
" Kau mandi jam segini ?" Gabriel bertanya dengan mata yang masih mengantuk.
Hansen mengeringkan rambutnya menggunakan handuk lalu mengangguk. " Apa masalahnya ?"
" Ini masih jam empat subuh dan ini musim dingin. Kau sengaja mencari penyakit atau apa ?"
Hansen mengangkat bahu acuh berjalan mengambil pakaiannya di dalam lemari. " Tumben kau sudah bangun ? Biasa kau bangun bersama munculnya matahari."
" Aku terbangun karena mendengar aliran air dari dalam kamar mandi. Kau tidak takut sakit mandi di jam seperti ini ?"
" Tidak."
Sembari menguap lebar Gabriel beranjak duduk dan bersandar. Memandang Hansen sedang yang sibuk menyisir rambutnya. Padahal ini masih sangat pagi tapi temannya itu sudah mandi dan berdandan. Gabriel tersenyum saat sebuah pernyataan masuk ke dalam pikirannya.
" Hans jawab jujur, kau mandi karena apa tadi ?"
" Gerah." jawab Hansen.
" Benarkah ?" Gabriel bertanya lagi karena merasa tidak yakin. Bagaimana tidak, dimulai dari sekarang sampai tiga bulan ke depan adalah musim dingin dan Hansen mandi pukul empat pagi. Dimana itu masihlah sangat dingin meski telah mandi dengan air hangat sekalipun.
Hansen mendekati Gabriel dan ikut bersandar di ranjang. " Ada memangnya ?"
" Hans kau tidak sedang mimpi itu kan ?"
Hansen menaikkan alisnya sebelah menatap Gabriel penuh tanya. " Mimpi apa ?"
Gabriel hanya diam dengan tersenyum aneh. Sampai empat menit kemudian barulah Hansen paham dengan arah pertanyaan yang Gabriel maksudkan.
Hansen tertawa dan menepuk pundak Gabriel. " Pikiranmu terlalu kotor."
" Hei, itu wajar aku berpikir seperti itu tentangmu. Melihatmu yang mandi sepagi ini disaat musim dingin dengan alasan gerah. Kau kira kemana lagi tujuan pemikiranku berakhir selain itu ?!" Gabriel menepis tangan Hansen dari pundaknya.
Tawa Hansen bertambah kencang. Pemikiran Gabriel di luar dugaannya, bagaimana bisa pria itu menebak kearah yang sangat tidak mungkin dilakukan olehnya. Kalau begini seharusnya Gabriel harus banyak banyak mensucikan pikiran agar tidak terlalu kotor. Lagi pula Hansen terpaksa mandi pagi seperti ini hanya untuk menghilangkan bau amis darah setelah bermain tadi malam.
Kalau saja Hansen tidak cepat cepat mandi ia yakin Gabriel pasti akan curiga karena mencium bau amis dari tubuhnya. Hansen menatap Gabriel di sebelahnya lalu tersenyum samar. Untung saja wajah Gabriel tidak mirip dengan George karena gen ibunya yang lebih kuat. Andai saja Gabriel memiliki wajah yang sama dengan penghianat itu mungkin tanpa berpikir panjang lagi Hansen langsung membunuhnya.
" Astaga aku hampir lupa." celetuk Gabriel.
__ADS_1
" Apa ?"
Gabriel tersenyum lalu mengambil ponselnya dan menunjukkan sebuah pesan pada Hansen. " Reina akan pulang nanti dan kita diminta untuk menjemputnya ke bandara."
Hansen yang membaca pesan itu mengerutkan keningnya. " Dia mengirim pesan kepadamu tapi memintaku juga ikut menjemputnya ? Apa dia kekurangan uang sampai hanya bisa satu pesan saja ?"
Gabriel langsung terkekeh dan menahan tawa kencangnya. " Kau cemburu ?"
" Tidak, untuk apa aku cemburu ? Kami tidak memiliki hubungan khusus apapun." jawab Hansen.
" Kalau begitu aku akan meminta pada ayahku untuk melamarnya nanti."
Hansen tanpa sadar menatap tajam Gabriel. " Kau ingin menikahinya ?"
" Iya, sekalian untuk menghindari perjodohan yang dilakukan ayahku. Kau tidak mau dengannya jadi aku saja yang mendekatinya." Gabriel diam diam tersenyum licik menatap Hansen penuh arti.
" Aku bukan tidak mau." sanggah Hansen.
" Lalu ?"
...*****...
Reina tersenyum lebar dan berlari merentangkan tangannya untuk memeluk pria yang sangat ia rindukan. Selama seminggu di negara Timur rasanya Reina ingin sekali berlari pulang hanya untuk sekedar melihat wajahnya.
" Reina !" Gabriel berteriak memanggil Reina dengan tangan terentang menyambut pelukan. Namun setelah saat Reina hampir mendekatinya gadis itu malah melewatinya dan memeluk Hansen layaknya koala.
" Hansen aku merindukanmu !"
Hansen tersenyum canggung mendapatkan pelukan Reina. Matanya memandang Gabriel yang tengah tercengang dengan tangan yang masih terentang. Pasti pria itu mengharapkan pelukan dari teman masa kecilnya ini.
" Hans aku merindukanmu." Reina kembali berucap dan melepaskan pelukannya. " Kau tidak merindukanku ?"
Hansen mengangguk sambil mengusap lembut kepala Reina. Ada rasa senang yang sulit digambarkan saat Reina memilihnya sebagai orang pertama yang dipeluknya tadi. Tapi ada juga rasa bersalah yang menghampirinya saat melihat Gabriel yang tercengang seperti tadi.
" Ehem !" Gabriel berdehem kencang. " Kau tidak merindukanku Rein ?" lanjutnya bertanya.
Reina memeluk lengan kekar Hansen dan bergelayut manja. " Tidak, wajahmu itu sangat membosankan."
__ADS_1
" Hei ! Aku yang kau suruh menjemputmu dan kau malah memeluk Hansen !" Gabriel berteriak merasa tidak terima. Hansen berada di sini karena hasil bujukannya yang ditambah dengan bumbu bumbu pemanas rasa cemburu. Andai saja tidak ada Gabriel mungkin Reina tidak akan mendapati Hansen yang menjemputnya.
Reina tertawa dan menjulurkan lidahnya mengejek Gabriel. " Kau kan pembantuku."
" Awas kau Rein ! Aku akan memakanmu nan..."
" Ehem ! Gabriel memakan yang kau maksud itu apa ?" Hansen bertanya dengan tatapan dinginnya.
Glek, matilah ia sekarang juga. Gabriel menelan ludahnya susah payah saat melihat tatapan dingin di mata Hansen. " Ma..maksudku..."
" Lain kali tolong perjelas saja ucapanmu." Hansen melepaskan tangan Reina dari lengannya lalu berbalik melangkah pergi.
" Lihat dia pergi karenamu Riel. Kau menyebalkan sekali sih." ucap Reina sebelum mengejar Hansen.
Gabriel memasang wajah mengenaskan melihat kedua temannya pergi meninggalkannya begitu saja. Padahal yang menyatukan dan mempertemukan mereka adalah dirinya. Tapi kenapa sekarang malah ia yang disalahkan. Seharusnya Reina menyalahkan Hansen yang mudah cemburu tetapi gengsi mengungkapkannya.
Mana koper besar Reina masih ada di sini lagi. Gabriel merengut dan berjalan lesu sambil membawa koper besar milik Reina. Kalau seperti ini akhirnya lebih baik kedua temannya itu tidak usah saling mencintai saja. Gabriel tidak ingin dijadikan tumbal mereka seperti saat ini.
" Kau lambat sekali Gabriel." ucap Hansen yang telah berada di dalam mobil.
Mendengar itu Gabriel melotot kesal. Dari tadi ia membawa barang berat ini sendirian dan mereka malah asik berduaan di dalam mobil. Boleh tidak kalau Gabriel mengorbankan mereka sebagai tumbal kekayaannya ?.
" Kau tidak lihat barang yang kubawa ini berat sekali ?!"
Hansen melihat koper besar yang dibawa Gabriel. Ia tersenyum lalu keluar dari mobil mendekati temannya itu. Tanpa bicara Hansen membuka bagasi mobil dan memasukkan koper besar itu dengan satu tangannya.
Gabriel terperangah melihatnya. " Kau mengangkatnya ?"
" Aku memakannya." Hansen menjawab asal dan kembali masuk ke dalam mobil.
Gabriel membuka pintu belakang dan ikut masuk ke dalam mobil. " Hans tanganmu normal ?"
Hansen membuka jaketnya dan menunjukkan tangannya yang berotot pada Gabriel. " Lihat masih manusiawi kan ?"
Gabriel mengangguk dengan wajah tertegun. Berbeda dengan Reina yang sangat antusias melihat tangan Hansen.
" Hansen ayo kita menikah !"
__ADS_1