
Zairan meletakkan telapak tangannya di batu pipih yang berlumut. Tak lama kemudian dinding batu di depannya bergeser sedikit demi sedikit hingga menampakkan sebuah lorong dengan anak tangga yang tersusun rapi kearah bawah.
Orion menatap tajam lorong itu. " Kau yakin ?"
" Ya." Zairan menjawab tegas. " Tapi aku punya satu permintaan."
Orion mengangkat alisnya sebelah menatap Zairan penuh tanya.
" Aku ingin hanya kau dan aku yang masuk ke dalam sana."
" Apa ! Kau ingin mengerjai kami ?!" Saiph mencengkram erat bahu Zairan. Tangannya dengan sigap memposisikan pistolnya tepat di belakang kepala Zairan.
" Tidak." Zairan mengangkat kedua tangannya.
Rigel, Bellatrix, Alnilam, Alnitak, dan Mintaka menatap Orion dengan tatapan tidak setuju. Jika Zairan berkhianat, Orion bisa saja mati di dalam sana. Bagaimana pun juga Zairan adalah mafia kejam yang terkenal di zamannya. Tidak akan ada yang tahu kalau nanti pria itu berbalik arah menikam mereka.
" Orion kita bisa mencari jalan lain." ucap Rigel.
Orion memandang Rigel yang sedang menatapnya. Orion mengerti arti tersirat dari tatapan itu tetapi rencana mereka tidak akan berhasil tanpa resiko.
" Ak..."
" Kau berbicara setuju maka aku akan meledakkan kepalanya." ancam Saiph dengan matanya menatap marah pada Orion.
" Dari awal aku memang tidak terlalu menyukainya." Mintaka berucap pelan.
" Siapa pemimpinmu Saiph ?" tanya Orion.
" Orion." Saiph memandang Orion tidak terima.
" Aku bertanya siapa pemimpinmu Saiph ?!" Orion bertanya kembali dengan suara bernada tinggi penuh ketegasan.
Saiph menatap Orion beberapa detik lalu melepaskan Zairan dengan terpaksa. Kepalanya menunduk menyembunyikan tatapan marah yang sedang dirasakannya saat ini. Saiph tidak ingin Orion masuk ke dalam sana sendirian. Setidaknya salah satu diantara mereka ada yang menemaninya. Tetapi Orion, pria keras itu yang sialnya adalah pemimpin di misi ini lebih memilih mengabaikannya.
" Berikan ransel kalian." perintah Orion.
Rigel, Bellatrix, Alnilam, Alnitak, dan Mintaka langsung melepaskan ransel mereka dan memberikannya pada Orion. Sedangkan Saiph masih tetap diam tanpa berniat melepaskan ranselnya.
Orion menoleh kearah Saiph. " Saiph."
Saiph menghiraukan Orion. Tangannya mengepal menahan amarah di dalam dadanya.
" Ikuti atau kau keluar dari Rasi Bintang detik ini Saiph !"
" Orion." Alnilam menggelengkan kelapanya menatap Orion penuh permohonan.
__ADS_1
" Saiph !" teriak Orion.
" Saiph tolong jangan hancurkan kelompok ini hanya karena sifat keras kepalamu itu." Rigel memperingati Saiph. Teriakkan Orion bukanlah pertanda bagus karena biasanya pria itu selalu tenang tanpa emosional.
Saiph melepaskan ranselnya lalu melemparkannya didekat kaki Orion. Setelah itu berbalik pergi menjauh dari kelompoknya. Alnilam beranjak mengikuti Saiph meninggalkan teman temannya.
" Ayo Zai." Orion mengambil tiga ransel temannya dan tiga lagi diberikan pada Zairan.
Zairan menganggukkan kepalanya dan berjalan lebih dulu dengan senter di tangannya sebagai penerang jalan.
" Maafkan aku. Karena permintaanku kau bertengkar dengan Saiph."
Orion menepuk pundak Zairan dari belakang. " Dia memang orang yang tempramental. Kami besar bersama jadi itu bukanlah masalah."
" Tapi tetap saja aku minta maaf."
" Ya terserah kau saja."
Zairan menghentikan langkahnya dan meraba dinding untuk mencari tombol penerang ruangan yang telah dihafalnya.
Setelah penerang hidup, Orion terdiam sambil menatap ke depan. Di sana Orion melihat tumpukkan mutiara dan berlian langkah serta lukisan.
" Lukisan itu..." mata Orion melebar seketika. Apakah karena ini alasan Zairan untuk tidak memperbolehkan yang lain mengikuti mereka ?.
Rigel menatap jam tangan hitam di pergelangan tangannya untuk yang kesepuluh kalinya. Sudah setengah jam Orion bersama Zairan di dalam sana tetapi mereka belum keluar sampai saat ini.
" Sudah berapa menit ?" tanya Bellatrix.
" Tiga puluh." jawab Rigel.
Mintaka melempar batu kecil kearah dinding sebagai pelampiasan dari rasa kesalnya. Di sampingnya Alnitak bersandar sembari menutup mata.
Rigel semakin khawatir mengambil ponselnya berniat menghubungi Orion tetapi saat ponselnya menyala sebuah pesan membuatnya terkejut.
" Ada apa ?" Bellatrix mendekati Rigel yang terkejut menatap ponselnya.
Tepat Bellatrix melihat dan membaca pesan di ponsel Rigel. Bellatrix terdiam dengan wajah berubah pucat.
Mintaka yang masih melempar batu tanpa sengaja melihat raut wajah Rigel dan Bellatrix menjadi penasaran. Dengan cepat Mintaka melangkah mendekati Rigel dan ikut melihat layar ponsel. Mintaka terkejut melihat isi pesan di ponsel Rigel.
" Jangan ada yang memberitahu Orion tentang ini sebelum tugas kita selesai. Mintaka kau cari siapa dalangnya beserta bukti buktinya." Rigel menatap kedua saudaranya.
" Baik." Mintaka mengangguk lalu menatap pintu batu dimana Orion pergi bersama Zairan.
Di dalam ruangan yang menyimpan tumpukkan mutiara dan berlian Orion menatap Zairan jijik. Orion tidak menyangka kalau pria mafia yang terkenal kejam dan menakutkan ternyata adalah pria mesum dan obsesi.
__ADS_1
" Kau menjijikkan." Orion mengutarakan apa yang dirasakannya.
Zairan mengusap tengkuknya sambil tersenyum tipis menahan malu. " Aku hanya iseng."
" Tidak ada yang namanya iseng hingga sebanyak itu. Kau melukis mantan tunanganmu dalam keadaan telanjang ? Dasar gila."
" Dulu aku sangat mencintainya sampai tahap obsesi. Jadi aku melakukan hal gila ini tapi itu semua kulakukan sebelum aku tahu kebusukannya." Zairan menutupi lukisan lukisannya yang terbuka dengan kain hitam.
" Dan sekarang ?" tanya Orion.
Zairan melirik Orion sekilas. " Sudah tidak."
" Sudah tidak tapi lukisannya masih kau simpan." cibir Orion.
Zairan tertawa lalu berbalik mendekati Orion yang masih memasukkan mutiara ke dalam ransel. " Aku membencinya tapi aku tidak membenci rasa cintaku untuknya."
" Sebab itu kau masih menyimpan lukisannya ? Tidak masuk akal." ucap Orion.
Zairan mengangguk sambil membantu Orion yang hampir selesai. " Lukisan itu kubuat dengan rasa cinta."
Orion mendengus kesal. " Rasa cintamu tidak wajar Zai."
" Memang, aku pun menyadarinya. Tetapi mau bagaimana lagi." Zairan mengambil permata merah muda yang hanya ada satu satunya di sana.
" Aku masih memiliki harapan. Orion maukah kau membantuku ?" tanyanya.
" Hm."
Zairan tersenyum dan memasukkan permata merah muda ke dalam saku celananya. " Kalau aku mati nanti, tolong kubur ragaku di sini. Tapi jika tidak memungkinkan abuku pun juga tidak apa apa."
Orion menghentikan kegiatannya menoleh menatap Zairan yang sedang tersenyum kearahnya. " Jangan asal berbicara."
" Entahlah." Zairan menghela napas dengan pandangan melihat dinding dan hartanya.
" Perasaanku mengatakan hal lain Orion. Aku minta bantuanmu dan imbalannya kau bisa mengambil semua hartaku di sini. Kecuali lukisan itu dan tolong tanam pohon yang berbunga di dekat kuburanku nanti." lanjutnya.
" Permintaanmu terlalu banyak untuk orang yang mau mati Zairan."
" Aku kan meminta tolong." ucap Zairan.
" Dengan imbalan hartamu begitu ? Yang benar saja. Kau malah terlihat seperti ingin mengajakku bekerjasama."
" Orion, sebagai patner." Zairan memandang serius Orion di depannya.
Orion menutup ransel yang telah terisi mutiara sebelum memandang Zairan. " Akan aku usahakan untuk itu."
__ADS_1