
"Yang mulia," sapa seoang penjaga di kerajaan Damendra.
"Ada apa?" tanya Damendra dengan suara dinginnya.
"Di luar ada Raja Roma datang berkunjung, Yang mulia."
"Apa! Raja Roma?" tanya Damemdra dengan wajah terkejutnya. Dia jelas sekali nampak tidak percaya begitu saja dengan apa yang dikatakan penjaga istana.
"Benar, Yang mulia. Raja Roma datang berkunjung menemui anda."
"Ba-baiklah," ucap Damendra sedikit gugup. "Katakan padanya kalau sebentar lagi saya akan segera keluar."
"Baik, Yang mulia."
Penjaga istana segera saja pergi meninggalkan kamar Raja. Di saat bersamaan, Ratu Amuba datang dengan tergesa gesa menghampiri Raja Damendra yang sedang mempersiapkan diri untuk menemui tamunya.
"Yang mulia, di luar ada Raja Roma!" seru Ratu Amuba nampak begitu girang.
"Iya, aku sudah tahu. Ini, aku akan menemuinya," balas Raja Damendra.
"Aku yakin, dia pasti meluangkan waktunya datang kesini karena akan mengajak Yang mulia kerja sama."
__ADS_1
Kening Damendra berkerut. Matanya agak menyipit menatap Ratu Amuba. "Kerja sama? Kerja sama untuk apa?"
"Itu sih dugaanku, Yang mulia. Tapi coba Yang Mulia pikir, bagaimana mungkin seorang Raja yang besar dengan segala keangkuhannya, jauh jauh datang menemui anda. Kalau bukan untuk mengajak kerja sama, lalu apa lagi?"
Raja Damendra nampak mengangguk beberapa kali sembari memekirkan ucapan Sang Ratu. Kalau dipikir pikir memang benar, seorang Raja Roma mendatangi Raja Damendra secara mendadak pasti karena ada sesuatu yang sangat penting. Karena yang Raja Damendra ketahui, Raja Roma tidak pernah bertamu ke kerajaan lainnya kalau tidak ada keperluan yang sangat penting.
"Ingat, Yang Mulia. Yang mulia harus memanfaatkan keadaan ini sebaik baiknya," Ratu Amuba memprovokasi.
"Memanfaatkan bagaimana?" tanya Damendra dengan kening yang kembali berkerut.
"Jika Raja Roma membutuhkan bantuan atau kerja sama maupun mencari informasi, Yang mulia harus bisa memanfaatkan peluang tersebut untuk mencari untung dari tujuan Raja Roma datang kemari."
Raja Damendra kembali manggut manggut dengan mencerna usulan istrinya. Lagi lagi Damendra berpikiran kalau apa yang diucapkan Ratu Amuba ada benarnya. Bukankah selama ini Raja Roma yang selalu memanfaatkan kerajaan lain?
"Silakan, Yang mulia. Aku tunggu kabar baiknya," balas Ratu Amuba. Raja Damendra sontak tersenyum dan melenggang pergi menemui tamunya.
Begitu sampai di tempat dimana Raja Roma menunggu, kedua Raja itu langsung menunjukkan wajah cerianya, sebagai tanda kalau mereka berdua sangat senang dengan pertemuan tak terduga saat ini. Tentu saja senyum yang mereka tunjukkan adalah senyum yang sangat palsu dan penuh kepura puraan. Dua raja melakukan sandiwara tersebut untuk menutupi niat terselubung mereka sendiri.
"Wahh! Angin apa yang membawa Raja Roma yang agung datang ke istana kecil saya ini?" ucap Damendra sok merendah dengan penuh pujian palsu.
"Anda bisa saja Raja Damendra. Tentu saja karena di sini sayabmemiliki saudara, jadi tidak salah kalau saya berkunjung bukan?" balas Raja Roma tak kalah palsunya dalam berucap.
__ADS_1
"Hahahah ... Yang mulia bisa saja," ucap Raja Damendra. "Baikllah, apa ada sesuatu hingga Yang mulia Raja Roma menyempatkan datang kesini?"
"Anda tahu saja, Raja Damendra. Benar, ada yang ingin saya tanyakan kepada Yang mulia Raja Damendra."
Damendra tersenyum lebar. "Apa yang ingin anda tanyakan, Yang mulia?"
"Saya hanya ingin tahu, apa yang terjadi pada kerajaan Kagomara? Anda pasti tahu bukan?"
Deg!
Sementara itu di istana kerajaan Kagomara, tiga pria dan tiga wanita nampak sedang bersiap diri di depan gerbang istana. Dengan memakai pakaian yang simpel, mereka akan pergi ke suatu tempat seperti yang direncanakan putri Nafata.
Selain tiga kuda sebagai kendaraan mereka. Jack dan yang lainnya juga membawa beberapa senjata dan perbekalan secukupnya. Insana, Jenita dan Nafata, nampak cantik dalam balutan rok pendek dengan segitiga bermuda di dalamnya serta penutup bukit kembar. Semua yang mereka kenakan terbuat dari kulit binatang. Sedangkan Jack, Nikki dan Rahul, memakai celana selutut serta rompi yang terbuat dari kulit juga.
"Apa semua sudah siap?" ucap Nafata.
"Sepertinya sudah. Coba kita cek lagi persiapan kita," balas Jenita, dan mereka langsung memeriksanya sekali lagi.
"Apa semua penduduk dan orang orang istana sudah dikasih tahu kalau kita hendak pergi jauh?" tanya Rahul begitu selesai mengecek ulang barang bawaan.
"Sudah, saya juga sudah berpesan kepada para pejabat kerajaan untuk mengawasi para warga yang datang," balas Jenita.
__ADS_1
"Ya sudah, lebih baik kita berangkat sekarang agar sampai di lokasi terdekat, kita bisa istirahat," ucap Nafata, dan semuanya nampak setuju
...@@@@@...