
" Bersulang !"
TRING !
Rigel, Bellatrix, Alnilam, Alnitak, Saiph, Mintaka, dan Orion saling bersulang dengan segelas wine di tangan mereka masing masing. Saat ini mereka sedang merayakan keberhasilan mereka dalam membuat kekacauan di negara Z. Kecelakaan beruntun yang terjadi di depan Restoran itu adalah perbuatan mereka sebagai langkah awal untuk menarik musuh dari zona nyamannya.
" Melihat kekacauan hari ini aku jadi ingin membongkar bank negaranya." ucap Mintaka.
Saiph mendengus mendengar ucapan Mintaka. " Kau saja tadi hampir berbalik rencana gara gara tidak tega melihat orang orang itu menjadi korban. Apalagi kau ingin membongkar banknya. Bisa bisa karena banyak orang yang kehilangan uang, kau menggantinya dengan uangmu."
Alnilam, Alnitak, Bellatrix, dan Rigel tertawa ketika mengingat ekspresi Mintaka saat akan melancarkan aksi mereka membuat kecelakaan beruntun itu.
Mintaka membuang pandangannya. " Itu karena aku manusia normal."
Orion yang sedari tadi diam menepuk pundak Mintaka. " Kau bisa berhenti dan keluar dari Rasi Bintang."
Tubuh Mintaka menegang mendengarnya. Matanya tersirat ketakutan dan kekhawatiran. " Bukan itu, aku hanya..."
Orion beranjak berdiri, menepuk lalu mengusap bahu Mintaka sebelum beranjak pergi menuju kamarnya.
Mintaka menyesal berucap seperti itu di depan Orion. Kenapa tadi mulutnya begitu lemas saat berbicara. " A..aku, Orion ! Bukan itu maksudku !"
Orion tetap berjalan meninggalkan keenam temannya. Rigel, Bellatrix, Alnilam, Alnitak, dan Saiph yang sedang menertawakan Mintaka menjadi terdiam seketika saat melihat reaksi Orion.
" Aku tidak sengaja berbicara seperti itu." adu Mintaka pada kelima saudaranya.
Bellatrix berdecak mendengarnya. " Mulutmu harimaumu, sedangkan lidahmu bisa lebih tajam dari pada pisau, dan ucapanmu bisa lebih kejam dari pada pembunuhan. Kau tidak tahu pepatah itu ?"
Mintaka meringis mendengar teguran Bellatrix. Rigel dan Saiph hanya diam mendengarkan, berbeda dengan Alnilam dan Alnitak yang beranjak mendekati Mintaka.
" Orion hanya belum terbiasa Taka." ucap Alnilam.
Alnitak mengangguk membenarkan ucapan saudara kembarnya. " Itu bukan salahmu, nanti kami bantu untuk berbicara dengan Orion."
Mintaka memeluk Alnilam seperti seorang anak yang memeluk ibunya. " Hanya kalian berdua yang pengertian kepadaku tidak seperti tiga pria itu."
__ADS_1
Mintaka menunjuk Rigel, Bellatrix, dan Saiph dengan tatapannya. Hanya karena diantara mereka berenam Mintaka yang paling muda tiga pria itu selalu mencari kesempatan untuk membuat masalah dengannya.
" Tidak usah mencari kesempatan kau." Saiph menarik Alnilam ke pelukannya lalu menunjuk Mintaka.
" Sekali lagi kau memeluk kekasihku. Akan kuhancurkan tubuhmu kurusmu itu ke dalam mesin buatanku." lanjutnya.
Mintaka mengerucutkan bibirnya lalu beralih memeluk Alnitak. Tetapi sebelum sempat Mintaka memeluk, Rigel sudah lebih dulu menarik Alnitak ke atas pangkuannya.
" Jangan mencari masalah atau kupotong kedua tanganmu itu yang seenaknya memeluk kekasih orang." Rigel menatap tajam Mintaka dengan nada penuh ancaman.
" Astaga, kalian keterlaluan sekali kepadaku !" Mintaka mengeluh dan memasang wajah semenyedihkan mungkin.
Mintaka memandang satu persatu orang di depannya hingga tatapannya berhenti pada Bellatrix yang sedang menuang wine ke dalam gelas. Sebuah ide jahil terlintas di kepalanya, dengan tampang sedih Mintaka beranjak memeluk Bellatrix.
" Bella aku sedih." ucap Mintaka.
Seketika mata Bellatrix melotot lebar dengan tubuh menegang mendengar suara Mintaka yang di buat manja. Sontak Bellatrix mendorong tubuh Mintaka hingga pria itu terjatuh ke lantai.
" Kau menjijikkan !" teriak Bellatrix, tubuhnya terasa merinding seketika akibat pelukan dari Mintaka.
" Berhenti memanggilku Bella atau masa depanmu ku potong sampai habis Mintaka !" Bellatrix kembali berteriak dengan menatap marah pada Mintaka.
Mintaka langsung terdiam mendengar ancaman Bellatrix. Dalam hati Mintaka menyumpahi Rigel dan Saiph yang sangat pelit dalam berbagi kekasih dengannya. Sedangkan Bellatrix, Mintaka berharap semoga pria itu tidak usah mendapatkan jodoh saja sekalian.
...*****...
Di ruang kerjanya, Jenderal Jin menatap tajam rekaman dari kecelakaan beruntun yang terjadi di jalan raya depan Restauran. Tidak ada yang mencurigakan selain sebuah mobil yang hilang kendali dan mengakibatkan kecelakaan beruntun itu.
Jenderal Jin mengusap kasar wajahnya. Pakaiannya sudah terlihat kusut dengan rambut berantakan. Bahkan kelopak di bawah matanya sudah terlihat hitam akibat kurang tidur.
Gara gara kasus ini, dirinya harus lembur lagi !.
"Jenderal."
" Ada apa ?" Jenderal melirik Klein yang baru saja datang menghampirinya.
__ADS_1
" Polisi tidak menemukan hal barang bukti yang mencurigakan Jenderal. Sepertinya kejadian ini murni sebuah kecelakaan." jelas Klein.
" Murni kecelakaan ?" Jenderal Jin menoleh menatap tajam pada Klein yang berdiri di sebelahnya.
" Kecelakaan mana yang bisa menyebabkan mobil kosong tanpa pengemudi menabrak mobil lain hingga terjadi kecelakaan beruntun itu ? Apakah mobil itu bisa berjalan sendiri ?" lanjutnya bertanya.
Klein mengalihkan tatapannya pada lantai di bawah sepatunya. Jawaban apa yang harus diberikan pada Jenderal Jin. Jika Klein menjawab bahwa kecelakaan itu bisa terjadi dimana saja dan kapan saja, Klein yakin pukulan kencang dari kepalan tangan Jenderal Jin sampai ke wajahnya. Tetapi kalau Klein tidak menjawab, Jenderal Jin pasti akan memarahinya dengan segala ucapan tajam.
" Kau bisu Klein ?" tanya Jenderal Jin.
Nah, kan benar ? Ucap batin Klein. Baru saja pikirannya berbicara Jenderal Jin sudah langsung membuktikannya.
" Aku mengangkatmu menjadi Wakilku. Bukan untuk menjadi patung di ruanganku Klein." ucap Jenderal Jin.
Klein mengusap tengkuknya, saat ini dirinya merasa serba salah. " Maafkan saya Jenderal. Saya sedang berpikir tentang pertanyaan anda tadi."
" Kau menjadi bodoh sekarang ? Hanya karena pertanyaan sepele seperti ini kau berpikir sangat lama." Jenderal Jin berucap sinis.
" Maafkan saya Jenderal." Klein membungkukkan tubuhnya dengan tangan kanan di depan dada kirinya.
Jenderal Jin berdecak dan melihat kembali hasil rekaman CCTV untuk yang kesekian kalinya. Saat melihat lihat tanpa sengaja Jenderal Jin melihat Gabriel keluar dari dalam Restauran bersama seorang pria dan seorang gadis berjalan menjauh dari kecelakaan itu.
Jenderal Jin tahu siapa Gabriel. Selain Gabriel adalah putra dari temannya yaitu George, Gabriel juga seorang pengusaha muda yang sukses dan banyak membantu negara. Sosoknya yang ramah dan juga suka menolong rakyat biasa membuat nama pria muda itu selalu menjadi bahan pujian di setiap media.
Tapi kenapa orang sebaik Gabriel hanya diam saja saat melihat kecelakaan besar terjadi di depan matanya. Bahkan Jenderal Jin lihat Gabriel seakan tidak perduli.
" Klein ambil mobil yang menabrak itu dan datang ke perusahaan Gabriel putra dari pengusaha mobil nomor satu yang bernama George untuk meminta kesaksian. Aku ingin memeriksa mobil itu sendiri dan laporan tentang kesaksian dari Gabriel harus ada besok di meja kerjaku." perintah Jenderal Jin.
" Siap Jenderal."
" Pergilah."
Klein memberi hormat sebelum melangkah pergi meninggalkan ruangan Jenderal Jin dengan perasaan lega.
" Syukurlah, aku selamat kali ini." gumamnya.
__ADS_1