
Hansen mengangkat bahu acuh dan melihat jam di dinding ruangannya. Sepertinya ini sudah waktunya untuk Hansen bekerja dengan para model cantik. Tangannya menggapai tas ranselnya yang ada di dekat meja beserta kameranya lalu beranjak pergi menuju lantai lima dimana di sana tempat pemotretan para model dilakukan.
Hansen berdiri di depan lift sembari mengecek kameranya. Tetapi ia termenung mengingat sesuatu. Hansen membalik kameranya kemudian tersenyum sendu. Tanpa menghiraukan pintu lift yang terbuka Hansen berbalik kembali ke ruangan kerja dan mengganti kameranya. Hansen tidak akan sanggup bekerja menggunakan kamera yang pernah menjadi kenangannya bersama Monica.
" Kau mau masuk tidak ?"
Hansen tersentak kaget dan melihat pintu lift di depannya telah terbuka.
" Hei ! Kau sakit ?"
Hansen menggeleng lemah dan berjalan masuk ke dalam lift. " Aku tidak apa apa Jack."
Jack memandang Hansen tidak yakin. Wajah pucat dengan tatapan lemah seperti itu Jack yakin saat ini Hansen tidaklah baik baik saja.
" Kau mau aku izinkan untuk istirahat hari ini ?" tanya Jack.
Hansen tersenyum dan menepuk pundak Jack. " Aku baik baik saja."
Jack menghela napas tidak bisa memaksa lebih jauh lagi. " Ya sudah."
Hansen melirik tumpukan map yang dipegang oleh Jack. Sepertinya Gabriel akan melakukan meeting saat ini. " Untuk meeting ?"
" Hm, bosku sekaligus temanmu itu tidak pernah bisa menerima kerjasama dengan pengusaha lain tanpa menyelidikinya terlebih dahulu. Dan aku sebagai asisten pribadinya harus menyediakan itu semua yang berupa tumpukan map ini." jelas Jack.
Penjelasan itu membuat Hansen tertawa. " Dia pria yang cerewet kan ?"
Jack mengangguk setuju. " Melebihi wanita malah."
Setelah itu Hansen dan Jack tertawa bersama sesudah mereka membicarakan kejelekan Gabriel di belakang pria itu.
TING !
Pintu lift terbuka, dan Jack perjalan keluar dari lift itu lalu berbalik menatap Hansen. " Selamat bekerja Hans."
" Selamat bekerja juga, semoga kau beruntung hari ini." balas Hansen.
Pintu lift tertutup kembali menyisakan Hansen sendiri. Ia memandang angka yang tertera di dinding lift. Kenapa rasanya menuju lantai lima begitu lama ?.
__ADS_1
TING !
Hansen melihat pintu lift yang terbuka. Ia melangkah keluar dan berjalan menuju ruang pemotretan.
" Selamat pagi." Hansen menyapa rekan rekannya.
" Selamat pagi Hans, kau tampan sekali pagi ini." Tera menatap Hansen yang saat ini memakai jeans hitam dan kemeja putih dengan lengan yang digulung sampai siku.
Hansen menunjukkan senyum jenakanya. Matanya bersinar nakal yang mengartikan ia sedang dalam mode buayanya. " Kau juga lebih cantik pagi ini. Aku jadi ingin mendaftarkan diri menjadi rekan kencanmu hari ini Tera."
Tera tertawa bersama rekan rekan lainnya. Mereka tahu itu hanyalah candaan Hansen yang sudah biasa mereka lihat.
" Kau bisa dibanting oleh kekasihnya Hans. Ingat saja kekasih Tera seorang petinju handal." Grey yang sedang menyiapkan alat alat untuk pemotretan ikut berbicara.
Hansen mendelik memandang Grey yang tidak jauh darinya. " Aku kan hanya bercanda tadi."
" Benarkah ? Padahal aku menganggapnya serius tadi ?" Tera berpura pura sedih.
Hansen gelagapan dan melambaikan tangannya ketakutan. " Tidak, yakinlah aku tadi hanya bercanda kecuali tentang kecantikanmu. Tolong jangan dimasukkan ke dalam hati karena aku yakin tubuhku akan langsung berubah menjadi gepeng setelah kekasihmu tahu tentang hal ini."
Mendengar itu, seketika ruang pemotretan dipenuhi tawa dan ejekkan orang orang di ruang pemotretan
" Hansen kekasih Tera datang kemari !" Reynard yang sedari tadi menyimak candaan rekan rekannya tiba tiba berteriak sambil menunjuk pintu masuk di ruang pemotretan.
" Apa ?!" Hansen terkejut dan spontan berlari ke belakang layar dimana para model sedang berdandan.
Tawa di ruang pemotretan itu bertambah ricuh. Mereka tidak menyangka bila Hansen yang merupakan pria tinggi kekar ternyata takut pada seorang petinju.
Hansen keluar dan berkacak pinggang memandang rekan rekannya. " Ayolah, kalian senang sekali melihatku ketakutan."
" Itu menyenangkan Hans." balas Tera disela tawanya.
" Kami tidak menyangka kau begitu takut pada kekasih Tera. Padahal tubuhmu termasuk cukup kekar." ucap Grey.
Hansen berdecak kesal lalu berjalan mengambil tas ransel dan juga kameranya
untuk pemotretan. " Bertubuh kekar bukan berarti aku bermental baja sampai berani berhadapan dengan kekasih tera yang ototnya ada dimana mana."
__ADS_1
Lagi lagi Hansen menjadi bahan tertawaan rekan rekannya. Jika diibaratkan Hansen itu seekor buaya maka kekasih Tera akan menjadi pemburunya.
Toni yang menjadi pemimpin dibagian pemotretan ini mengentikan tawa. " Hentikan candaan ini teman teman. Saatnya kita bekerja dan, semangat !"
" Semangat !" orang orang di ruang pemotretan mulau mengambil bagian mereka masing masing termasuk Hansen yang sudah siap dengan kameranya.
Tetapi tiba tiba Reynard mengambil alih kamera Hansen dan Tera menarik manarik Hansen menuju panggung pemotretan.
" Ada apa ini ?" Hansen bertanya bingung.
" Maaf Hans, tapi ini permintaan dari bos yang menginginkan fotomu sebagai model hari ini." ucap Toni.
Hansen terbelalak mendengar itu. Lalu menggelengkan kepalanya menolak. " Aku tidak mau ! Apa apaan ini ?! Kita tidak ada membahas ini sebelumnya."
" Ini permintaan bos Hans. Kami tidak bisa menolaknya atau bos akan memotong gajih kami. Kami mohon kasihani kami Hans, apalagi istriku sedang hamil saat ini." Toni memohon pada Hansen.
" Tidak." Hansen tetap kukuh pada pendiriannya.
Seketika ruang pemotretan menjadi hening karena mereka saling diam dan saling memandang bingung. Mereka mencari akal untuk bisa membujuk Hansen demi keselamatan gajih mereka bulan ini. Sampai akhirnya Tera mendapatkan sebuah ide gila.
" Hallo sayang, apa kau bisa datang kemari ? Aku memerlukan model tambahan untuk menjadi teman rekanku yang akan menjadi model hari ini. Sepertinya kau akan cocok foto bersamanya dengan tema saling menggoda. Kau mau ti..."
" Baiklah aku mau !" Hansen berteriak kesal.
Tera yang hanya berpura pura menelpon kekasihnya berbalik memunggungi Hansen karena menahan tawa. " Eh, tidak jadi sayang. Rekanku akan foto bersama model wanita kami saja. Baiklah, sampai jumpa."
" Apa maksudmu seperti itu Tera ?" Hansen bertanya kesal.
Tera menatap Hansen pura pura tidak mengerti. " Kenapa ? Aku kira kau menolaknya. Jadi aku memanggil kekasihku untuk memaksamu agar kalian bisa foto bersama. Lagipula kalian sama sama tampan. Biar sekalian tema kita kali ini berjudul 'kekasih priaku'. Bukankah itu menarik ? Aku yakin tidak akan ada yang bisa menyamai kita kali ini."
" Kau gila !" teriak Hansen.
Tera mengangkat bahu acuh. " Itulah imajinasi."
Hansen memandang rekan rekannya satu persatu meminta bantuan tetapi mereka semua menggelengkan kepala sebagai jawaban.
" Kalian tega sekali." Hansen hampir menangis menghadapi situasi ini.
__ADS_1
" Maaf Hans tetapi jika kami diminta memilih maka jawabannya gajih kami lebih penting." balas Toni yang diiringi anggukan setuju dari rekan rekannya.
Hansen mengacak rambutnya frustasi. " Gabriel sialan !"