NEGERI SEJUTA PERAWAN

NEGERI SEJUTA PERAWAN
Penuh Basa Basi


__ADS_3

"Selamat datang yang mulia Raja Roma, selamat datang di istana kami, Kagomara," ucap Jenita dengan menunjukkan wajah seceria mungkin dan sikap sewajar mungkin untuk menutupi keresahan hatinya. Tidak dipungkiri, rasa gugup itu semakin mendera dalam diri Jenita. Meski dia ditemani sang ajudan dan petinggi kerajaan lainnya, tapi mereka tidak mampu menyembunyikan rasa gugupnya.


"Teriama kasih, Ratu Jenita. Terima kasih telah menyambut kedangan saya dan orang orang saya dengan sangat baik," balas Raja Roma, dengan menunjukkan senyum lebarnya. Tentu saja Raja Roma sangat senang karena di sambut wanita secantik Jenita. "Lama tidak berjumpa dengan anda, ternyata anda sudah sangat dewasa, Ratu Jenita. Dan tentunya anda terlihat semakin cantik saja."


"Anda bisa saja, Yang mulia," balas Jenita dengan senyum yang cukup lebar karena pujian dari Raja Roma. Tanpa mereka sadari, ada pria yang merasa kesal dan mengepalkan tangannya seketika mendengar rayuan yang dilontarkan Raja Roma.


"Loh? Tanya saja sama yang lainnya," balas Raja Roma lalu dia berpaling kepada para pengikutnya. "Benarkan apa yang aku bilang? Kalau Ratu Jenita semakin cantik?"


"Benar, Ratu Jenita. Anda terlihat semakin cantik saat ini," puji Jenderal yang datang bersama Raja Roma. Rombongan yang lainya pun mengeluarkan pujian yang sama.


"Nah, benar kan apa yang saya bilang," ucap Raja Roma sumringah.


"Hahaha ... terima kasih atas pujiannya, terima kasih," balas Jenita ramah. Dia seakan lupa kalau Jack sedang mengawasi dari trmpat persembuyian. "Maaf, Yang mulia Raja Roma, kalau boleh tahu. Ada hal apa gerangan sampai anda menyempatkan diri, datang ke istana saya ini?" tanya Jenita para akhirnya setelah tadi berbasa basi sejenak untuk mencairkan suasana.

__ADS_1


Senyum lebar yang ditunnjukan Raja Roma lama kelamaan makin surut. "Ya semua ini karena berita yang menyebar hingga sampai ke telinga saya. Kabar kedatangan para pria ke pulau ini, tentu saja membuat saya merasa penasaran dan ingin tahu ada apa gerangan dengan istana ini? Sepertinya istana ini mendapat anugerah yang istimewa dari Dewa, apa benar, Yang mulia Ratu Jenita?"


"Hahaha ..." Ratu Jenita sontak tertawa renyah. "Yah ... mungkin saja ini bisa dikatakan anugerah dari dewa, Raja Roma. Bisa saja dikatakan mungkin ini sudah saatnya bagi kami, kaum wanita, untuk meraih kebahagiaan yang selama ini kami impikan, Yang mulia."


Raja Roma nampak manggut manggut beberapa kali. "Benar, pada hakikatnya, para wanita memang membutuhkan pria sebagai pelengkap hidup mereka. Begitu juga sabaliknya, pria juga membutuhkan keberadaan seorang wanita."


"Ya, memang seperti itulah seharusnya kehidupan. Saling melengkapi dan membantu agar semuanya berjalan dengan baik. Bukan saling menyerang demi sebuah ambisi untuk menguasai hingga mengusik ketenangan hidup manusia lainnya."


Deg!


"Tentu saja ada," balas Jenita dengan santai juga. Dia tidak ingin menunjukan rasa kesalnya. "Mungkin saja orang itu ada disekitar kita."


"Hahaha ..." Raja Roma sontak tergelak. Dia tidak menyangka kalau wanita yang ada dihadapannya berani menyindir dirinya. Sementara yang lain malah merasa tegang oleh obrolan yang terjadi antara dua orang yang memiliki kedudukan paling tinggi di istananya masing masing.

__ADS_1


"Lalu, darimana datangnya anugerah yang menimpa para wanita itu? Tentunya bukan dewa sendiri yang turun tangan, bukan?" sambung Raja Roma. Selain untuk mengalihkan pembicaraan, Raja Roma juga sudah tidak sabar ingin melihat pria yang katanya sangat istimewa di kerajaan Kagomara ini.


"Tentu saja, Mana mungkin dewa yang akan turun tangan secara langsung," balas Jenita. "Apa hal ini yang menyebabkan anda datang ke istana kami? Hanya karena ingin mengetahui seseorang yang membuat kerajaan kami berubah, anda rela datang kemari?"


Lagi lagi Raja Roma dibuat terkesiap dengan sikap dan pertanyaan yang Jenita tunjukkan. Meski tenang tapi ucapan Jenita cukup monohok bagi seorang Raja tersebut.


"Ya ... saya memang tidak bisa berbohong. Saya memang penasaran dengan orang yang berpengaruh besar pada kerajaan ini. Kalau memang berkenan, apa boleh saya menemui orang tersebut?"


Jenita tersenyum tipis. Dia sudah menduga kalau hal inilah yang dinginkan Raja Roma. Raja Roma sudah pasti tidak akan pernah suka jika ada orang hebat selain dirinya.


"Apa yang akan anda lakukan jika bertemu dengan dia?"


"Tentu saja, saya ..." ucapan Raja seketika terpotong saat sebuah suara tiba tiba menggelegar dengan lantang di ruang tersebut, membuat semua yang ada di sana nampak begitu terkejut.

__ADS_1


"Apa Ratu memanggil saya?"


...@@@@@...


__ADS_2