Orion (Sang Pemburu)

Orion (Sang Pemburu)
Rencana


__ADS_3

Trang !


Tang di tangan Gabriel terlempar jauh saat pria itu melemparkannya dengan raut wajah kesal. Ini sudah lima jam mereka berkutat pada sebuah mobil rongsok untuk mencari barang bukti tetapi hasilnya tidak ada.


" Kau yakin kita bisa menemukannya Hans ?" tanya Gabriel.


Hansen mengangkat bahunya lalu menggeleng lemah. Jujur saja sedari awal Hansen hanya mengikuti instingnya saja. " Aku tidak tahu."


Gabriel melotot marah menatap Hansen. " Maksudmu ?"


" Aku hanya mengikuti instingku saja."


" Sialan !" Gabriel berteriak kencang dan langsung menendang Hansen hingga membuat pria itu terjatuh ke lantai. Lalu mencengkram kerah baju Hansen dengan mata menatap tajam.


" Kita sudah menghabiskan waktu lima jam di sini. Kau dengar ? Lima jam ! Kukira kau memiliki jalan keluarnya ternyata hanya mengikuti instingmu saja. Di mana kau letakkan isi kepalamu Hansen ?!" lanjutnya.


Hansen menghela napas mencoba bersabar. Gabriel ini bodoh atau memang tidak tahu ? pikirnya.


" Lalu ? Kau ingin mencari bukti di mana lagi selain jalan di depan restoran itu dan mobil rongsok ini ?!" Hansen beranjak berdiri dan melepas kasar cengkraman Gabriel di kerah bajunya.


" Kau bukan paranormal ataupun makhluk astral yang bisa menebak begitu saja." Hansen melanjutkan ucapannya.


Gabriel menjadi menyesal karena telah menghajar Hansen. " Jika sudah tahu begini kenapa kau menantang Wakil Jenderal Klein ?"


" Jika aku tidak menantangnya cepat atau lambat media akan mengetahui keberadaanmu di kantor polisi. Meskipun kita masih diawasi setidaknya namamu tidak ada di berita terkini hari ini. Untuk bukti aku akan berusaha mencarinya." Hansen menjelaskan pada Gabriel yang terdiam. Kemudian berjalan mendekati Reina yang masih mencari apa saja macam bagian mesin mobil yang mereka bongkar saat ini.


Gabriel terdiam kaku mendengar penjelasan Hansen. Lagi dan lagi Hansen orang pertama yang memikirkannya dan berusaha membantunya. Hansen mengerti apa yang terbaik untuknya dan seharusnya Gabriel tidak bersikap buruk seperti tadi.


" Bagaimana ?" tanya Hansen.


Reina menoleh dan menggelengkan kepalanya. " Aku sudah memeriksanya satu persatu tetapi benda benda itu masih merupakan peralatan mobil."


Hansen memperhatikan bagian bagian mobil yang telah dibongkarnya tadi bersama Gabriel. " Reina, bagaimana caranya seorang hacker bisa mematikan CCTV dan lampu hanya dengan laptopnya ?"


" Melalu jaringan mung..." mata Reina terbelalak saat menyadari sesuatu. " Jangan bilang apa yang kupikirkan ini adalah hal yang kau cari sedari tadi ?"

__ADS_1


Hansen mengangguk. " Tidak ada pengemudi tapi bisa berjalan sendiri. Padahal mobil ini bukanlah robot jelmaan. Aku awalnya ragu dengan pemikiranku ini tetapi bukankah manusia itu bisa membuat apa saja bahkan di luar nalar logika manusia ? Sama seperti seorang hacker yang bisa berbuat apa saja dengan laptopnya tanpa harus bergerak sedikitpun dari tempat duduknya. Aku memikirkan hal itu dapat terjadi juga di mobil ini. Seorang jenius bisa saja mengendalikan mobil ini menggunakan sebuah alat."


Reina berdecak kagum dengan pemikiran Hansen yang begitu kritis. Biasanya disaat genting seperti ini orang lebih banyak panik dan sulit untuk memiliki pemikiran yang jernih.


" Kau hebat Hans." Gabriel kagum dengan pemikiran Hansen. Pantas saja temannya itu kukuh untuk membongkar mobil rongsok ini, ternyata Hansen memiliki pemikirannya sendiri.


" Aku belum yakin. Ini hanya pemikiranku saja." Hansen berucap pelan.


" Tidak masalah benar atau tidak mari kita bekerjasama !" Reina berucap penuh semangat.


" Ya." Gabriel mengangguk dan tersenyum.


...*****...


BRAK !


Orion melemparkan sebuah gulungan besar ke tengah meja.


" Apa ini ?" Saiph membuka gulungan itu.


" Dari pada peta, ini lebih terlihat seperti denah." ucap Alnilam.


" Aku tebak itu bagian dari rencana kita selanjutnya." Alnitak berucap dengan tangan terus memainkan game di ponselnya.


Rigel dan Mintaka berjalan mendekati meja dengan membawa beberapa minuman kaleng. Mereka melihat isi gulungan itu dan mencoba memahaminya.


" Intinya ?" Rigel menatap Orion dengan alis terangkat sebelah.


" Kita akan mengacaukan kantor polisi dan melepaskan tahanan di sana. Buat mereka berpihak kepada kita. Jika mereka menolak biarkan mereka tetap mendekam di dalam sana." jelas Orion.


" Wow ! Kriminal lagi ? Aku suka ini." Mintaka berdecak kagum. " Apa ini denah kantor polisi itu ?" tanyanya.


Orion mengangguk. " Ada yang ingin bertanya sebelum kita saling membagi tugas ?"


Semua orang yang berada di dekat Orion diam tidak memberi jawaban. Hal itu membuat Orion paham dan tersenyum simpul.

__ADS_1


" Bagus kalau kalian setuju. Mari kita mulai pembagiannya. Alnilam dan Alnitak, tugas kalian mengalihkan perhatian polisi dengan penyamaran." perintah Orion.


" Mintaka alihkan CCTV, Saiph siapkan mobil untuk para tahanan. Bellatrix bius setiap tahanan yang tidak setuju mengikuti kita. Kau akan ikut denganku dan juga Rigel dalam tugas ini. Setelah itu, Rigel akan menggiring tahanan keluar dari kantor polisi diikuti Bellatrix secara diam diam. Karena aku tidak yakin mereka akan mengikuti kita begitu saja."


" Terakhir, aku akan memasangkan beberapa bom di sana. Kecuali Alnilam dan Alnitak, kalian semua pergilah terlebih dahulu setelah mendengar ledakkan. Alnilam dan Alnitak temui aku di ruangan ini setelah kekacauan terjadi." Orion menunjuk sebuah tempat di dalam denah itu.


" Baik." Alnilam mengangguk setuju bersama Alnitak yang tersenyum miring.


Orion menyeringai dengan mata menatap tajam denah di atas meja. " Kurasa sudah cukup sampai di sini. Siapkan diri kalian karena kita akan melakukannya malam ini."


Di ruangan kosong yang berwarna abu abu. Hansen, Gabriel, dan Reina masih berkosentrasi mencari benda yang bisa mereka jadikan barang bukti. Mereka memilih dan memperhatikan secara detail tentang bagian bagian mobil terutama mesinnya. Lalu mencocokkannya dengan data dari perusahaan ayah Gabriel yang mereka ambil secara diam diam.


" Reina apa benda ini ada di data itu atau tidak ?" Hansen menunjukkan sebuah benda sebesar telapak tangan yang terbuat dari besi pada Reina.


" Tunggu." Reina mengambil benda itu dan memeriksanya di laptopnya.


Setelah memeriksanya Reina menggeleng lemah kearah Hansen. " Sepertinya yang ini juga buk..."


" Tunggu !" Gabriel berteriak kencang. " Kalian cepat kemari dan lihat ini !" lanjutnya.


Hansen dan Reina berjalan mendekati Gabriel untuk melihat apa yang teman mereka itu tunjukkan.


" Apa itu ?" Hansen melihat benda kecil seperti kamera terkecil yang pernah ada di dunia dengan lampu merah yang berkedip kedip seperti bom.


" Apa ini bom ?!" Reina berteriak panik.


" Sepertinya bukan. Kalaupun iya pasti sudah meledak sejak jauh hari." jawab Gabriel.


" Apa ini berada di mesin awalnya ?" tanya Hansen.


Gabriel mengangguk. "Aku membongkar mesin mobil dan memisahkan mereka bahkan sampai bagian terkecilnya. Apa ini masih bagian dari mesin mobil ?"


" Reina coba periksa." pinta Hansen.


Reina memeriksanya dengan teliti kemudian tersenyum bahagia. " Tidak ada, berarti..."

__ADS_1


" Kita menemukannya !" teriak Gabriel.


__ADS_2