Orion (Sang Pemburu)

Orion (Sang Pemburu)
Pertengkaran


__ADS_3

" Memangnya kenapa ?!" tanya Reina dengan nada tinggi.


" Kau tidak tahu siapa aku hah ?!" teriak wanita itu balik bertanya.


Reina berdecak kesal lalu memutar mata malas. Wanita itu sungguh tidak tahu malu. Sudah datang tiba tiba dengan gaya seakan akan yang paling berkuasa dan seenaknya dia merebut gaun yang Reina suka. Mana ia tidak kenal dengan wanita itu lagi. Rasanya Reina ingin mencakar wajah bermake up tebal wanita itu dengan kukunya yang cantik.


" Memangnya kau artis yang bisa dikenal banyak orang ? Cih, wajah tertutup debu bewarna saja masih minta dikenal. Tolong jangan berharap tinggi ya nyonya. Cukup sepatumu itu saja yang tinggi jangan yang lainnya karena aku takut kau sakit pinggang saat terjatuh nanti. Kau kan sudah cukup berumur nyonya." Reina terkekeh membayangkan wanita itu terjatuh sembari berguling guling di lantai dan jangan lupakan dengan tangisan menyedihkannya.


Wanita itu melotot marah melihat Reina yang menertawakannya. Lihat saja apa yang akan ia perbuat pada gadis sombong di depannya ini. " Awas saja kau ! Aku akan mengajarimu bagaimana caranya bersikap dan kau harus menyembahku untuk semua perkataan kotor yang kau ucapkan untuk itu !"


" Silahkan." tantang Reina yang tersenyum meremehkan memandang wanita itu.


Wanita itu mengambil ponselnya dan menghubungi pemilik butik untuk mengadukan perbuatan yang telah Reina lakukan kepadanya.


Hansen menyikut pelan perut Gabriel di sampingnya lalu berbisik. " Lebih baik kita menyingkir sebelum mereka memulai aksinya."


" Kau benar, aku juga tidak mau terlibat apabila mereka saling menjambak rambut satu sama lain dan berteriak layaknya orang hutan." Gabriel balas berbisik.


Hansen dan Gabriel melangkah mundur secara perlahan lahan ke pojok ruangan. Lalu mereka menarik sofa yang memang disediakan di ruangan itu untuk mereka duduki bersama sembari menunggu pertengkaran Reina dan wanita itu selesai.


" Apa ada cemilan ?" tanya Hansen.


Gabriel memandang sekelilingnya. " Tidak ada."


" Sayang sekali."


" Biar kucari dulu."


" Baiklah."


Bersamaan Gabriel pergi, pemilik butik datang menghampiri Reina dan wanita itu. Hansen yang melihatnya menjadi menebak nebak siapa yang akan dibela oleh si pemilik butik itu.


" Nona muda, nyonya Herison. Maaf sebelumnya tetapi saya ingin tahu awal permasalahan dari keributan ini." ucap pemilik butik.


" Gadis ini menghinaku dengan kata kata buruknya. Dia juga merebut gaun yang kuinginkan." wanita itu menunjuk geram kearah wajah Reina yang terus saja memandangnya dengan tatapan menantang.


Pemilik butik itu menatap Reina ragu dan terlihat segan. Karena sebenarnya ia tahu siapa dan latar belakang Reina di negara Z ini. Meskipun publik jarang yang mengetahuinya tetapi untuk jajaran orang orang sukses tidak ada yang tidak mengetahui siapa Reina sebenarnya. " Nona muda, maafkan saya sebelumnya. Apa yang dikatakan oleh nyonya Herison itu benar ?"

__ADS_1


" Kau percaya ?" Reina balik bertanya. Sebenarnya dari kata kata kasar yang diucapkan wanita itu saja orang seharusnya sudah tahu mana yang benar dan mana yang salah.


Pemilik butik itu terdiam bingung. Posisinya saat ini sangatlah sulit, disatu sisi ia tidak bisa menyinggung Reina tetapi disatu sisi yang lain ia juga tidak bisa mengabaikan nyonya Herison yang seorang istri mentri keuangan negara Z.


" Nona muda..."


" Jangan coba coba kau menceramahiku karena aku tidak bersalah di sini." Reina memotong cepat ucapan pemilik butik itu.


...*****...


" Jadi...., siapa yang menang ?" tanya Gabriel yang baru saja duduk dan meletakkan banyak cemilan berserta minuman soda ke sofa.


" Entahlah, mereka seri saat ini." jawab Hansen dengan tangan yang sibuk memilih cemilan.


" Nyonya Herison sepertinya di sini telah terjadi salah paham."


" Kau membelanya !" wanita itu berteriak kesal kepada pemilik butik.


" Bu..bukan seperti itu nyonya. Saya..."


" Sudahlah diam saja. Kau rekam kami dan menjauhlah dari kami karena aku yang akan menyelesaikan masalah ini." ucap Reina.


Reina menatap tajam pemilik butik itu untuk tidak membantahnya.


" Baik nona muda."


" Kau memang gadis yang tidak waras." ucap nyonya Herison sembari melirik Reina sinis di depannya.


" Dan nyonya memang orang yang tidak waras." Reina tersenyum dan menggulung lengan kemejanya sampai batas siku tangannya.


Nyonya Herison menatap Reina remeh. Gadis tidak tahu diri ini ternyata ingin melawannya. Lihat saja siapa yang akan menang nantinya. Ia akan membuat gadis itu babak belur dan menangis histeris dan berlari pulang.


" Gadis muda sepertimu masih belum cukup berpengalaman dalam hal seperti ini."


Reina tersenyum miring. " Siapa yang tahu ?"


" Jangan menangis kalau kau kalah nanti."

__ADS_1


" Tidak akan."


Nyonya Herison maju menyerang Reina. Tangannya mencoba mencakar wajah Reina dengan kuku panjangnya. " Aku akan menghancurkan wajahmu gadis tidak tahu diri."


" Dan aku akan membuat otakmu tidak berfungsi lagi." Reina menarik kencang rambut nyonya Herison yang tersangkul rapi.


" Aaa ! Kau gadis gila !" nyonya Herison mencakar tangan Reina lalu ganti menjambak rambutnya.


Pemilik butik yang mulai merekam menjadi syok melihat itu. Berbeda dengan Hansen dan Gabriel yang saling bersorak mendukung Reina.


" Sepertinya ini akan bermasalah." celetuk Gabriel.


" Kau tahu sesuatu ?" tanya Hansen.


Gabriel mengangguk singkat. " Wanita itu sepertinya istri dari mentri keuangan negara kita."


" Astaga Reina." Hansen menatap sedih Reina yang sedang bertengkar. Namun terbersit sebuah pemikiran yang mungkin bisa membantu gadis itu.


" Aku punya ide." lanjutnya.


Gabriel menatap Hansen bertanya. " Apa ?"


" Tunggu di sini saja." Hansen beranjak dari tempat duduknya dan berjalan kearah pertengkaran itu.


Gabriel mengerutkan keningnya lalu terkekeh saat melihat Hansen kembali menghampirinya dengan tangan memegang sesuatu. Ia tidak menyangka Hansen memiliki pemikiran seperti itu.


" Giliranmu." Hansen menyerahkan benda itu pada Gabriel. " Dan jangan lupa panggilkan keamanan karena aku merasa kasihan melihat Reina harus menghajar wanita tua yang tidak tahu umur itu." sambungnya.


Gabriel tersenyum dan melangkah pergi ke luar dari ruangan itu. Sepertinya benih benih cinta akan muncul diantar pertemanan mereka.


BRUG !


Reina menendang perut nyonya Herison hingga membuat wanita itu jatuh tersungkur ke lantai.


" Akh ! Perutku !" nyonya Herison berteriak kesakitan.


Reina tersenyum sinis berjalan kearah nyonya Herison lalu perlahan berjongkok dan membisikkan sesuatu.

__ADS_1


Seketika wajah nyonya Herison langsung memucat dengan mata terbelalak. Ia berusaha menatap Reina di tengah rasa sakitnya. Tubuhnya gemetar ketakutan setelah mendengar isi bisikkan Reina.


" Jangan mencoba mencari masalah denganku atau kau akan tahu akibatnya nyonya." Reina kembali berdiri dan berbalik pergi. Tapi sebelum itu matanya melihat ke tempat gaun merah keinginannya. Namun betapa terkejutnya ia saat melihat tempat gaun itu ternyata telah kosong. Tubuhnya langsung terasa lemas melihat incarannya hilang. Sia sia sudah usahanya bertengkar dengan wanita berwajah penuh debu pewarna itu.


__ADS_2