
"Sebaiknya kita juga melaksanakan ritual seperti mereka, apa kamu mau?"
Nafata menganguk pelan. "Mau, Tuan."
Nikki kembali tersenyum. "Baiklah, kita mulai sekarang, kamu diam saja ya?"
Nafata mengangguk. Nikki memandang sejenak wajah cantik Nafata, lalu kepala Nikki bergerak maju dan bibirnya dia tempelkan ke bibir Nafata. Ritual nikmat pun di mulai.
Nafata yang memang tidak berpengalaman dalam menghadapi pria yang sedang berhasrat tinggi, hanya diam tanpa melakukan perlawan. Tapi saat bibir Nikki bergerak menikmati bibirnya, ada perasaan nikmat yang tak terkira yang dia rasakan, hingga tanpa sadar Nafata perlahan ikut menggerakan bibirnya dan meniru apa yang Nikki lakukan.
"Kamu bisa ciuman?" tanya Nikki begitu bibir mereka terlepas.
"Aku hanya mengikuti gerakan bibir Tuan Nikki, salah ya?" tanya Nafata merasa tidak enak karena tiba tiba Nikki melepaskan bibirnya.
"Tidak salah, Sayang. Itu malah bagus. Sekarang lagi ya?" jawab Nikki, dan jawabannya membuat Nafata senang. Dengan semangat diapun mengangguk. Nikki kembali menempelkan bibirnya.
Awalnya gerakan bibir mereka bergerak pelan, tapi karena hasrat yang semakin meninggi, mereka mempercepat permainan bibirnya. Bahkan Nikki mulai melucuti pakaian Nafata hingga wanita itu merasa kaget.
"Ritualnya sambil buka baju?" tanya Nafata yang tak menolak tangan Nikki membuka baju yang dia pakai.
__ADS_1
"Iya, tenang saja. Aku akan bikin kamu bahagia, Putriku sayang," jawab Nikki dengan senyum yang teramat manis hingga Nafata luluh. Begitu selesau melepas bagu Nafata, sekarang giliran Nikki melepas bajunya sendiri.
Kini tubuh keduanya sudah tidak memakai apa apa. Nikki kembali menempelkan bibirnya pada bibir Nafata. Sambil melakukan perang bibir, Nikki perlahan merebahkan tubuh Nafata di atas ranjang. Setelah tubuh Nafata terbaring, bibir Nikki langsung menjelajah ke sisi tubuh lainnnya. Tangan Nikki pun mulai bergerilya menyentuh apa saja yang dilewati.
Nafata mulai merintih merasakan nikmat yang luar biasa, saat bibir mulut dan tangan Nikki mulai memainkan bukit kembarnya. Bahkan tubuh Nafata juga mulai menggeliat tak beraturan saat jari jari Nikki bermain di gundukan daging terbelah miliknya.
Nikki sadar, Nafata belum banyak pengalaman soal hubungan ranjang. Makanya kali ini Nikki yang lebih aktif. Biasanya, saat sedang berhubungan, Nikki akan menikmati lubang milik wanita dengan mulutnya terlebih dahulu. Berhubung lubang Nafata sedang ada masalah Nikki pun melwatinya.
Nikki juga biasanya minta pada lawan mainnya, untuk memainkan miliknya dengan mulut, tapi tidak untuk kali ini. Setelah percumbuan dirasa cukup, Nikki bersiap akan memasukan benda miliknya yang sudah tegang dan mengeluarkan setetes cairan bening.
"Tuan! Tuan mau ngapain?" tanya Nafata kaget sambil menutup lubang nikmatnya dengan tangan.
"Tidak, Tuan, tidak! Aku tidak mau Tuan meregang nyawa, aku tidak mau!"
Nikki mengulas senyum lalu mencondongkan badannnya di atas tubuh Nafata hingga wajah mereka berhadapan sangat dekat. "Percaya sama aku. Pasti semua akan baik baik saja. Kamu bakalan bebas dari kutukan Naga."
"Tapi aku takut," rengek Nafata.
"Tidak perlu takut, semua pasti akan baik baik saja, oke!"
__ADS_1
Dengan sangat terpaksa Nafata akhirnya menuruti kemauan Nikki. Pria itu kembali berlutut diantara dua kaki Nikki yang dia bentangkan. Nikki pun melepaskan tangan Nafata yang menutupi lubangnya.
Di satu sisi, hasrat Nikki udah sangat tinggi. Apalagi ini pertama kalinya dia mendapatkan wanita yang masih segel. Nikki pasti sangat senang. Namun di sisi yang lain, Nikki juga merasa takut. Nikki takut ramuan yang Jack berikan akan gagal. Meski jika gagal akan ada jaminan dibantu Naga, tapi tetap saja, rasa takut itu ada.
Dengan tekad yang kuat dan keyakinan yang tinggi, Nikki segera mengarahkan benda menegang di bawah perutnya ke dalam lubang yang masih sangat sempit milik Nafata.
Digesek gesekkannya benda menegang itu di bibir lubang sebelum masuk. Setelah beberapa lama kemudian dan merasa cukup, benda menegang mulai mencoba masuk.
"Akhh ..." rintih Nafata kesakitan.
"Tahan, Sayang." Nikki terus mencob menerobos masuk dengan susah payah. Hati keduanya berdebar tak karuan.
Tak butuh waktu lama, kini Nikki merasakan benda menegangnya seperti menyentuh sesuatu seperti dinding penghalang. Nikki terdiam sejenak sambil menghirup nafasa dalam dalam dan menghembuskannya. Dia bersiap diri untuk menghentakan pinggangnya dengan keras.
Satu, dua, tiga!
Jleb!
"Aaaakh! Tidak!"
__ADS_1
...@@@@@...