
"Lapor, Ratu!"
"Ada apa?" tanya Jenita.
"Pasukan Raja Roma terlihat berdatangan dalam jumlah besar."
Raja Roma langsung menyeringai. "Perang yang sebenarnya, baru akan dimulai, Tuan. Hahaha ..."
Jack menoleh ke arah Raja Roma. Memandang sinis Raja yang sedang terkapar, lalu kembali menatap prajurit yang datang melapor. "Baiklah, beri kode ke yang lain sesuai yang kita rencanakan."
"Baik, Tuan!"
Senyum Raja Roma perlahan memudar mendengar perintah Jack yang baru saja terlontar. Sedangkan Jack kembali memandang sinis dengan ujung pedang yang masih mengacung kepada Raja Roma.
"Rupanya anda sudah mempersiapkan segalanya," ucap Raja Roma sedikit meremehkan.
"Apa salahnya bukan berjaga dari manusia pengecut, dan terbukti dengan liciknya anda akan menyerang kami," jawab Jack lalu memandang ke arah prajurit. "Ikat semuanya! Cepat!"
"Siap, Tuan!"
Semua prajurit wanita dengan sigap mengikat semua anak buah Raja Roma termasuk Jenderal, Ajudan dan Raja Roma sendiri.
__ADS_1
"Lihat saja, sebentar lagi kalian yang akan saya hancurkan!" ancam Raja Roma dengan tangan dan kaki yang sudah terikat erat.
"Saya tunggu, Yang mulia," balas Jack dengan santainya hingga membuat Raja Roma semakin geram.
Sementara itu, tanda adanya kedatangan musuh sudah mulai dibunyikan. Semua penduduk langsung mempersiapkan diri dengan senjata yang mereka miliki. Sedangkan Nikki, Rahul, Nafata dan Insana, telah memantau kedatangan musuh dari sebuah bukit di tepi pantai.
Mereka tidak hanya berempat, tapi ada satu lagi manusia bersama mereka. Tapi dia bukan manusia biasa. Dia adalah Naga Jantan yang sudah dihubungi Nikki dan Rahul. Dengan senang hati Naga menerima tawaran itu dan langsung ikut turun tangan membantu Jack dan pasukannya.
Selain untuk membantu, Naga jantan juga menggunakan kesempatan ini untuk melampiaskan amarah yang sebenarnya. Karena pasukan Raja Roma lah, istrinya harus menderita selama ini. Karena Raja Roma juga, Naga harus menghukum orang orang yang tidak berdosa.
Seharusnya Naga jantan dari dulu bisa saja langsung menyerang kerajaan yang dipimpin oleh Raja Roma. Tapi dia urung melakukannya karena Batu bercahaya ungu yang tidak kunjung ketemu. Berkat kebaikan Jack dan kawan kawan, akhirnya Naga sadar kalau dia salah melampiaskan dendamnya. Sekarang dia siap bertempur dan membuat jera pasukan Raja yang angkuh tersebut.
"Apakah saya bisa menyerang sekarang?" tanya Naga jantan yang sudah tidak sabar.
"Baiklah," seketika Naga langsung berubah ke wujud aslinya yang terlihat menyeramkan. Dengan kepakan sayapnya, dia langsung menuju kapal kapal besar milik pasukan Raja Roma yang mulai terlihat berdatangan. Naga jantan memang bertugas menghancurkan kapal besar, sedangkan kapal kecil menjadi bagian pasukan kerajaan Kagomara.
"Apa itu!" seru panglima pasukan saat melihat sesaatu terbang mendekat.
"Sial! Itu Naga!" teriak Penasehat kerajaan. "Persiapkan penyerangan!"
"Siap!"
__ADS_1
Masing masing pemimpin langsung memberi aba aba, terutama pasukan memanah. Mereka siap dengan segala busur dan anak panah mereka.
"Serang!" teriak panglima perang begitu Naga mendekat. Seketika puluhan anak panah langsung berhamburan di angkasa menuju ke arah Naga Jantan.
Naga Jantan yang menyadari adanya serangan, langsung mengepakkan sayapnya menuju angkasa yang lebih tinggi. Setelah mencapai ketinggian tertentu, Naga berhenti lalu berbalik arah, terbang menukik menuju kapal dengan semburan api yang sangat besar.
"Haaaaaaaaaahhh!"
"Awas! Api!" Prajurit Raja Roma yang berada di kapal besar langsung terjun ke tangah laut menghindari kobaran api yang sangat besar. Satu kapal besar sukses terbakar. Naga kembali melakukan hal yang sama hingga pasukan Raja Roma kalang kabut karena kapal kapal besar mereka banyak yang terbakar termasuk kuda dan persenjataan mereka. Api Naga juga memercik ke kapal kecil yang berisi pasukan sekitar sepuluh prajurit tiap kapalnya dan mau tidak mau mereka harus melompat dan berenang menuju pantai.
Sayang sekali dipantai mereka juga disambut oleh pasukan kerajaan kagomara yang di pimpin oleh Nikki dan Rahul.
"Siapkan senjata kalian!" teriak Rahul dan Nikki hampir bersamaan. "Serang!"
Dengan sangat terpaksa pasukan Raja Roma yang kelelahan karena habis berenang, langsung melawan pasukan Kagomara dengan tangan kosong. Dibantu serangan api dari naga, semakin membuat pasukan Raja Roma kalang kabut.
Sementara itu di tempat lain, Raja Damendra malah asyik berdiam diri di pulau kekuasaan Raja Roma. Tanpa tahu apa yang terjadi sebenarnya, Raja Damendra malah memikirkan hal yang indah indah saat ini. Dia sengaja tidak pulang demi menunggu kabar yang dia yakini akan menjadi kabar baik bagi dirinya.
"Aku sudah tidak sabar, melihat kekalahan pada Tuan yang sombong itu, Yang Mulia."
"Hahaha ... sama, Ratu. Aku pun merasakan hal yang sama seperti kamu. Maka itu mending kita tetap disini, menunggu kabar baik itu datang."
__ADS_1
"Baik, Yang mulia."
...@@@@@@...