
Angin malam berhembus begitu lembut. Menggoyangkan daun daun kecil hingga ada beberapa helai yang berguguran. Bulan dan taburan bintang di langit pun nampak begitu asyik berdampingan. Memberi warna indah dalam untaian malam yang terasa sepi.
Di dalam kamar sebuah rumah. Yang berdiri tepat di belakang istana yang megah, seorang pria nampak sedang berdiam diri dengan mata fokus menatap tiga buah pecahan batu di hadapannya. Pikiran pria itu menerawang, mencari jalan untuk memecahkan sebuah misteri dari sebongkah batu yang bisa mengeliuarkan cahaya indah.
Tok! Tok! Tok!
Suara ketukan pintu kamar yang menggema, terdengar dari dalam kamar pria itu. Tapi sepertinya pria itu tidak peduli. Dia tetap fokus dengan apa yang ada di hadapannya serta fokus dengan apa yang ada di dalam pikirannya.
Tok! Tok! Tok!
Kembali terdengar suara ketukan pintu yang kedua. Pria itu masih tak mau bergerak, meski konsentrasinya sedikit terganggu.
Tok! Tok! Tok!
Pria itu menyerah. Dia mendengus kesal, lalu bangkit dari tempat duduknya sambil menggerutu.
"Lama amat buka pintunya?" protes salah pria berwajah keturunan india sambil memasuki kamar tersebut. "Lagi ngapain sih? Ngocok yah?"
"Enak aja," bantah pria bernama Jack. "Aku lagi fokus mikirin batu ini."
Ketiga pemuda itu langsung duduk mengelilingi meja dimana batu berwarna ungu yang terbelah menjadi tiga bagian berada.
"Apa benar benar tidak ada petunjuk sama sekali?" tanya pria lain bernama Nikki.
__ADS_1
"Benar benar jalan buntu. Aku teliti tiap bagian juga, benar benar tidak ada petunjuk satupun."
Ketiga pemuda itu sontak menghembus kasar nafas mereka secara hampir bersamaan. Untuk sementara ketiganya terdiam dengan pikiran berkelana dan mata yang menatap ke arah yang sama.
"Kenapa kita yang jadi mikir keras begini sih?" sungut Rahul setelah mengacak rambutnya karena frustasi. "Percuma kalau kita mikir keras kalau ujung ujungnya tetap buntu, tidak ada pencerahan sama sekali."
"Tapi kan setidaknya kita berusaha, Hul. Siapa tahu juga dari batu ini, kita menemukan jalan pulang," balas Jack. "Apa kamu betah berada di pulau ini?"
"Hahaha ... nggak juga sih, nggak ada hiburan yang bikin betah. Banyak cewek berbaju tipis tapi nggak bisa kita icipin, percuma," balas pria keturunan india tersebut.
"Nah, tuh tahu. Maka itu, batu ini bisa kita jadikan tameng untuk menjaga kita, sampai kita menemukan jalan pulang."
"Tapi lumayan bikin pusing ya, Jack?" ucap Nikki. "Gila! Kayak lagi mikir cara ngejelasin cewek kalau ketahuan selingkuh."
"Hahaha ... bisa aja kamu, Nik. Tapi masih mending ngejelasin ke cewek sih daripada ini. Otak sampai ngebul."
"Apa yang kamu lakukan?" senyak Nikki hingga Rahul kaget dan tanpa sadar mendorong batu bercahaya ungu hingga batu itu menggelinding dengan cepat jatuh ke lantai.
"Loh, loh, loh! Batunya!"
Kejadian aneh terjadi saat itu juga dimana saat batu itu terjatuh, bentuk batu itu tetap membulat, sama sekali tidak terbelah menjadi tiga bagian. Batu itu semakin menggelinding dengan cepat menuju kolam di dalam kamar yang biasa digunakan buat berendam Jack saat mandi.
Byur!
__ADS_1
Batu bercahaya ungu masuk ke dalam kolam
Ketiga pemuda itu tentu saja mengejarnya dengan penuh tanda tanya di kepala mereka. Bagaimana bisa batu itu menggelinding dengan sangat cepat? Karena saking semangatnya menangkap batu itu, dua diantara tiga pemuda sampai tergelincir masuk ke dalam kolam, menimpa satu pemuda yang sudah masuk ke dalam kolam duluan.
Byur!
"Aduh! Sakit tahu!" seru Rahul yang saat itu terlebih dahulu masuk ke dalam kolam untuk mengambil batu itu.
"Sorry, nggak sengaja, kayak ada yang mendorong tadi," ucap Jack sambil mengusap wajahnya yang basah.
"Benar! Tadi kayak ada yang ngedorong tubuh aku," bela Nikki.
"Halah alasan! Bilang aja kalian sengaja biar aku kelelep!" tuduh Rahul.
"Serius!" balas Nikki.
"Udah nggak perlu berdebat, cepat ambil batunya dan pisahkan kembali," perintah Jack.
Rahul hendak memungut batu itu, namun tiba tiba air yang merendam tubuh mereka berubah menjadi ungu.
Loh, airnya berubah warna!"
"Ah iya, kenapa bisa seperti ini?"
__ADS_1
"Duh, misteri lagi."
...@@@@@...