
Selesai mereka makan, Gabriel mencuci piring. Bagaimanapun ia masih tahu diri karena tadi Hansen yang telah mencari makanan. Sekarang gantian Gabriel yang bekerja yaitu dengan cara mencuci piring bekas mereka makan.
" Siap ini kau mau jalan jalan ?" Gabriel melirik Hansen yang sedang mengunyah buah apel di meja makan.
" Hem..., boleh juga. Aku juga ingin mencari inspirasi baru tentang fotoku." ucap Hansen setuju.
" Ngomong ngomong tentang Apartemen aku yang akan membayarnya. Untuk makan..."
" Biar aku saja kalau untuk itu." Hansen berucap cepat memotong ucapan Gabriel.
Gabriel menganggukkan kepalanya. " Ya, terserah kau saja."
" Hei, kalau bisa ajak Jack juga."
" Jack ? Untuk apa ?" Gabriel bertanya bingung. Untuk apa asisten pribadinya itu ikut dalam acara jalan jalan mereka.
Hansen mengangkat bahu acuh. " Agar lebih ramai. Lagipula kalau hanya kita berdua itu kurang seru menurutku."
" Memangnya kau ingin kemana sampai membutuhkan banyak orang ?"
" Pantai."
Gabriel langsung terdiam mendengar nama tempat itu disebutkan. Pantai, tempat bersejarah yang sangat ia hindari karena setiap kali mereka mengunjungi pantai maka Hansen akan mengingat Monica di sana.
" Kenapa kau ingin ke sana ?" tanyanya ragu.
Hansen tersenyum namun tatapannya berubah sendu. " Aku ingin berselancar dan juga berlayar di sana. Sepertinya seru bila kita melakukan itu bersama. Aku juga ingin menghebohkan kantor dengan ketampanan kita."
" Tolong jangan buat kekacauan lagi karena yang kemarin saja aku sampai mengungsi ke tempatmu." pinta Gabriel yang duduk di depan Hansen setelah selesai mencuci piring.
Hansen menggelengkan kepalanya. Hari ini suasana hatinya cukup menyenangkan. Jadi untuk apa ia membuat kekacauan lagi. Bahkan pikirannya sekarang lebih dari itu, Hansen akan menghebohkan kantor dan juga para wanita negara Z tentang pesona seorang pria tampan.
" Kali ini aku yakin kau akan mendapatkan banyak kerjasama."
__ADS_1
" Aku tidak akan ragu kalau kau bilang begitu." Gabriel yakin Hansen tidak akan berbuat aneh bila temannya itu sudah berbicara penuh keyakinan seperti saat ini. Hansen berani berbicara seperti itu berarti dia telah memikirkan sebuah rencana yang menguntungkan untuk mereka.
" Tapi apa Jack mau ikut kita ? Ini kan hari libur, pasti dia sedang bersantai bersama kekasihnya." ucap Hansen.
Gabriel yang mendengar itu mendesis sinis. " Kau pasti tidak tahu kalau dia itu belum pernah berpacaran sekalipun."
" Benarkah ?" tanya Hansen yang merasa terkejut dengan berita itu.
" Ya, dia bahkan tidak tahu caranya berciuman. Entahlah, terkadang aku heran melihatnya. Dia seperti tertukar denganmu kalau kulihat lagi."
" Maksudnya ?" Hansen menatap Gabriel tidak mengerti.
" Maksudku kalau dilihat lagi kau dan dia seperti memiliki hal yang tertukar. Dia memiliki wajah yang nakal tapi nyatanya dia tidak pernah berpacaran. Sedangkan kau, wajahmu terlihat pria baik baik tetapi nyatanya kau buaya darat yang suka menggoda kaum wanita. Kepribadian seperti tertukar." jelas Gabriel.
Hansen yang mendengarkan dari awal menjadi tertawa. Ia tidak menyangka kalau ternyata Gabriel bisa meneliti orang sampai segitunya. " Sepertinya kau paham sekali dengan kami.
" Tentu saja, kau temanku mana mungkin aku tidak paham denganmu. Sedangkan Jack adalah sekertaris pribadiku. Kami sering bersama saat di kantor yang membuatku mau tidak mau memahaminya."
" Benar juga." gumam Hansen. " Ya sudah, ayo kita bersiap." sambungnya.
.
...*****...
.
Jack mengipasi wajahnya dengan topinya. Panasnya pantai tidak sebanding dengan panas kepalanya. Sudah hampir dua jam ia menunggu di pantai sendirian setelah menerima panggilan dari bosnya yang berujung ancaman gajihnya.
" Tadi dia sendiri yang bilang untuk cepat datang. Sekarang lihatlah, jangankan batang hidungnya. Bayangannya pun tidak terlihat sedari tadi." beginilah akhirnya Jack mengomel sendiri. Ia sudah seperti orang hilang yang duduk sendirian di bawah pohon selama dua jam lamanya.
Kalau begini siapa yang membuat janji, siapa pula yang ingkari. Benar benar bosnya itu minta dimiskinkan agar tahu penderitaan seorang bawahan sepertinya.
" Yo ! Jack !"
__ADS_1
Jack mendengus kesal mengetahui siapa pemilik suara dari teriakkan itu. Jarak lima belas meter dari darinya Jack melihat Hansen yang melambaikan tangan kearahnya dan bos sialannya itu.
" Kau sudah lama di sini ?" tanya Hansen yang baru saja sampai dan duduk di sebelah Jack.
" Tidak, baru saja sejak dua jam lalu." jawab Jack ketus yang membuat membuat Gabriel tersenyum canggung.
Hansen terkekeh dan menepuk pundak Jack. " Kau mending, bahkan aku pernah sampai tertidur gara gara menunggunya."
" Ehem !" Gabriel yang merasa tersindir sengaja berdehem untuk mengalihkan perhatian dua pria yang secara terbuka membicarakannya. Hah, asisten dan temannya ternyata mereka satu spesies yang sama.
" Apa ?" tanya Hansen pura pura tidak tahu.
" Ayo kit mulai dari berlayar dulu baru kita bisa menentukan permainan yang akan kita lakukan." ujar Gabriel.
Hansen tersenyum senang mendengarnya berbeda dengan Jack yang terlihat pasrah. Setidaknya di sini Jack bisa menikmati pantai sepuasnya.
" Di sini jangan panggil saya bos. Kita seumuran anggap saja kita teman sekarang dan juga maaf karena membuatmu menunggu tadi." Gabriel yang merasa tidak enak pada asistennya itu meminta maaf.
" Tapi bos saya..."
" Turuti saja dari pada liburan kita ini gagal." Hansen merangkul Jack layaknya mereka teman dekat. " Moodnya itu seperti wanita. Jadi pahami saja dan iyakan saja apa yang dia minta." lanjutnya berbisik.
Jack mengangguk paham, lagipula kalau bosnya semakin kesal bisa bisa gajihnya benar dipotong. Jack tidak mau hal itu terjadi karena ia sangat membutuhkan gajihnya itu untuk bertahan hidup.
" Jadi ?" tanya Gabriel.
" Iya aku akan menganggap ini liburan antar teman." jawab Jack yang membuat Gabriel tersenyum puas.
" Bagus, sekarang ayo kit berlayar !" Hansen mengepal tangannya ke atas dengan semangat.
" Ayo aku juga sudah menyewa kapal untuk kita." Gabriel berjalan lebih dulu memimpin Hansen dan Jack ke kapal yang telah disewa sebelumnya.
" Enak kan kalau liburan bareng bos. Semuanya gratis tanpa perlu kita keluar uang banyak." Hansen berbisik pelan pada Jack di sebelahnya.
__ADS_1
" Aku belum tahu karena ini pertama kalinya untukku." balas Jack meski dalam hatinya ia mengakui ucapan Hansen. Menyewa kapal untuk menikmati pantai bukanlah harga yang murah. Jika mereka tidak pergi bersama Gabriel mungkin mereka akan mengeluarkan uang cukup banyak hanya untuk menyewa kapal saja.
Jack menatap Hansen dari samping. Apa karena ini Hansen senang berteman dengan bosnya ? Jack segera menghilangkan pemikirannya itu. Hansen tidak mungkin menjadi orang yang seperti itu karena bosnya dan dia berteman sejak mereka masih kecil. Tidak mungkin Hansen berteman dengan bosnya karena kemewahan ini. Lagipula Hansen bukanlah tipe seorang penjilat. Jack menggelengkan kepalanya pelan mengusir pemikiran buruk itu.