," balas Nafata. "Ambillah secukupnya saja.
"Siap, Putri," jawab ketiga pria dan mereka segera menyebar mencari buah yang sama dengan kulit berwarna merah sesuai apa yang dikatakan Nafata. Setelah merasa cukup banyak, mereka duduk di atas rumput di bawah pohon besar dan rindang yang ada di sana. Lantas mereka segera menikmati buah yang baru saja dipetik.
__ADS_1
"Gila! Bener benar berlian semua!" seru Rahul.
"Kita jadi sultan gaes!" Jack ikutan berseru.
"Di dunia kita, jual satu butir berlian, kira kira laku berapa ya?" Nikki bertanya.
"Yang jelas laku mahal dan uangnya bisa kita gunakan bertahun tahun tanpa kita kerja," Rahul menimpali.
"Mantap!"
Nafata hanya tersenyum melihat tingkah tiga pemuda itu. Sedangkan Insana dan Jenita, meski terlihat senang tapi tak seantusias para laki laki. Mereka lebih tenang dalam menunjukkan rasa kagumnya.
"Putri Nafata, apa hartanya hanya ada ini saja?" tanya Rahul.
"Mending kita makan bekal.yang kita bawa sekalian isitahat disini," usul Nikki. Dan semuanya nampak setuju. Para laki laki langsung mengambil bekal yang masih berada pada punggung kuda, lalu mereka menikmati hidangan bersama sama. Beberap biji butir berlian mereka taruh pada kantung kulit yang memang sudah mereka siapkan untuk membawa pulang beberapa harta.
Setelah cukup lama mereka istirahat dan menghabiskan hidangannya, ke enam orang itu segera bangkit untuk melanjutkan perjalanannya. Mereka mulai menyusuri jalan di tapi sungia. Hingga beberapa puluh meter kaki melangkah, mereka berhenti di depan sebuah gua.
"Kudanya kita tinggal disini saja, Karena masuk ke sana jalannya agak susah," ucap Nafata.
"Oke!"
Tiga kuda terpaksa mereka ikat pada pohon yang ada disana. Dengan menggunakann obor yang tersedia di sana, mereka mulai memasuki gua tersebut.
"Nenek moyang orang pulau ini pasti sangat cerdas dan pejuang keras dulunya, mereka mau susah susah melewati jalan seperti ini untuk menyembunyikan harta mereka," ucap Nikki sambil mempethatikan jalan hang lumayan terjang.
__ADS_1
"Wajar sih, kalau mereka menyembunyikan tempat ini. Lihat pohon tadi. Itu aja sangat istimewa," Jack menimpali. "Hati hati, sayang," sambung pria itu menggenggam erat lengan wanitanya.
"Pasti ayahnya Insana juga termasuk orang yang hebat itu, karena dia bisa menghasilkan benih secantik Insana," gombal Rahul dengan tangan terus memegangi lengan wanita yang dia gombali.
"Cihh, dasar. Playboy kardus," ejek Nikki.
"Haah! Aku jujur tahu, Nik."
"Iya. Iya percaya."
Meski terdengar sedikit perdebatan, ketiga pria itu malah tertawa bersama pada akhirnya. Sedangkan ketiga wanita menatap para lelakinya dengan penuh tanda tanya.
Hingga beberapa saat kemudian.
"Waaahh!" semua mata yang ada di sana berbinar begitu mereka melhat apa yang ada di depan mata mereka. "Benar benar harta karun ini!" seru Rahul sambil mendekat ke arah tumpukan emas, berlian dan mutiara yang begitu banyak.
"Sekarang aku percaya, alasan kenapa pulau ini banyak yang mengincarnya," ucap Jack.
Nafata sontak tersenyum. "Ambilah secukupnya, tapi jangan sentuh tiga mahkota itu jika kalian ingin selamat."
Semua mata memandang pada tiga mahkota yang menempel pada dinding tanah. Mereka tahu maksud Nafata dan mereka mematuhinya. Disaat mereka asyik mengambil koin emas, tiba tiba Rahul menemukan sesuatu.
"Loh! Ini kan ..."
...@@@@@...
__ADS_1