
Sesampainya di lokasi kejadian, Jack dan Jenita langsung turun dari kuda yang mereka tunggangi. Nampak pasar begitu lengang. Hanya ada beberapa meja dan kain yang sudah terbakar dan terkoyak. Menurut laporan dari pengawal istana, para pedagang maupun pengunjung langsung membubarkan diri begitu terhadi kerusuhan. Makanya saat ini pasar begitu sepi.
Jenita memperhatikan beberapa bagian yang porak poranda. Selain hancur karena tendangan dan pukulan, ada beberapa bagian terlihat gosong seperti benda habis terbakar. Jenita nampak sangat serius memikirkan siapa pelakunya.
"Ini pasti perbuatan Naga dari laut timur," tebak Jenita. Tentu saja tebakannya membuat Jack dan para pengawal istana terkejut.
"Darimana kamu tahu?" tanya Jack dengan wajah tak percaya.
"Ada bagian yang gosong terkena api," ucap Jenita sambil menunjukkan papan kayu yang menghitam. "Jika ini perbuatan manusia, tidak mungkin memakai api untuk penyerangan dan dilakukan sendirian."
Sambil mendengarkan penjelasan Jenita, Jack memperhatikan papan kayu yang memang sebagian seperi benda yang terbakar api. Jack percaya dengan apa yang Jenita jelaskan. Jack juga memperhatikan ke sekitar, berharap menemukan petunjuk lain.
"Berarti Naga sudah tahu keberadaan batu bercahaya ungu?" tanya Jack menyimpulkan.
"Pasti! Dan mereka juga berada di pulau ini," jawab Jenita dan itu membuat Jack sedikit terkejut.
"Bagaimana cara kita mengenalinya? Apa dia datang dalam wujud ular naga?"
"Tentu tidak. Dia akan menjelma layaknya manusia biasa. Tapi sayangnya, belum ada yang tahu ciri ciri seperti apa saat menjelma menjadi manusia."
__ADS_1
Di saat bersamaan, tak jauh dari keberadaan Jack dan Jenita, sepasang mata sedang mengawasi mereka dengan tatapan penuh tanya. Pemilik sepasang mata itu terkejut dan heran karena wajah pria yang pernah yang dia lihat berbeda dengan pria yang sekarang. Tapi pemilik sepasang mata pun teringat ucapan warga kalau ada tiga pemuda yang ditahan di istana.
"Apa itu salah satu pemuda yang menjadi tahanan kerajaan? Kalau tahanan, mana mungkin bisa sedekat itu dengan pemimpin pulau ini? Lalu, dimana pria yang memiliki batu itu? Apa dia dalam tahanan?" gumam pemilik sepasang mata yang ternyata adalah sang naga jantan. "Agar lebih jelas, sepertinya aku harus menyerang mereka.
Di saat semua sedang fokus menyelidiki tempat sekitar, tiba tiba dari balik sebuah bangunan muncul api yang menggelegar ke arah Jenita. Jack yang menyadari kedatangan api tersebut, langsung saja bergerak cepat.
"Ratuku, awas!" Teriak Jack sambil menangkap tubuh Jenita hingga mereka terguling ke samping dan api mengenai sebuah warung hingga warung itu terbakar. Beruntung, warung itu memang sudah kosong.
"Hebat juga kemampuan bela diri anda, Tuan!" sebuah suara bernada pujian tiba tiba terdengar menggema di area tempat itu. Tentu saja semua yang mendengar langsung mengarahkan pandangannya ke sumber suara.
"Diakah jelmaan dari naga?" gumam Jack saat matanya melihat sesosok pria yang berdiri dengan santainya di dekat sebuah pohon besar.
"Hahaha ... maju? Untuk apa? Untuk menghancurkan kaum wanita yang lemah?" balas Naga jantan penuh ejekan, dan hal itu sukses membuat panglima berang karena merasa diremehkan.
"Kami tidak lemah! Kalau berani, maju! Lawan kami!" tantang panglima.
"Hahaha ... saya tidak mau membuang tenaga saya hanya untuk meladeni kaum lemah seperti kalian," Naga jantan terus melempar ejekan.
"Sialan!" bentak Panglima sambil mengangkat pedang. Namun gerakanya terhenti saat sebuah api menggelegar ke arahnya. Panglima dengan cepat langsung menghindar.
__ADS_1
"Hahaha ... hanya itu kekuatan yang kalian miliki?" lagi lagi pertanyaan penuh ejekan keluar dari mulut naga jantan.
"Kita bukan kaum lemah, tapi anda lah yang sebenarnya kaum yang paling lemah, Tuan Naga," Jack pun tak tahan mengeluarkan kata kata pedasnya. Sedari tadi sangat geram dengan hinaan yang Naga lontarkan. Maka itu, dia juga berani membalikkan hinaan yang sama.
"Saya? Hahaha ... saya adalah mahluk terkuat yang ada di muka bumi ini. Jika saya mau, saya bisa menghancurkan pulau ini dalam sekejap! hahaha ..." Naga semakin menunjukan sikap angkuhnya.
"Benarkah? Lalu kenapa anda tidak segera menghancurkannya?" tanya Jack dengan nada ejekan pula.
"Tuan!" pekik Jenita dengan pandangan yang sukar diartikan. Jack pun membalasnya dengan senyuman yang mengandung arti tenanglah, aku bisa mengatasinya.
"Apa itu perlu saya lakukan? Apa kalian siap hancur?" tanya Naga jantan dengan segala keangkuhannya.
"Lakukanlah, Tuan naga!" balas Jack santai. "Lakukanlah! Dengan begitu, istri anda selamanya akan lemah karena dengan hancurnya pulau ini, maka hancur juga batu bercahaya ungu."
Deg!
...@@@@@@@@@...
Sebelumya, saya mengucapkan terima kasih, kepada yang bersedia mampir dan memberi dukungan pada cerita ini. Dan terima atas kritik dan sarannya. Di sini saya menyampaikan. Kenapa saya menulis babnya tidak panjang? Karena faktor kenyamanan. Saya lebih nyaman dengan menulis bab yang tidak panjang tapi bisa update dua atau tiga bab tiap hari, daripada menulis bab panjang tapi update satu bab sehari. Percayalah, merangkai kata sambil memikirkan sebuah cerita dan menuangkannya menjadi tulisan, sangat butuh rasa nyaman, tenang dan kefokusan. Sekali lagi terima kasih ya atas segala saran dan masukannya. Saya sangat menghargai karena saran yang baik adalah bentuk sebuah dukungan juga meski belum tentu saya wujudkan. Insya Allah, jika saya selalu dalam kesehatan. Bulan depan kisah ini akan update sehari tiga kali, jadi mohon doa dan dukungannya? Terima kasih.
__ADS_1