NEGERI SEJUTA PERAWAN

NEGERI SEJUTA PERAWAN
Jack Kesal


__ADS_3

"Yang mulia! Yang mulia!"


"Ada apa, Ratu Amuba? Kenapa berteriak?"


"Ada kabar bagus, Yang Mulia."


"Kabar apa?"


"Orang suruhan kita telah berhasil menyingkirkan pria asing itu!"


"Maskudnya?"


Merasa kesal karena Raja Damendra kurang tanggap dalam mencerna ucapannya, Ratu Amuba lantas menceritakan apa yang dia dapatkan dari laporan dua wanita yang disuruh Amuba untuk menyingkirkan Jack.


"Benarkah?" tanya Raja Damendra dan Ratu amuba langsung mengangguk. "Bagus, besok kita kesana untuk melihat keadaan dan pura pura ikut berduka."


"Dengan senang hati, Yang mulia," ucap Ratu Amuba dengan senyum yang lumayan lebar. Dia tidak menyangka kalau rencananya akan berjalan dengan sangat lancar. Rencana yang sama yang Amuba gunakan untuk menghilangkan Ibunya Jenita.


Dulu Amuba juga mengolesi benda yang bisa menyentuh bibir sang Ratu dengan cairan racun. Karena cara seperti itulah semua orang mengira kematian sang Ratu karena tersedak makanan. Apa lagi makanan yang dinikmati Ratu waktu itu sama dengan makanan yang dinikmati Raja dan yang lainnya.


Raja Damendra juga awalnya tidak menyangka kalau ibunya Jenita mati karena racun dari Amuba. Raja Damendra baru mengetahui setelah pernikahannya bersama Amuba berjalan selama dua tahun. Dia mendengar dari pengakuan Amuba sendiri di saat hubungan mereka sedang genting. Sejak itulah, Raja Damendra selalu dikendalilan hidupnya oleh Ratu Amuba.

__ADS_1


Di kerajaan Kagomara sendiri, setelah melakukan sandiwara, Jack dan Jenita memilih membersihkan tubuhnya dengan berendam air hangat. Mereka berdua saling menggosokkan badan satu sama lain secara bergantian. Setelah selesai mereka duduk dengan Jenita bersandar di dada Jack. Seperti biasa, tangan Jack selalu bergerilya menjelajahi tubuh Jenita.


"Kenapa kamu tidak memaafkan Ratu Amuba saja, Tuan Jack? Bukankah itu lebih bagus?" tanya Jenita yang selalu pasrah setiap tubuhnya disentuh oleh pemuda di belakangnya.


"Nggak akan pernah, Sayang. Aku ingin dia tersiksa di dalam hidupnya agar Ratu Amuba menyadari semua dosa dosa yang pernah dia lakukan."


"Tapi, apa nggak kasihan? Jika memberi pelajaran pada wanita yang sudah tua?"


"Kasian? Kamu kasihan sama Ratu Amuba? Ya udah kamu lindungi dia saja."


"Maksud aku bukan begitu, aku ..."


"Udahlah, mending aku diam. Berbuat sesuatu untuk membalas kematian ibu kamu, ternyata salah. Terserah kamulah, aku nggak akan berbuat apa apa lagi untuk Istana ini."


Jenita terkejut bukan main. Maksud hati ingin agar Jack tidak membalas perbuatann Ratu Amuba secara kejam, tapi malah Jack menganggap Jenita tidak menyukai rencana Jack. Jack memilih bangkit dari kolam dan naik ke permukaan lalu mengambill kain untuk mengeringkan badan sembari berlalu meninggalkan Jenita yang mematung memandangi kepergian Jack.


Jenita menghela nafasnya dalam dalam lalu dia segera naik ke permukaan. Setelah mengeringkan badannya, Jenita melangkah menuju ranjang. Keningnya berkerut karena Jack tidak ada di atas ranjang. Jenita mengira kalau Jack pasti bersama Nikki dan Rahul. Jenita pun membiarkannya saja. Jenita memilih berdiam diri di dalam kamar dan menunggu Jack kembali.


Tapi hingga larut malam menjelang, Jenita merasa gelisah. Jack belum kembali ke kamarnya sejak tadi. Jenita mendadak khawatir dan dia segera saja keluar kamar untuk menemui Jack di bangunan belakang istana.


"Loh, bukanlah Jack sedari tadi tidak keluar? Kirain dia di kamar Ratu?" ucap Rahul saat Jenita bertanya padanya.

__ADS_1


"Sedari tadi tidak keluar? Mana mungkin?" tanya Jenita merasa tidak percaya dengan jawaban Rahul.


"Ya ampun, Ratu! Masa aku bohong? Orang sedari tadi aku dan Insana juga bercinta terus, nggak keluar kamar sama sekali. Tanya aja Insana kalau Ratu nggak percaya."


"Apa yang Tuan Rahul katakan itu benar, Ratu. Kami sama sekali belum ketemu dengan Tuan Jack," Insana pun ikut membuka suara dan ucapannya sangat mengejutkan bagi Jenita.


"Lalu, Tuan Jack kemana?" tanya Jenita dengan wajah frustasi.


"Tadi terakhir bersama Ratu, emang Jack tidak bilang keluar kamar mau kemana?" tanya Rahul.


"Tidak, dia keluar dalam keadaan marah," jawab Jenita.


"Apa!" Rahul terkejut. "Bagaimana bisa Jack marah?" Ratu lantas menceritakan tentang apa yang mereka bahasa saat lagi mandi. "Astaga! Ya pantas kalau dia marah, pasti dia merasa usahanya tidak dihargai."


"Bukannya aku tidak menghargai, Tuan Rahul. Aku hanya ingin agar Tuan Jack jangan terlalu kejam. Gitu aja."


"Terus, Ratu lebih memilih Ratu Amuba yang kejam gitu?" tanya Insana.


"Bukan begitu, aku hanya ... akh!"


"Wajarlah Jack bersikap seperti itu. Dia melakukan segalanya dengan sepenuh hati untuk Ratu, tapi Ratu sendiri yang mematahkan semangatnya. Kalau sudah begini, kita bisa apa?"

__ADS_1


...@@@@@@...


__ADS_2