Orion (Sang Pemburu)

Orion (Sang Pemburu)
Ketahuan


__ADS_3

Jenderal Jin keluar dari dalam mobilnya. Pandangannya menelusuri tanah gersang yang tidak sesubur dulu. Tanah kelahirannya yaitu negara N atau biasa dikenal sejarah dengan nama negara Neverendra. Negara yang dulu membuatnya harus membanting tulang dan menguras seluruh darahnya untuk bisa mencapai kesuksesan yang ia inginkan sekarang.


Jenderal Jin masih ingat dimana ditempat ia berdiri inilah. Dirinya diolok olok sebagai orang yang tidak memiliki kemampuan apapun.


" Jenderal apa yang sedang anda cari di sini ?" Klein yang melihat tuannya hanya diam berdiri memutuskan untuk ikut keluar dari dalam mobil.


Jenderal Jin tersentak lalu menggelengkan kepalanya. " Ayo masuk kembali ke mobil."


Klein masuk lagi ke dalam mobil. Mereka melanjutkan perjalanan yang tertunda. Namun di tengah perjalanan tiba tiba Jenderal Jin kembali menghentikan mobilnya. Hal itu lagi lagi membuat Klein merasa bingung.


" Ada ap..." sebelum sempat Klein bertanya Jenderal Jin mengangkat tangannya ke atas sebagai isyarat untuk menutup mulutnya.


Jenderal Jin memicingkan matanya memandang seorang pria membawa tongkat masuk ke dalam mobil bersama seorang pria muda. Tak lama Jenderal Jin menyeringai, sudah ia duga peristiwa yang terjadi tidak mungkin ada bila tidak ada deretan dari masa lalu. Sebuah kebetulan yang sangat menguntungkannya.


Ternyata selama ini dia bersembunyi di negara ini. Kenapa Jenderal Jin tidak menyadari kalau dari seluruh orang yang telah dibunuhnya saat itu hanya dia yang tidak ada di dalam Mansion. Jenderal Jin menyetir mobilnya perlahan mengikuti mobil yang dikendarai oleh pria memakai tongkat itu.


Kematian Samuel dan Dekandra pasti karena dia. Jenderal Jin yakin itu karena dari mereka semua hanya dia yang memiliki kepercayaan penuh pada Frendick. Serta hanya dia juga yang tidak terlihat oleh Jenderal Jin saat masa pembantaian itu terjadi.


" Frendick ternyata kau masih menyisakan pengikutmu yang bodoh itu." gumamnya.


Jenderal Jin terus mengikuti kemana perginya mobil pria yang yang memakai tongkat itu. Meski dalam jarak jauh Jenderal Jin berusaha untuk setransparan mungkin dengan keberadaannya. Ia tidak mau kalau keberadaannya diketahui lebih dulu sebelum mengetahui dimana keberadaan orang itu.


" Jenderal bukannya ini berbeda dari jalan yang kita tuju ?" tanya Klein.


" Ya."


" Lalu kenapa Jenderal masih mengarah kearah yang berlawanan dari yang kita tuju ?" Klein masih bertanya karena masih tidak paham dengan jalan pikiran tuannya itu.


Jenderal Jin tersenyum miring. " Mencari tikus kecil." jawabnya.


Klein semakin bingung mendengar jawabannya itu. Tikus kecil katanya tadi ? Tikus kecil apa yang diikuti dengan menggunakan mobil seperti ini.


Jenderal Jin melirik wakilnya itu sekilas. " Kau yang memiliki kapasitas kecil di dalam kepalamu lebih baik berhenti bertanya."

__ADS_1


Klein memegang dada kirinya yang terasa sakit. Ucapan Jenderal Jin cukup menyakiti perasaannya yang lembut ini.


" Jangan membuat drama, aku tahu persis seperti apa dirimu sebenarnya Klein." ucap Jenderal Jin.


Klein tersenyum masam mendengarnya. Padahal ia benar benar sakit hati tetapi tuannya itu malah menuduhnya berpura pura. Nasib memang memiliki atasan yang tidak peka sama sekali.


Mobil yang dikendarai Jenderal Jin perlahan berhenti di dekat pohon besar. Dengan pandangan yang tidak pernah beralih dari mobil yang diikutinya Jenderal Jin tersenyum bahagia. Rencana jahat satu persatu tersusun di kepalanya. Hanya tinggal menunggu waktu saja untuk Jenderal Jin bisa memusnahkan tikus kecik di pengikut Frendick itu.


.


...*****...


.


Malam yang gelap dengan langit yang dihiasi bintang. Tidak pernah bosan Neus memandangi benda kecil yang bersinar di langit malam saat ini. Neus berharap benda kecil itu selalu bersinar terang meski langit akan mendatangkan hujan. Seandainya benda kecil itu jatuh suatu hari nanti, setidaknya dia jatuh untuk mendapatkan harapan baru bagi semua orang.


" Sudah sangat lama sekali."


Tubuh Neus menegang mendengar suara itu. Suara berat dan penuh otoriter yang hampir mirip tuannya. Si penghianat kejam yang membantai seluruh keluarga dan juga rekan rekannya. Neus membalikkan tubuhnya dan melihat pria paruh baya yang sepantaran dengannya tengah berdiri tidak jauh darinya.


Neus tersenyum tipis. " Setidaknya aku masih memiliki kepintaran yang dari dulu selalu kau inginkan Jin."


Jenderal Jin tertawa dan berjalan beberapa langkah ke depan. Ia memandangi kamar Neus dan beralih melihat luar balkon yang memperlihatkan langit malam penuh bintang. Lalu kemudian kembali memandang Neus yang masih sama seperti dulu.


" Kau tidak berubah, tetap sombong dan sok tahu seperti tuanmu."


" Setidaknya aku tidak berkhianat dengan membunuh seluruh keluarga dan rekanku." balas Neus.


Jenderal Jin mengangkat pandangan dengan angkuh. " Karena itulah kau hanya berakhir menjadi pria tua yang lemah seperti sekarang."


" Lemah bukan berarti kalah bukan ?" disela bicaranya Neus diam diam bersiap menekan tombol yang ada di tongkatnya.


" Bersembunyi selama puluhan tahun bagiku itu adalah kekalahan dari seorang pengecut." ucap Jenderal Jin.

__ADS_1


Neus tersenyum seperti biasa saat mereka dulu masih menjadi teman. " Untuk membalas penghianat dianggap pengecut pun bukan masalah untukku."


Jenderal Jin bersiul sesaat. " Kau semakin pintar berkata. Sayang sekali tuan muda yang kau banggakan sudah bersatu dengan bintang di langit itu."


" Aku lebih tahu darimu." balas Neus.


" Karena itulah aku masih belum membunuhmu Neus. Aku yakin kau merencanakan sesuatu karena tidak mungkin pria tua memakai tongkat sepertimu mampu melakukannya."


" Percuma, kau tidak akan mendapatkan apapun dariku."


Jenderal Jin menyeringai licik. " Kalau begitu setidaknya aku bisa mendapatkan nyawamu."


Dengan cepat Jenderal Jin mengambil pistol dari saku celananya. Ia berjalan mendekati Neus dengan kebanggaan yang tersirat dimatanya.


SRING !


Neus menekan tombol di tongkatnya lalu menarik gagangnya ke atas yang ternyata itu adalah sebuah pedang. Jenderal Jin berdecak melihat itu karena jujur saja ia benci dengan benda yang bernama pedang dan juga panah.


" Kau yakin bisa menandingi kecepatan peluruku ?" tanya Jenderal Jin meremehkan.


Neus menggeleng pelan. " Setidaknya aku akan mati sebagai prajurit seperti dulu dengan pedangku."


Jenderal Jin menurunkan pistolnya dan tertawa. " Bagaimana kalau kita bekerja sama sama Neus. Kulihat kau masih tangguh seperti dulu dan berhentilah menjadi anjing yang setia. Karena pemilikmu saja sudah menjadi tanah."


" Setidaknya anjing ini tidak pernah menjadi penjilat untuk menjadi majikan." jawab Neus.


Jenderal Jin terlihat marah mendengarnya. " Kurang ajar !"


Ia mengangkat pistolnya dan mengarahkan tepat di depan Neus. Tetapi Neus dengan keberanian yang tidak pernah berubah malah melangkah maju dengan pedang di tangannya.


DOR !


SRING !

__ADS_1


Suara tembakan dan tebasan pedang terdengar bersamaan. Neus terjatuh dengan tembakan di lehernya sedangkan pedangnya mengenai pergelangan tangan Jenderal Jin.


" Kematian terlalu berharga untukmu Neus." ucap Jenderal Jin.


__ADS_2