NEGERI SEJUTA PERAWAN

NEGERI SEJUTA PERAWAN
Kemesraan Pagi


__ADS_3

Pagi hari di kamar utama kerajaan Kagomara, seorang wanita baru saja membuka tersadar dari lelapnya. Setelah setelah mata indahnya mengeluarkan air mata semalam, akhirnya mata itu menyerah kepada rasa kantuk yang menyerangnya.


Mata indah itupun sekarang perlahan terbuka. Namun saat mata itu terbuka, kening pemilik mata indah itu berkerut. Di depan matanya ada pemandangan yang berbeda. Sebuah dada bidang kini berada tepat di depan mata. Bahkan kepala si wanita masih menempel pada salah satu sisi dada tersebut.


Wanita pemilik mata indah itu langsung saja membulat saat dirinya menyadari kalau semalam dia tidur bersama pria. Tentu saja ini sangat mengejutkan baginya. Bertahun tahun wanita itu tidur sendiri tapi tidak untuk malam ini.


Perlahan kepala wanita itu mendongak, sebuah wajah milik pria tampan masih terlelap saat ini. Wajah pria itu terlihat damai dan menenangkan saat terlelap. Sangat berbeda sekali dengan keadaan pria itu disepanjang harinya.


Mata Jenita terpaku, menatap lekat pria yang nekat meminta tidur bersamanya. Senyum tipis tersungging dari bibir wanita itu saat membayangkan tingkah menyebalkan pria bernama Jack. Senyum Jenita makin merekah saat menatap bibir kehitaman pria itu. Bibir yang telah lancang menempel dan memberi rasa nikmat pada bibir Jenita. Nikmat yang berbeda. Nikmat yang baru saja Jenita rasakan di sepanjang hidupnya.


Saat mata Jenita terpaku pada wajah Jack, tiba tiba tangan Jack bergerak, menangkap kepala Jenita dan menenggelamkan di dadanya serta mendekapnya. Jenita terkejut bukan main. Diia lantas pura pura memejamkan matanya karena takut ketahuan sedang memandani wajah pria itu. Namun setelah menunggu beberapa saat, Jenita berpikir Jack masih terlelap dan itu membuat Jenita merasa lega. Tapi Jenita sadar, dia kini terkunci dalam dekapan erat seorang pria dan pria itu diam diam tersenyum.


Berbeda dengan pagi hari di kamar Nikki. Pria itu dan wanita yang bersamanya, kini masih terbaring di atas ranjang meski mata mereka telah terbuka. Keduanya saling tatap dan saling melempar senyum.


"Bagaimana tidurmu? Nyenyak?" tanya Nikki.


Nafata mengangguk. "Nyenyak banget. Setelah sekian lama tidak merasakan tidur nyenyak."

__ADS_1


"Syukurlah, berarti mulai sekarang, kita tidur seranjang ya?" Wanita itu kembali mengangguk dengan senyum yang tidak pudar sama sekali. "Apa rencana kamu hari ini?"


"Aku tidak memiliki rencana apapun."


"Kenapa?"


"Aku harus tetap bersembunyi. Saat ini Raja Roma pasti sudah tahu kalau aku sudah sembuh dan lepas dari jeratan racun sihir mereka."


Kening Nikki berkerut, lalu dia pun memeluk Nafata. "Aku akan melindungi kamu. Tenang saja. Semoga secepatnya aku dan yang lain menemukan cara untuk membebaskan kalian."


"Terima kasih, Tuan. Tapi, biarlah aku berada di kamar ini dulu. Aku belum siap keluar."


Keduanya pun saling tersenyum lalu terdiam sejenak sebelum melanjutkan obrolan pagi mereka.


Sedangkan Rahul, pagi ini masih terlelap dalam mimpinya. Seperti biasa, dia akan terbangun jika wanita yang melayaninya datang ke kamar. Seperti pagi yang sudah sudah, Insana hanya menggelengkan kepala begitu Rahul masih terlelap tanpa busana. Bagi Insana, pemandangan seperti itu, sekarang menjadi pemandangan yang biasa dia lihat jika memasuki kamar Rahul.


"Tuan, bangun! Sudah siang," ucap Insana lembut sembari duduk di tepi ranjang. "Tuan ... bangun!"

__ADS_1


"Eugh!" Rahul melenguh. "Bentar."


"Sudah siang, apa Tuan tidak olahraga?"


"Males ah," tolak Rahul dengan suara berat khas orang bangun tidur. Dengan sengaja, dia menarik tangan Insana hingga wanita itu terbaring diatas kasur dan Rahul langsung memeluknya.


"Awwh! Apa yang Tuan lakukan?" tanya Insana begitu sangat terkejut dengan apa yang terjadi.


"Memelukmu."


"Ini kepalanya minggir bisa tidak, Tuan? Jangan di atas dada saya!"


"Nggak bisa, dada kamu empuk dan nyaman."


"Tapi saya sedikit susah nafas, Tuan!"


Rahul sedikiit tersentak lalu dia menggeser kepalanya ke ceruk leher Insana.

__ADS_1


"Ya Dewa!" gumam Insana lalu menghembus kasar nafasnya.


...@@@@@...


__ADS_2