NEGERI SEJUTA PERAWAN

NEGERI SEJUTA PERAWAN
Meluluhkan Wanita


__ADS_3

Di dalam kamar, saat Nafata berdiri dari duduknya dan melepas baju karena ingin mandi, tanpa Nafata ketahui, pintu kamarnya ada yang membuka pelan pelan. Lalu seseorang masuk ke dalam kamar Nafata dan melangkah pelan menuju ke arah Nafata berdiri memunggunginya.


Grep!


Nafata tersentak karena ada tangan yang tiba tiba melingkar di tubuhnya. Seketika Nafata langsung menoleh.


"Tuan! Apa yang Tuan lakukan?" pekik Nafata.


"Memelukmu," ucap orang itu yang ternyata adalah Nikki.


"Lepas! Sana keluar! Kasihan para pelayan itu, tolongin," ucap Nafata langsung memasang wajah ketus.


"Tidak mau," tolak Nikki sambil menaruh dagunya di atas pundak kanan Nafata.


"Kenapa tidak mau menolong? Apa Tuan tidak kasihan? Mereka kan dihukum demi menyenangkan hati Tuan," sindir Nafata.


"Harusnya yang di hukum itu aku, bukan mereka. Gara gara aku mereka jadi melalaikan pekerjaan mereka," ucap Nikki dengan memasang wajah sendu meski Nafata tidak bisa melihatnya.


"Ya maka itu, kalau Tuan peduli, lindungi mereka. Seperi saat Tuan melindungi saya."


Nikki tak ingin menjawabnya. Dia memilih diam. Kalau diladeni yang ada malah tejadi perdebatan. Nikki menegakkan badannya, melepas lingkaran tangan di pinggang Nafata, lalu memutar tubuh tanpa busana milik wanita itu dan memasukkannya ke dalam pelukan.


Diam diam Nafata mengulas senyum, tapi dia sengaja tidak memeluk balik Nikki agar pria itu semakin merasa bersalah. Hatinya bersorak. Setidaknya Nafata berhasil membuat pria yang sedang memeluknya menyesal karena mengabaikannya tadi siang.

__ADS_1


"Kenapa tadi menghilang begitu saja? Kalau terjadi apa apa sama kamu gimana?" tanya Nikki beberapa saat kemudian. Nikki berusaha mencari pembahasan lain agar tidak dipojokan terus.


"Siapa yang menghilang? Aku cuma pergi menengok makam orang tuaku," bantah Nafata.


"Ya setidaknya nunggu aku datang, biar aku temenin."


"Apa Tuan lupa? Aku sudah nungguin Tuan sedari pagi, terus Tuan menyuruh aku nungguin lagi di saat Tuan sedang bermesraan dengan para pelayan, gitu?"


"Duh! Salah ngomong," rutuk Nikki lirih tapi masih bisa di dengar oleh Nafata.


"Tuan tidak salah ngomong. Tapi kenyataannya memang seperti itu kan? Tuan lupa sama orang yang lagi nungguin. Di saat aku sedang khawatir, tuan malah sedang berbahagia. Jadi kenapa Tuan mengkhawatirkan saya?"


Wajah Nikki kembali nampak frustasi. Berdebat dengan wanita memang tidak akan pernah menang. Apa lagi posisi Nikki sebagai pria yang salah. Ya sudah jadi sasaran empuk untuk wanita menyalahkannya.


"Iya, iya, maaf. Aku kan sudah minta maaf. Masa tidak mau dimaafin?" kini Nikki merengek.


"Maaf, udah bikin kamu kecewa, udah buat kamu nungguin terlalu lama. Tidak ada niat aku untuk melupakan Putri."


"Benarkah?" Nikki mengiyakan dengan antusias. "Tapi tadi pas bercanda dengan para pelayan, sepertinya Tuan lupa sama aku!"


"Haduh! Kena lagi. Kalau begini terus lebih baik aku ..." Nikki sengaja menggantung ucapanya dan melepas pelukannya.


"Lebih baik apa?" Nafata pun otomatis penasaran.

__ADS_1


Bukannya menjawab, Nikki langsung membungkuk dan merengkuh tubuh Nafata serta membopongnya lalu tubuh Nafata, dia baringkan di atas ranjang dan Nikki langsung mengungkung tubuh polos wanita itu.


"Tuan, mau ngapain?" tanya Nafata sedikit panik.


"Mau makan kamu," jawab Nikki.


"Tapi ..." belum selesai Nafata melayangkan protes, bibirnya langsung saja dimakan dan dimainkan oleh bibir Nikki sampai Nafata gelagapan. Bahkan dengan beringasnya, Nikki terus menghujani wajah, leher dan dada Nafata dengan ciuman bertubi tubi.


Nafata yang awalnya sempat berontak lama kelamaan dia pasrah saja juga. Suara rintihan kenikmatannya pun mulai keluar saat tangan Nikki mulai bergerilya mengusap belahan daging terbelah di bawah perut Nafata.


"Akhh ..."


Sementara itu di dalam kamar utama istana. Jenita juga sedang mengalami perlakuan yang sama seperti yang sedang dirasakan Nafata. Tentu saja hanya Jack yang berani melakukan hal itu.


Jack juga diam diam masuk ke kamar Jenita. Meski terjadi perbebatan juga, pada akhirnya, Jenita luluh saat tubuhnya mulai merasakan nikmat akibat perlakuan Jack yang sangat ganas.


"Bagaimana, Sayang? Enak?" bisik Jack saat benda menegangnya sudah mulai dia sodokkan ke dalam lubang nikmat Jenita yang masih sempit.


"Nikmat sekali, Tuan, akhh ..." balas Jenita dengan suara berat dan terbata serta nafas yang terengah engah.


"Sesuai janjiku tadi pagi, aku akan membuat kamu merasa puas sepanjang malam ini."


Jleb!

__ADS_1


"Akhh ..."


...@@@@@...


__ADS_2