Orion (Sang Pemburu)

Orion (Sang Pemburu)
Timur


__ADS_3

" Mangkanya kau jangan mencari gara gara dengannya."


" Akh ! Sakit ! Pelan pelan Nilam." pinta Mintaka.


Alnilam menghela napas dan mengoleskan salep lebih lembut lagi agar Mintaka tidak terus berteriak kesakitan.


" Sekarang dimana bajingan itu berada ? Seenaknya dia mencuri bedakku yang kubeli jauh dari negara selatan." Alnitak mengepalkan tangannya menahan kesal setiap kali mengingat bedaknya di dalam kotak hilang dicuri Bellatrix.


" Aku tidak tahu." jawab Mintaka dengan suara serak kerena lehernya yang membiru akibat dicekik Bellatrix.


" Rion kau tau dimana dia ?" tanya Alnitak.


" Tidak." Orion menjawab singkat, meski terkadang Bellatrix itu mengesalkan tetapi ia tidak mungkin menyerahkan Bellatrix pada wanita psikopat ini. Entah apa yang dipikirkan paman Neus sampai mengangkat anak kembar berjenis perempuan yang memiliki hobi layaknya psikopat.


" Awas saja kalau dia kutangkap. Akan kuminum darahnya dan kupanggang tangannya it..."


" Sayang." Rigel menatap Alnilam penuh peringatan yang membuat wanita itu langsung berhenti berbicara.


" Dilihat dari memarnya sepertinya Bellatrix menaruh racun di lehermu Taka." ucap Saiph yang sedari tadi diam.


Alnilam memberikan cermin pada Mintaka. " Saiph benar, jika cekikan yang menghasilkan memar mengerikan seperti itu mungkin kau sudah mati Taka."


Mintaka melihat bayangan lehernya di cermin. Benar juga, kalau tidak mengapa memar cekikan Bellatrix sampai ke depan lehernya padahal dia hanya mencekiknya dari belakang. Yang tahu pasti masalah ini adalah Orion karena dia yang menjadi saksi atas penganiayaan Bellatrix kepadanya. Mintaka memandang Orion yang sibuk menyusun uang hasil curian mereka ke dalam koper.


Orion yang merasa dipandangi balik menatap Mintaka. " Apa ?"


" Apa yang Bellatrix lakukan kepadaku ?" tanya Mintaka. Mendengar itu Rigel, Alnilam, Alnitak, dan Saiph juga ikut menatap Orion.


" Aku..."


" Jangan membelanya Rion. Aku tahu persis sifatmu." Alnitak berucap cepat memotong ucapan Orion.


Orion mengusap tengkuknya yang terasa merinding. Ia seperti seorang gadis yang tengah disindang keluarganya karena ketahuan berpacaran.

__ADS_1


Melihat Orion yang tak kuncung membuka suara. Rigel menajamkan tatapannya penuh intimidasi. Bagimanapun dikelompok ini ia memiliki umur paling tua dibandingkan yang lainnya. Tugasnya selain menjadi wakil Orion, Rigel juga menjadi kakak untuk teman temannya kecuali kekasihnya.


" Aku tidak tahu dia berada dimana. Tapi saat Mintaka pingsan karena dicekik. Aku melihat Bellatrix memasukkan jarum kecil ke leher Mintaka yang dia simpan di jam tangannya." jelas Orion dengan terpaksa.


" Benar kau tidak tahu dia pergi kemana Rion ?" tanya Saiph yang memicingkan matanya curiga.


Orion langsung menggelengkan kepalanya sebagai jawaban. Sebisa mungkin ia memasang wajah polos yang biasa digunakannya saat menjadi Hansen.


Saiph berdecak melihatnya lalu melangkah pergi dari ruangan itu bersama Alnilam. Alnitak juga beranjak keluar dengan wajah kesal.


Sekarang tinggallah Orion, Rigel, dan Mintaka di ruangan itu. Mintaka yang memilih tidur karena lehernya yang membengkak dan terasa sakit. Rigel yang masih tetap menatap Orion dengan pandangan tajamnya.


" Kau mungkin bisa membohongi yang lainnya Orion. Tapi aku lebih tua dari kalian semua. Aku melihatmu dari kecil hingga sekarang. Aku juga yang selalu ditugaskan memantaumu oleh papi. Jadi, tidak usah memasang topeng polos yang selalu kau gunakan saat menjadi Hansen itu." Rigel berucap panjang dengan nada yang rendah penuh tekanan.


Merasa tipuannya tidak berhasil Orion menyeringai kejam memandang Rigel. Matanya yang tajam selalu membuat siapapun lawannya menjadi merasa terintimidasi olehnya. Inilah wujud sebenarnya dari Orion, sang pemburu yang kejam.


" Dimana dia ?" Rigel bertanya tanpa rasa takut.


" Timur."


.


.


Bellatrix mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi. Diliriknya lalat kecil yang biasa memantaunya kini terbagi menjadi dua bagian karenanya. Bellatrix yakin sekarang Alnitak sedang mengamuk di rumah dan Saiph yang mengerahkan semua robot kecil untuk mencarinya. Jangan lupakan juga Mintaka yang pasti akan melacaknya.


Sayang sekali mereka tidak akan bisa menemukannya karena ia berada di bawah perlindungan Orion.


" *Apa yang kau berikan padanya Alltrix ?" tanya Orion disela kegiatan menyetirnya.


" Hanya obat bengkak yang tidak bahaya. Kau tenang saja, ini hanya pelajaran untuknya karena telah mengerjaiku." Bellatrix melepaskan cekikannya di leher Mintaka*.


" Alltrix aku mempunyai tugas tambahan untukmu."

__ADS_1


" Apa itu ?"


" Aku ingin kau selidiki negara timur yang selalu ada kekacauan disana. Sekalian pelajari pengobatan disana. Kudengar obat obatan disana terbuat dari bahan bahan alami namun cukup ampuh untuk menyembuhkan penyakit."


Bellatrix tentu menerimanya, sekalian ia ingin kabur dari kekesalan Alnitak. " Akan kulakukan."


" Ambil lima karung uang itu. Cukup kan ?"


" Lebih dari cukup karena uang itu memiliki nilai mata uang tertinggi di dunia." balas Bellatrix yang merasa senang.


Orion melirik Mintaka yang pingsan dengan lebam di lehernya. " Kapan itu sembuh ?"


" Dalam waktu dua puluh empat jam. Jika nanti suaranya hilang berikan saja dia air hangat dengan campuran sedikit garam. Itu bisa mengurangi rasa sakitnya." jelas Bellatrix yang dengan mudah dipahami Orion.


" Aku mengerti."


Seperti itulah kejadiannya tadi. Jika Orion sudah memberi tugas seperti itu maka keamanannya akan dijamin olehnya.


Bellatrix menepikan mobilnya ke tempat pengisian ulang bahan bakar. Tanpa sengaja di depannya terdapat mobil Reina yang entah bersama siapa. Sambil menunggu antrian Bellatrix memandangi apa yang dilakukan pengacara cantik itu. Untung saja Reina tidak memakai atap mobilnya hingga mempermudah Bellatrix memantaunya.


Namun betapa kagetnya ia saat melihat Reina memeluk orang yang bersamanya itu. Dengan iseng Bellatrix mengambil foto mereka diam diam dengan jam tangannya.


" Kau bilang menyukai temanku tapi disini kau memeluk pria lain. Dasar wanita murahan."


Bellatrix mengirim foto yang didapatkannya barusan pada Orion. " Hah, padahal kau cantik walau lebih cantikan Monica dulu. Sayang sekali kau sudah masuk daftar hitam dalam pemilihan calon adik iparku untuk menjadi pasangan Orion."


Tak lama Bellatrix melihat mobil Reina menjauh. Sekarang gilirannya mengisi bahan bakar untuk mobilnya.


" Tolong isi penuh." pintanya pada pegawai yang bertugas.


" Baik tuan."


" Ini." Bellatrix memberikan dua lembar uang pada pegawai itu. " Ambil sisanya." sambungnya yang langsung menyetir mobil begitu saja dengan kecepatan tinggi.

__ADS_1


Dilihatnya jam tangannya yang menunjukkan pukul delapan pagi. Bellatrix membutuhkan penginapan untuknya beristirahat. Dalam hati ia merasa bangga karena bisa menyetir mobil selama semalaman tanpa beristirahat. Kalau saja Orion lihat, pastilah dirinya akan dipuji karena bisa menandingi Rigel.


" Reina, pengacara cantik yang handal dan tidak takut pada apapun. Bahkan berani melawan Wakil Jenderal negara Z. Aku rasa kau tidak sesederhana itu. Bagaimanapun juga wanita memiliki batasannya sendiri. Tidak mungkin kau bisa seberani itu jika latar belakangmu hanya orang biasa. " ucap Bellatrix yang sedang memikirkan Reina dengan jari mengetuk ngetuk setir mobil dan senyum miring andalannya.


__ADS_2