
" Kau tak mandi ?" tanya Gabriel setelah selesai mandi.
Hansen menghela napas lalu beranjak bangun dan pergi ke kamar mandi tanpa berbicara. Rasanya sangat malas sekali tubuhnya tersentuh oleh air.
Gabriel yang tahu kebiasaan Hansen dalam hal kebersihan hanya menjadi tersenyum geli. Hansen dengan segala kejorokkan membuat Gabriel tidak heran lagi jika melihat Hansen yang malas malasan saat akan menyentuh air.
TOK ! TOK ! TOK !
Gabriel mengangkat sebelah alisnya mendengar ada orang yang datang. Ia melangkah berjalan membuka pintu.
" Tuan." Jack tersenyum menyapa Gabriel setelah pintu itu terbuka.
Gabriel mengangguk singkat lalu mengulurkan tangannya. " Pesanan ?"
" Oh, ini tuan." Jack menyerahkan paper bag hitam di tangannya.
" Terima kasih Jack, bonusmu sudah kukirimkan."
" Terima kasih kembali tuan. Saya akan kembali ke kantor kalau begitu."
" Silahkan." Gabriel menutup pintu Apartemen kembali.
TOK ! TOK ! TOK !
Gabriel mengerutkan keningnya bingung mendengar pintu yang kembali diketuk.
CEKLEK !
" Jack ada ap..." Gabriel menghentikan ucapannya saat melihat bahwa orang yang mengetuk pintu ternyata bukanlah Jack si asistennya.
" Maaf tuan, tetapi saya ingin mengantarkan ini untuk Hansen." orang itu memperlihatkan sebuah paper bag merah muda di tangannya.
" O...oh, Hansen sedang mandi. Anda ingin masuk dan menunggu sebentar ?"
" Tidak, anda teman Hansen kan ?"
__ADS_1
" Ya."
Orang itu tersenyum senang dan menghela napas. Gabriel bisa melihat rasa lega terpancar di wajah orang itu.
" Kalau begitu saya titipkan ini saja. Tolong berikan paper bag ini pada Hansen tuan." ucap orang itu sembari mengulurkan paper bag itu pada Gabriel.
Gabriel mengambil paper bag itu lalu mengintip isinya sedikit. Terlihat seperti pakaian bewarna hitam di dalamnya. " Baiklah akan saya berikan."
" Terima kasih tuan, saya permisi dulu."
" Sama sama." Gabriel menutup pintu dan berjalan menuju kamar Hansen dengan membawa dua paper bag sekaligus.
" Wah, banyak sekali kau memesan baju Riel ?" Hansen terkekeh melihat Gabriel yang datang meletakkan dua paper bag ke atas kasurnya.
Gabriel mengangkat bahunya acuh dan mengambil paper bag hitam miliknya. " Ini milikku."
Lalu berganti mengambil paper bag bewarna merah muda. " Dan ini milikmu."
" Milikku ?" tanya Hansen.
" Ya, dari seorang yang..., entahlah aku tidak tahu. Dia hanya meminta tolong untuk memberikan paper bag ini untukmu."
" Kenapa kau tersenyum seperti itu ?" Gabriel menatapnya heran.
Hansen menggelengkan kepalanya. " Tidak ada. Ayo kita bersiap siap."
" Hm." Gabriel membuka bajunya lalu memakai kemeja merah dan menyisakan satu kemeja merah lagi ke atas kasur. " Ini milikmu jangan lupa." sambungnya.
Hansen yang sedang mengeringkan rambutnya hanya melirik sekilas kemeja merah itu. Setelah dirasa rambutnya cukup mengering, Hansen menyisir rambutnya lalu mengambil pelembab wajah khusus pria. Mengambilnya sedikit lalu mengoleskan pelembab itu di wajahnya hingga merata.
Kemudian Hansen berbalik berjalan mengambil celana bahan dan kemeja merah di atas kasurnya. Lalu melangkah ke dalam kamar mandi untuk berganti pakaian.
...*****...
" Sudah selesai ?" Gabriel bersandar di dinding memandang Hansen yang sedang berdandan di depan cermin. Rasanya sekarang Gabriel seperti melihat seorang gadis yang sedang berdandan saja.
__ADS_1
" Tunggu sebentar." pinta Hansen dengan tangan yang sibuk menyemprotkan parfum ke tubuhnya. Setelah itu, ia mengambil bunga mawar merah muda dan meletakkannya di saku depan jas. " Aku siap, ayo berangkat." sambungnya.
" Hah, akhirnya. Kau tahu ? Menunggumu berdandan seperti melihat seorang gadis yang suka berkaca di depan cermin. Singkat sekali, sampai bisa menghabiskan waktu berjam jam lamanya." Gabriel menggerutu kesal.
Hansen memutar mata malas dan berjalan begitu saja menghiraukan Gabriel. Dari pada mendengarkan gerutuan temannya itu lebih baik Hansen langsung keluar dari Apartemennya karen Reina telah menunggu mereka.
" Hansen ! Kau memang tidak tahu diri
Aku sudah menunggu berjam jam dan setelah selesai kau malah meninggalkanku ?!" Gabriel berteriak kesal.
Hansen mengetuk kaca jendela mobil Reina. Perlahan kaca jendela itu turun dan memperlihatkan wajah Reina yang menatapnya penuh tanya.
" Biar aku yang menyetir." pinta Hansen.
Reina tersenyum lalu keluar dari mobilnya. Untuk beberapa saat Hansen terdiam melihat penampilan Reina yang sangat cantik malam ini dengan gaun merahnya.
" Kau tampan sekali." Reina menatap kagum penampilan Hansen malam ini. Tubuh tinggi tegap yang terbalut setelan jas hitam dengan mawar merah muda di saku depannya. Tindik hitam yang biasa dipakai Hansen pun kini tidak terlihat lagi. Rambut hitamnya tersusun rapi dengan gaya disisir ke belakang.
" Ehem !" Gabriel berdehem keras karena sudah tidak betah lagi melihat Hansen dan Rein yang saling mengagumi.
" Perusuh." gumam Reina menatap Gabriel sinis sebelum berjalan menuju pintu mobil lainnya.
Gabriel yang mengertipun tersenyum dan masuk ke dalam mobil. Dari pada mereka datang terlambat keacara lelang itu lebih baik ia menjadi perusuh sementara kan ? Lagi pula masih ada banyak waktu Hansen dan Reina untuk saling mengagumi satu sama lain.
Hansen mulai menjalankan mobil yang disetir olehnya. Tangannya dengan lihai memutar setir mobil dengan pandangan fokus menatap jalan.
" Kenapa diam ?" Hansen bertanya heran. Pasalnya Gabriel dan Reina itu termasuk orang suka berbicara.
Gabriel mengerutkan keningnya menatap Hansen yang sedang menyetir mobil. Begitupula dengan Reina yang merasa aneh dengan pertanyaan Hansen yang tidak bermutu sama sekali.
" Kau kenapa Hans ?" tanya Gabriel.
" Bukannya bisanya kau menyukai suasana hening ?" Rein ikut bertanya.
Hansen mengusap tengkuknya dan tersenyum canggung. Sebenarnya Hansen merasa aneh dengan dirinya malam ini. Entah mengapa melihat Reina tadi jantungnya berdetak lebih cepat dari pada biasanya. Belum lagi duduk bersebelahan dengan Reina seperti ini juga membuatnya merasa sulit untuk sekedar berbicara basa basi dan saling bercanda.
__ADS_1
Ada apa sebenarnya dengan dirinya ini. Hansen menjadi serba salah sendiri di sini. Ia melirik Reina yang duduk di sebelahnya lalu berganti melihat Gabriel yang duduk di kursi belakang melalui kaca spion dalam mobil. Kenapa pula malam ini mereka hanya diam saja ? Biasanya mereka juga banyak berbicara dan saling melemparkan ucapan ucapan lucu yang membuat suasana semakin ramai.
Gabriel mengulum bibirnya menahan tawa melihat wajah Hansen yang terlihat gelisah. Ia juga melihat temannya itu yang sesekali melirik kearah Reina. Sepertinya benar dugaannya dua bulan ini bahwa Hansen mulai menyukai mawar merah mereka yang cantik.