NEGERI SEJUTA PERAWAN

NEGERI SEJUTA PERAWAN
Rasa Heran Damendra


__ADS_3

"Apa yang sedang terjadi di pulau ini? Kenapa banyak pria berdatangan?"


"Benar, Yang mulia. Sepertinya telah terjadi sesuatu pada pulau ini."


"Lebih baik kita segera ke istana. Jenita pasti tahu, apa yang terjadi."


"Baik ,Yang mulia."


Raja beserta Ratu dan rombongan bergegas saja melangkah menuju ke istana dengan banyak pertanyaan dalam benak mereka. Sepanjang kuda mereka melangkah, Mata Raja Damendra dan Ratu Amuba dibuat tercengang dengan adanya pria di pulau itu. Bukan hanya satu, tapi banyak. Para pria itu bahkan seperti sudah menempati rumah yang ada disana.


Raja Damendra juga tercengang begitu dirinya sampai di depan istana. Disana juga terdapat jauh lebih banyak pria keluar masuk ke area istana. Bahkan pintu gerbang istana kini terbuka lebar, tidak seperti biasanya. Tentu saja Raja Damendra langsung murka dibuatnya.


"Kenapa pintu gerbang terbuka seperti ini? Hah! Kenapa!" bentak Raja Damendra kepadaa dua wanita penjaga pintu gerbang.


"Maaf, Yang mulia, Ratu jenita yang memerintahkan kami untuk tetap membuka gerbang Istana," jawab salah satu penjaga.


"Jenita? Mana mungkin? Bagaimana bisa dia memerintakan seperti itu? Sekarang, tutup kembali gerbangnya, cepat!"


"Tapi ..."


"Apa kalian tuli?" ucap Ratu Amuba lantang. "Tutup pintu gerbangnya!"


"Baik!"


Mau tidak mau, dua penjaga itu menutup gerbang istana. Sementara Raja Damendra dan Ratu Amuba, langsung masuk lebih dalam ke area istana. Berkali kali mereka dibuat terkejut dengan apa yang mereka lihat. Selain banyaknya para pria, di area istana juga terdapat banyak tenda. Raja Damendra sangat penasaran dengan segala peristiwa yang tidak biasa di Istana ini.

__ADS_1


"Pelayan!" teriak Damendra emosi. "Panggilkan Ratu jenita, Cepat!"


"Baik, Yang mulia."


Disaat yang ayah sedang geram melihat apa yang terjadi, di saat yang sama, Ratu jenita justru sedang asyik berpelukan dengan Jack di dalam kamarnya. Keduanya sedang melepas lelah setelah melakukan hubungan cinta yang sangat dahsyat.


"Aku tidak menyangka kalau dalam berhubungan badan, banyak gaya yang bisa kita gunakan. Aku pikir, hanya ada gaya pria diatas dan wanita dibawah. Cuma itu saja setahuku, ternyata ada banyak," ucap Jenita sambil mengusap benda yang terkulai di bawah perut Jack.


"Memang benar, Ratuku. Ada banyak gaya dan posisi yang bisa kita lakukan. Itu saja tadi aku belum menunjukkan semuanya loh," balas Jack sambil mengusap usap rambut wanita yang kepalanya sedang terbaring di dada bidangnya.


"Belum semuanya? Kok bisa?"


"Nanti sekali kali, kita jangan berhubungan di dalam kamar saja, Ratuku. Kita coba di tempat lain agar bisa memakai gaya lainnya juga. Kamu aja belum aku ajari cara menikmati benda itu dengan mulut kamu."


Jack tersenyum sejenak. "Tidak, Sayang. Justru kalau kamu sudah merasakannya, pasti kamu keenakan, Ratuku?"


"Benarkah?"


"Benar. Nanti malam aku ajarin deh cara menikmati punyaku dengan mulut kamu."


Di saat keduanya sedang asyik bercengkrama, mereka mendengar suara pintu kamar diketuk dengan kera, hingga Jenita dan Jack terpaksa menghentikan obrolan mereka.


"Ya, ada apa?" teriak Jenita dari atas ranjang.


"Maaf, Ratu. Di luar, ada Raja Damendra dan Ratu Amuba. Mereka menunggu anda, Ratu," jawab seorang pelayan.

__ADS_1


"Apa! Ayah!" pekik Jenita langsung terkejut mendengarnya. "Duh bagaimana ini?" Jenita langsung bangkit dan wajahnya terlihat sangat panik.


"Memangnya kenapa, Sayang?" tanya Jack dengan santainya. Diapun ikut bangkit dan duduk di atas ranjang yang sama.


"Ayah pasti murka. Bukankah diluar banyak laki laki? Nanti pasti ayah akan banyak melempar pertanyaan dan menekanku," cicit Jenita dengan wajah penuh rasa takut.


Jack kembali mengulas senyum lalu meraih kepala Jenita dan menenggelamkannya ke dalam pelukan. "Tidak perlu takut, kita hadapi sama sama ya?"


Kening Jenita berkerut. Dia langsung melepaskan diri dari dekapan Jack dan menatapnya dengan serius. "Hadapi sama sama?"


Jack mengangguk pasti. "Iya, kita hadapi sama sama, oke?"


"Tapi nanti ayah akan semakin murka."


"Tidak perlu takut, Ratuku. Sekarang kamu tidak sendirian. Ada aku yang akan menemanimu. Jadi lebih baik, buang rasa takutmu, oke? Setiap ada masalah, kita akan hadapi bersama sama."


Jenita tak bisa berkata kata lagi. Dia malah terharu dan matanya berkaca kaca. Untuk pertama kalinya ada seseorang yang mau mendukung dan melindunginya. Jenita langsung saja memeluk pria yang sedang tersenyum kepadanya.


"Terima kasih, Tuan. Terima kasih, hiks ... hiks ..."


"Loh, kok nangis?" ucap Jack lembut sambil mengusap rambut Jenita. "Sekarang, kita mandi dan temui ayah kamu, ya?"


Jenita mengangngguk dan mereka segera bersiap diri untuk menghadap Raja Damendra dengan segala amarahnya.


...@@@@@...

__ADS_1


__ADS_2