
" Kapan aku pulang ?" tanya Hansen yang sudah mulai bosan karena terus berada di rumah sakit tanpa bisa bergerak sedikitpun. Bayangkan saja, baru Hansen ingin bergerak Gabriel sudah langsung berteriak memperingatinya dan mengomel layaknya ibu ibu. Belum lagi Jack yang ketagihan membuatkannya susu. Serta Reina yang selalu mencari alasan agar bisa menyuapinya.
Jujur saja perlakuan yang diterima saat ini bukannya membuat Hansen terharu tetapi malah membuatnya tertekan. Khususnya waktu saat minum susu. Jack bahkan pernah mendatangkan seorang wanita berpakaian seksi hanya untuk memaksanya minum susu. Bukannya itu sangat menyeramkan ?.
Untung saja Reina tadi ada pekerjaan mendadak yang membuatnya harus pergi. Kalau tidak tambah sudah penderitaannya hari ini.
" Kapan aku bisa pulang ?" Hansen bertanya lagi.
Gabriel menatapnya jenuh. " Kau bisa diam tidak ? Sudah tahu sedang sakit jangan banyak tingkah. Memangnya kalau kau pulang penyakitmu itu bisa sembuh sendiri tanpa bantuan dokter ?"
Seketika Hansen terdiam mendengarnya. Kalau sudah mengomel seperti itu alamat Hansen tidak akan bisa menang akhirnya.
" Hansen waktunya minum susu." Jack datang dengan segelas susu hangat di tangannya.
Hansen mengumpat dalam hati melihat kedatangan Jack. Benar benar sialan pria itu, dia mencekokinya susu sebagai jalan balas dendam karena telah Hansen buat malu.
" Hm.., aroma susunya enak loh Hans." Jack sedikit mencium aroma susu hangat yang begitu menggiurkan selera namun menakutkan untuk Hansen.
" Ini masih sore belum waktunya minum susu." ucap Hansen yang mencari alasan untuk menghindar.
" Kalau nanti malam yang ada kau akan tertidur duluan sebelum meminumnya. Jadi sekarang jadwal minum susu kita ubah menjadi waktu dua jam sebelum makan." Jack berucap tidak mau kalah. Meski nadanya terdengar seperti memberi pengertian tetapi matanya menyiratkan sebuah ancaman.
Hansen terpaksa mengambil susu itu lalu menekan hidungnya dengan jari telunjuk dan ibu jari. Kemudian diminumnya dengan cepat di bawah pengawasan Jack dan juga Gabriel. Setelah selesai Hansen menutup rapat mulutnya dan bernapas banyak banyak menahan mual.
Jack yang tidak tega mengambil buah jeruk lalu mengupasnya dan memberikannya pada Hansen. " Ini makan, mana tahu ini bisa mengurangi rasa mualmu itu."
Hansen mengambilnya dan memakan buah itu tanpa bersuara. Sungguh baginya susu itu seperti hal yang sangat menjijikkan dan mematikan seperti racun. Padahal saat bayi Hansen masih normal karena menerima ASI dari ibunya. Tapi beranjak besar Hansen malah sangat membenci susu.
" Kau mau makan buah lain ?" tanya Jack.
Hansen mengangguk. " Anggur."
Jack mengambil buah dan menempatkannya ke dalam piring lalu membawanya ke kamar mandi untuk dicuci dulu.
" Mualmu sudah hilang ?" kali ini Gabriel yang bertanya.
__ADS_1
" Sudah, Riel aku benar benar tidak betah di sini." ucap Hansen.
" Kau harus sembuh dulu Hans. Baru kau bisa keluar dari sini sesuai keinginanmu. Jika dipaksakan kau mungkin tidak akan bisa berjalan dan memegang kamera dengan benar lagi." Gabriel mencoba menjelaskan maksudnya agar Hansen tidak terus keras kepala ingin keluar dari rumah sakit ini.
" Hans ini buahmu." Jack menaruh piring keatas pangkuan Hansen. " Mau kusuapi ?" tawarnya.
" Tidak aku bisa sendiri."
" Hei, aku baru tahu kau menyukai jeruk dan anggur. Pantas saja bos selalu membeli kedua buah itu dari kemarin. Kau seperti bangsawan saja yang menyukai anggur."
Kunyahan Hansen sempat berhenti sejenak mendengar kalimat terakhir yang diucapkan Jack untuknya. " Memangnya harus bangsawan dulu yang menyukainya ?"
" Tidak sih, sudahlah tidak usah kau pikirkan. Itu tadi hanya ucapan asalku saja."
.
...*****...
.
PLAK !
" Bos ka..kami tidak tahu kalau di..dia.."
PLAK !
" Bodoh !" lelaki botak itu menampar kencang wajah anak buahnya yang sedang berbicara.
" Bos ! Bos ! Ada enam orang datang mengacau di markas kita !" seorang pria kurus berlari menghampiri lelaki botak itu.
Lelaki botak itu menggeram marah. Ini semua akibat kebodohan anak buahnya. " Ayo kita temui mereka."
" Tidak usah kami sudah di sini." Rigel datang bersama Saiph, Alnitak, Alnilam, Bellatrix, dan Mintaka.
Lelaki botak itu mengerutkan keningnya melihat enam orang yang datang ke markasnya. Seingatnya si pemburu tidak memiliki anggota. " Siapa kalian ?"
__ADS_1
" Rasi Bintang, anggota inti dari sang pemburu. Kami hanya datang untuk menjemput bedebah gila yang mengusik pemimpin kami. Berikan atau..., kita perang di sini." ucap Bellatrix.
Mata lelaki botak itu terbelalak mendengarnya. Jadi rumor entang sang pemburu yang bekerjasama dengan mafia itu benar ?.
" Jung Deon kebangsaan negara timur dan memimpin kelompok pembunuh bayaran bernama ular melata. Ups.., maksudku Snake." Mintaka berbicara dengan senyum ramahnya. " Berikan kami jawabanmu atau kami anggap diammu itu sebagai jawaban menantang kami." sambungnya.
Jung Deon si lelaki botak itu langsung gelagapan karena bingung menjawab. Melawan berarti menantang maut, mengalah berarti ia harus rela menyerahkan sepuluh anak buah terbaiknya kepada mereka.
" Jung Deon." Rigel memanggil lelaki botak itu dengan tegas.
Jung Deon menatap anak buahnya yang sedang berlutut. Mereka terlihat menggelengkan kepala dan menatapnya memohon agar Jung Deon tidak memberikan mereka kepada Rasi Bintang.
" Menyedihkan sekali kalian ular. Mangkanya berpikir dahulu sebelum memakan sesuatu. Jangan langsung menelannya bulat bulat dan membuat kalian berakhir menyedihkan." celetuk Alnitak yang mulai jengah melihat drama perpisahan antara sang ketua dan bawahan setia dari kelompok ular melata itu.
Jung Deon mengalihkan pandangannya kearah lain selain anak buahnya. " Ambillah dan segera pergi dari sini."
" Bos !"
" Bos kami mohon ampuni kami bos !"
" Bos !"
Jung Deon memejamkan matanya dan berusaha tidak mendengar apa apa. Hanya satu perbuatan mereka berakhir menjadi seperti ini. Sedangkan Jung Deon tidak memiliki kekuatan untuk menantang sang pemburu.
" Alltrix." panggil Rigel memberi isyarat.
" Aku tahu." Bellatrix berjalan mendekati anak buah Jung Deon lalu menaburkan serbuk putih yang membuat mereka terjatuh pingsan.
Setelah itu Saiph datang dan mengikat mereka. Rigel, Bellatrix, dan Mintaka akan membawa masing masing dua orang. Sedangkan ia akan membawa empat orang sekaligus. Karena itu Saiph mengikat mereka secara berkelompok agar mudah dibawa nanti.
" Mereka seperti kurban." ucap Alnilam yang melihat pekerjaan Saiph.
" Ya dan lebih tepatnya kurban ular. Kau suka makan ular ?" tanya Alnitak.
Alnilam memandang anak buah Jung Deon lalu menggeleng. " Aku tidak suka ular hitam khususnya yang jarang mandi seperti mereka."
__ADS_1
Alnitak tertawa mendengarnya. " Aku kira kau pemakan segalanya."
" Kalau untuk yang satu ini aku tidak mau." Alnilam bergidik jijik memandang kulit para anak buah Jung Deon yang terlihat hitam.