NEGERI SEJUTA PERAWAN

NEGERI SEJUTA PERAWAN
Rasa Haru Dan Bahagia


__ADS_3

Senyum ceria nampak terlihat jelas dari wajah wajah prajurit wanita pasukan Raja Kagomara. Mereka sangat bahagia sekaligus terharu karena berhasil memenangkan peperangan melawan Raja yang memiliki nama besar dan terkenal dengan kekejamannya dan tanpa ampun. Mereka tidak menyangka, pasukan Raja yang sangat angkuh dapat mereka lumpuhkan.


Senyum bahagia juga tercetak jelas dari wajah dua wanita yang juga turut andil dalam pertarungan tersebut. Dua wanita yang pernah mengalami kejadian buruk dimasa lalu akibat ulah Raja Roma, kini dua wanita itu merasa lega dan bahagia karena bisa membalas sakit hati dan luka yang pernah merek alami.


Saat ini dua wanita itu sedang terisak meluapkan kebahagian serta rasa sedih yang ada dalam benak mereka. Rasa sedih mereka hadir karena mereka teringat bagaimana kejamnya Raja Roma terhadap orang tua mereka dahulu. Tanpa memberi ampun, Raja Roma melenyapkan orang tua dari dua wanita itu. Wajar jika kemenangan ini membuat mereka bersedih, karena mau tidak mau mereka harus terkenang dengan kejadian tragis yang amat memilukan dulu.


"Sudah, Sayang. Jangan sedih terus dong," ucap Rahul sambil mendekap salah satu wanita itu di dalam dadanya. "Aku yakin orang tua kamu pasti bahagia karena kamu sudah berhasil membalaskan dendam pada mereka."


"Hiks ... hiks ... hiks ..." tangis wanita bernama Insana malah semakin kencang, membuat Rahul tak bisa lagi mengeluarkan nasehatnya. Rahul akhirnya pasrah dan memilih diam serta membiarkan Insana meluapkan tangisannya.


Sedangkan di sisi lain tak jauh dari tempat keberadaan Rahul, Nikki juga sedang menenangkan Nafata dalam pelukannya. Meski terlihat lebih tenang, tapi suara isakan masih terdengar di sana.


"Sudah ya? Kali ini kamu sudah bebas. Tidak hidup dalam rasa takut lagi, sayang," ucap Nikki lembut.


"Terima kasih, Tuan. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi jika Tuan tidak datang ke kerajaan ini, mungkin aku ..."


"Hust! Sudah, Sayang. Jangan ngomong yang nggak nggak. Sekarang kita kembali ke istana ya? Kita harus laporan kepada Jack dan Jenita."

__ADS_1


Nafata mengiyakan dengan suara lirih, lalu Nikki mengaruai pelukannya. "Dah ya, jangan nangis lagi," Nafata hanya mangangguk sembari menunduk. Nikki lantas menggandeng tangan Nafata dan menghampiri Naga yang sedang membantu mengumpulkan tahanan.


"Tuan Naga, apa anda akan terus berada di sini? Kasihan istri anda, pasti sudah menunggu kedatangan anda," tegur Nikki.


"Sebentar lagi, Tuan. Sekalian saya akan membawa istri saya ke istana untuk melanjutkan rencana kita berikutnya," jawab Naga dengan wajah yang sangat terlihat bahagia.


"Baiklah, terserah anda saja, Tuan Naga, kami akan menunggu kedatangan anda dan istri anda di istana nanti."


"Baik, Tuan Nikki, silakan."


Sementara itu di dalam istana kagomara, rasa bahagia juga terpancar dari raut wajah semua orang yang ada di sana. Berita kemenangan pasukan wanita di medan perang yang terleta pada garis pantai, membuat para penghuni istana mengucapkan rasa syukur yang sebesar besarnya pada dewa mereka.


"Tuan Jack, hiks, hiks, hiks ... kita menang," ucap Jenita sembari memeluk tubuh pria di hadapannya.


"Selamat ya, Ratuku, akhirnya kamu bisa terbebas dari rasa takut," ucap Jack membalas pelukan itu.


"Setidaknya aku lega sekarang. Aku bisa menebus rasa bersalahku pada putri Nafata."

__ADS_1


"Hust ... kamu tidak salah, Sayang. Kamu dengan Nafata itu sama sama korban. Jangan terlalu dipikirkan masa yang sudah berlalu cukup lama. Sekarang, kamu tinggal fokus saja sama apa yang akan kamu lakukan ke depannya."


"Rencana kedepannya?" tanya Jenita setelah menghentikan isakannya.


"Iya, sekarang kamu tinggal memikirkan rencana kedepannya, Sayang."


Jenita melepaskan kepalanya dari dada Jack sambil sedikit berpikir. "Mungkin aku akan segera mengembalikan istana ini kepada orang yang lebih berhak. Aku hanya ingin hidup bebas menjadi rakyat biasa saja."


"Ya baguslah, aku yakin kamu bisa melakukannya. Kamu kan wanita yang hebat, Ratiku," puji Jack dengan di iringi senyum manisnya.


"Semua ini kan berkat bantuan kamu, Tuan," balas Jenita dengan kembali mendaratkan kepalanya di dada bidang Jack. "Tapi Tuan, aku bingung."


"Bingung? Bingung kenapa, Sayang?"


"Apa yang harus aku lakukan kepada ayahku?"


...@@@@@...

__ADS_1


__ADS_2