NEGERI SEJUTA PERAWAN

NEGERI SEJUTA PERAWAN
Ketangguhan Prajurit Wanita


__ADS_3

"Nah! Benerkan! Kalian bertiga, peyusup!"


"Apa maksud, Nona? Apa kita pernah bertemu?"


"Hahaha ... nggak mau ngaku? Baiklah. Sekarang ucapkan, kata kunci apa yang digunakan Ratu Jenita saat mengundang para pria agar datang ke pulau ini. Coba katakan?"


Sontak tiga pria itu gelagapan. Mereka saling pandang satu sama lain seakan akan sedang berunding di saat mereka terpojok. Tentu saja mereka bingung sendiri karena memang tidak tahu dengan kata kunci yang digunakan untuk mengundang para pria.


"Ayo cepat jawab!" desak wanita yang memakai pakaian prajurit.


"Tidak bakalan bisa, Panglima. Mereka sedang bingung sendiri tuh," wanita yang memergoki mereka menimpali dengan wajah penuh ejekan.


"Ah sial! Sebaiknya kita lawan mereka!" umpat salah satu dari tiga pria itu.. Kepalang tanggung karena sudah terpojok tiga pria itu langsung mengeluarkan pedangnya. Serang!"


Beberapa prajurit wanita itu tak gentar sedikitpun. Mereka juga langsung mengangkat senjata dan melawannya. Sedangkan beberapa orang langsung menepi mengamankan diri.


"Hiyaaat!"


Trang! Trang! Trang!


Adu pedang pun terjadi tanpa bisa dikendalikan. Namun beberapa saat setelah pertarungan berjalan, tiga pria itu dibuat terkejut dengan kemampuan para prajurit wanita yang sungguh luar biasa. Dengan ketrampilan di atas rata rata, para prajurit itu mampu melawan dan bertahan dengan sangat elegan. Bahkan tiga pria itu dibuat kewalahan oleh serangan yang dilakukan para prajurit wanita itu.


"Kenapa pertarungan mereka bagus sekali?"

__ADS_1


"Benar, mereka luar biasa, aku sampai kewalahan."


"Tapi kita tidak boleh menyerah begitu saja. Jangan sampai kita kalah sama wanita."


"Baik. Hiyaaat!"


Tak jauh dari mereka, Jack hanya tersenyum senang melihat pertarungan tersebut. Bukannya Jack tidak ingin membantu, tapi Jack ingin lihat seberapa kemampuan prajuritnya setelah berendam dengan air rendaman batu bercahaya ungu. Hasillnya? Sungguh tak terduga. Para wanita memiliki kelebihan dalam bertarung dan hal itu tentu saja membuat mereka semakin semangat dalam menghadapi para musuh.


Trang!


Dak!


"Akh!"


Tak butuh waktu lama, satu persatu dari pria itu berhasil ditumbangkan. Bahkan mereka ada yang terluka kena sabetan pedang di kakinya. Begitu juga dengan prajurit wanita, mereka ada yang terluka dan lansung dilarikan ke tempat pengobatan. Tiga pria itu langsung di amankan.


Prok! Prok! Prok!


"Wah! Kalian hebat sekali!" puji Jack pada prajurit wanita begitu dia sampai dilokasi kejadian. "Lihat! Kalian banyak kemajuan dalam membela diri. Hebat!"


Tiga pria yang melihat kedatangan Jack, sontak mengerutkan keningnya. Dalam benak mereka jelas timbul pertanyaan, siapa pria itu? Kenapa semua memberi hormat kepadanya?


"Terima kasih, Tuan," jawab para prajurit hampir bersamaan.

__ADS_1


Kami benar benar tidak menyangka, Tuan. Kami bisa sehebat itu!"


"Benar, Tuan. Berkat anda dan Naga, kami bisa semakin percaya diri menghadapi lawan, Tuan."


"Hahaha ... ini bukan berkat saya. Tapi ini hasil dari kerja keras kalian. Kalian layak mendapatkannya. Sekarang kalian istirahat dan biarkan mereka di urus yang lainnya."


"Baik, Tuan," Prajurit itu segera pergi sesaui perintah, sedangkan orang yang menyaksikan pertarungan tadi, langsung dibubarkan dan melanjutkan kegiatannya.


"Bagaimana rasanya kalah dari prajurit wanita?" ucap Jack begitu dia berdiri di hadapan tiga pria yang sudah tak perdaya. Saya tidak akan bertanya dari mana kalian berasal dan siapa yang menyuruh kalian. Saya hanya ingin bilang kalau kerajaan kagomara, tidak bisa anda remehkan, meski mereka hanya terdiri dari para wanita yang kalian anggap lemah," Jack pun menatap para prajurit. "Bawa mereka ke ruang tahanan dan obati yang terluka."


"Baik, Tuan."


Jack pun segera berbalik badan dan melangkah menginggalkan lokasi kejadian.


Sedangkan di tempat lain, begitu sampai di kerajaannya, Raja Damendra langsung melampiaskan amarahnya. Dua kali pulang dari kerajaan Kagomara, dua kali pula Raja Damendra pulang dengan amarah yang menggelegar.


"Yang Mulia, bagaimanna ini? Kita tidak bisa membiarkan Kerajaan Kogamara jatuh ke tangan orang lain. Kita harus bisa menguasainya kembali, Yang mulia," ucap Ratu Amuba dengan wajah yang terlihat sangat khawatir.


"Aku juga sedang memikirkan hal itu, Ratu. Aku sendiri juga sedang mencari jalan."


"Apa perlu kita kerja sama dengan Raja Roma, Yang mulia."


"Aku juga berpikiran seperti itu, tapi apa kita sanggup memenuhi syaratnya? Kamu tahu kan? Raja Roma tidak pernah mau merugi?"

__ADS_1


...@@@@@@...


__ADS_2