NEGERI SEJUTA PERAWAN

NEGERI SEJUTA PERAWAN
Nasehat Untuk Jenita


__ADS_3

Di saat Jenita dan Jack sedang asyik berduaan, tiba tiba ada yang mengetuk kamar mereka.


"Ya! Ada apa?"


"Maaf, Ratu. Di luar ada Raja Damendra."


"Apa! Ayah datang lagi?"


"Iya, Ratu. Beliau sedang menunggu."


"Baiklah, nanti aku akan segera keluar."


"Baik, Ratu."


Pelayan itu lantas pergi untuk menyampaikan pesan Ratu kepada Raja Damedra. Sedangkan Ratu sendiri malah terdiam dengan banyak pertanyaan dalam benaknya mengenai kedatangan sang ayah. Sementara itu, Jack masih asyik menyesap dada Jenita yang kiri dan kanan. Dia seakan tak peduli dengan si pemilik dada yang mendadak jadi gelisah.


Aneh, salah satu kata yang pas untuk menunjukan apa yang membuat Jenita gelisah. Dia merasa aneh dengan datangnya Raja Damendra kali ini. Bukankah kemarin dia datang dan katanya ingin menghancurkan kerajaan ini? Tapi kenapa sekarang tidak terdengar tanda tanda penyerangan dari dia? Apa yang sebenarnya terjadi? Ada rencana apa hingga ayah kembali kesini?"


Wajar jika Jenita selalu diliputi rasa curiga terhadap ayahnya. Hal itu disebabkan karena sang ayah selalu datang dengan segala niat buruk dan keegoisannya. Sebenarnya Jenita sendiri sudah muak, tapi dia tertekan dan tidak apa apaa jika ayahnya sudah mulai mengancam.


"Bisa berhenti dulu tidak, Tuan Jack? Di luar ada ayah," pinta Jenita tak lama kemudian.

__ADS_1


Jack melepaskan mulutnya sebentar dari dada Jenita. "Tidak mau, aku belum kenyang dan ini masih enak," ucap Jack dan dia langsung menikmati pucuk pucuk kenyal dari bukit kembar Jenita.


"Ya ampun, Tuan! Ada ayah itu. Nanti dia marah."


Jack kembali melepas dada Jenita lalu dia duduk bersila kaki sembari menatap tajam wanita yang masih terbaring dengan membalas tatapan pria itu.


"Bisa nggak, sekali saja kamu mengabaikan ayah kamu? Bisa nggak sekali kali kamu membiarkan ayah kamu merasa menunggu? Bisa nggak kamu tidak selalu merasa panik jika ayah kamu datang?" Cecar Jack pelan tapi penuh penekanan.


"Tapi nanti dia murka dan rakyatku ..."


"Rakyatmu yang akan menderita? Iya?" Tebak Jack dan Jenita perlahan mengangguk. "Sampai kapan, Ratu Jenita? Sampai kapan kamu harus mengorbankan diri kamu? Kalau ayahmu ingin menyerang kerajaan ini, biarkan saja. Kalaupun dia menang dalam serangn itu, dia dapat apa? Dapat harta? Terus kalau harta di kerajaan ini habis, apa keuntungannya buat dia? Apa?"


Jenita menggeleng pelan sebagai jawajan kalau dia tidak tahu.


"Tapi ..."


"Tapi apa lagi? Mau bertengkar dengan Raja Damendra seperti kemarin, iya? Ya udah sana keluar," usir Jack dan dia segera turun dari ranjang menuju kamar mandi dengan perasaan kesal.


Sedangkan Jenita menatap Nanar kepergian Jack dengan perasaan yang berkecamuk. Apa yang dikatakan Jack memang benar. Jenita harus bisa bersikap tegas dan egois. Bukankah selama ini ayahnya sangat keterlalua?


Merasa tidak enak dengan sikap Jack, Jenita lantas bangkit dan menyusul pria itu. Jack sedang berendam air hangat untuk meredam emosinya yang tadi sempat tersulut sedikit. Jenita yang memang sudah tidak berbusana, langsung saja turun ke dalam kolam.

__ADS_1


Jack tak merespon. Dia tetap dalam keadaan diam. Bahkan saat Jenita menempelkan punggungnya di dada Jack dan menuntun kedua tangan Jack hingga melingkar di pinggangnya, pria itu masih terdiam. Jenita pun tidak mengeluarkan suaranya. Akhirnya mereka hanya saling diam hingga keheningan tercipta.


Sedengkan di Aula kerajaan, Raja Damendra dan Ratu Amuba sudah merasa kesal karena yang ditunggu tak kunjung datang menemui mereka.


"Pelayan!" teriak Raja Damendra.


Pelayan itu segera mendekat. "Iya, Yang Mulia. Ada apa?"


"Mana Jenita? Bukankah dia tahu kalau kita menunggunya?"


"Ratu Jenita masih di kamarnya, Tuan. Saya sudah memanggilnya."


"Tapi mana?" Ratu Amuba nyolot. "Kita sudah lama menunggu, tapi dia belum datang juga. Panggil dia kembali!"


"Maaf, Yang mulia. Sepertinya Ratu Jenita sedang berhubungan badan. Sedari tadi Ratu belum keluar kamar sama sekali."


"Astaga! Dia berhubungan badan di saat ada kita di sini?" tanya Ratu Amuba nampak murka. Sang pelayan hanya bisa mengangguk. "Dasar, anak tidak punya sopan santun. Berani beraninya dia mengabaikan kami yang sedang menunggu? Benar benar harus dikasih pelajaran itu anak!"


"Siapa yang akan dikasih pelajaran? Saya?"


Ratu Amuba langsung terkesiap. Niat hati ingin berpura pura bersikap baik kedapa Jenita tapi saat ini, dia malah kepergok oleh Jenita.

__ADS_1


"Aduh, sialan! Sejak kapan Jenita datang? Mati aku!"


...@@@@@@...


__ADS_2