Orion (Sang Pemburu)

Orion (Sang Pemburu)
Hansen Benci Susu


__ADS_3

Gabriel berjalan bolak balik di depan ruang UGD. Tangannya mengepal erat menahan rasa sabar sejak dua jam yang lalu. Ini sudah sangat lama tetapi dokter belum keluar dari ruan UGD sejak tadi.


" Sebenarnya apa yang mereka lakukan ?" tanyanya pelan pada dirinya sendiri.


Jack yang sejak tadi hanya menatap Gabriel menjadi bertambah ngantuk. Mulutnya terbuka lebar menguap tanpa niat menutupnya dengan tangan. " Bos sudahlah, kau duduk saja dulu. Hansen pasti baik baik saja karena dia bukan pria lemah."


Lagi pula dilihat dari kenakalan dan juga kejahilan yang sering dilakukan Hansen. Jack ragu alam baka mau menerimanya sekarang. Kecuali Hansen mau menebus semua dosanya dengan mengubah sikapnya yang menyebalkan itu.


" Kenapa mereka lama sekali di dalam sana ? Sebenarnya dokter itu benar benar dokter atau bukan ?!" Gabriel bertanya kesal.


Jack terbengong mendengar ucapan bodoh yang keluar dari mulut bosnya. Ia tidak menyangka pria terhormat yang memiliki penggemar hampir separuh dunia ini bisa mengeluarkan kata kata seperti itu.


" Jack aku bertanya kepadamu !" sentak Gabriel yang membuat Jack gelagapan dalam menjawab pertanyaannya.


" I..itu..." Jack memutar otaknya untuk mencari sebuah alasan lalu menghela napas. " Bos kalau dia bukan dokter kenapa kau memanggilnya untuk memeriksa Hansen tadi ?" sambungnya bertanya.


" Aku panik tadi !" jawab Gabriel dengan nada yang cukup tinggi.


Jack memutar mata malas mendengarnya. " Ya sudah bos duduk saja dulu. Kita akan menunggunya disini."


Benar juga, lagi pula Gabriel sudah merasa lelah yang tadi tidak dirasakannya akibat terlalu panik. Gabriel duduk di sebelah Jack dengan tatapan yang masih mengarah ke pintu ruang UGD.


" Hansen begitu berarti bagi bos ?" tanya Jack yang melihat Gabriel begitu khawatir dengan keadaan Hansen.


Gabriel tersenyum tipis lalu mengangguk singkat. " Dia bukan hanya sekedar temanku tapi dia juga penyelamatku. Dia selalu menolongku meski dia tahu kalau dia tidak memiliki apapun."


Mendengar jawaban Gabriel, Jack tersenyum mengerti. Pantas saja kedekatan mereka membuat siapa saja mengira mereka adalah saudara kandung. Semua orang mengetahuinya karena dimana ada Gabriel pasti disitu juga ada Hansen.


" Tapi..., meski dia penyelamatku. Ayahku sangat tidak menyukainya." ucap Gabriel lagi.


" Kenapa ?" Jack bertanya heran.


Gabriel menggeleng lemah sebagai jawaban yang tidak ia ketahui alasannya. Bahkan sampai sekarang Gabriel tidak tahu mengapa ayahnya sangat tidak menyukai Hansen. Semua itu berawal sejak Gabriel mengenalkan Hansen kepada ayahnya setelah pulang sekolah dulu. Ayahnya yang selalu tersenyum setiap kali mendengar ceritanya bersama Hansen. Tiba tiba menjadi berubah saat Hansen memperkenalkan dirinya.


" Permisi keluarga pasien ?" seorang pria berjas putih yang keluar dari ruang UGD bertanya pada Gabriel dan Jack. Karena hanya ada mereka di depan UGD saat ini.

__ADS_1


Gabriel dan Jack segera berdiri menghampiri dokter itu. Terlebih Gabriel yang terlihat sudah sangat tidak sabar mendengar keadaan Hansen dari dokter itu.


" Saya saudaranya dokter. Bagaimana keadaan saudara saya sekarang ? Dia tidak kritis ataupun cacat kan dokter ? Dia..."


" Bos tenang dulu." ucap Jack menenangkan Gabriel.


Dokter itu tersenyum maklum melihat itu. " Keadaan pasien sudah baik baik saja sekarang. Hanya saja, tulang kaki kiri dan juga lengan atas tangan kanannya patah. Ditambah luka dibagian samping kanan kepalanya yang mendapatkan lima jahitan. Beruntung anda cepat membawanya ke rumah sakit sehingga saudara Hansen tidak kehabisan banyak darah."


.


... ***** ...


.


Hansen membuka matanya perlahan lalu meringis merasakan pusing di kepalanya. Matanya memandang keadaan tubuhnya yang sebagian diperban. Belum lagi tangan kanan dan kaki kirinya tidak bisa di gerakkan.


Hansen menghela napas menatap langit langit kamar yang mungkin ini adalah ruang inapnya di rumah sakit. George memang kurang ajar sekali berani membuatnya menjadi seperti ini. Awas saja si penghianat itu nanti. Hansen akan membalasnya dengan memisahkan satu persatu bagian tubuhnya secara hidup hidup agar dia tahu rasa sakitnya.


CKLEK !


" Ya." Jack berbalik pergi tidak jadi masuk ke dalam ruang inap Hansen.


Gabriel berjalan masuk dan mendekati Hansen lalu meletakkan bungkusan berisi buah dan susu. " Bagaimana keadaanmu ?"


" Bisa minta minum ?" suara Hansen terdengar serak karena terlalu lama tidur.


Gabriel segera mengambilkan minum dan menaruh sedotan agar Hansen mudah meminumnya.


" Aku..." ucapan Hansen terpaksa berhenti saat dokter masuk bersama Jack dan dua orang perawat.


" Tuan Hansen bagaimana keadaan anda sekarang ?" dokter itu bertanya ramah sembari memeriksa keadaan Hansen.


" Buruk dok karena saya tidak bisa bergerak sekarang." jawab Hansen yang mengundang tawa dokter itu dan juga Jack.


" Dia itu orangnya pecicilan dok. Jadi maklumi saja kalau dia berucap seperti itu." ucap Jack.

__ADS_1


" Yah tidak apa apa itu wajar karena kita selalu beraktifitas. Tapi tuan Hansen mulai sekarang tolong jangan banyak bergerak dulu sampai keadaan anda benar benar pulih."


" Baik dok." balas Hansen dengan nada lemas.


" Apakah anda merasakan sakit atau pusing yang berlebihan sekarang ?" dokter itu kembali bertanya.


Hansen menggelengkan kepalanya pelan. " Tidak ada dokter, rasa sakit dan pusing saya masih dibatas wajar."


" Baiklah kalau begitu saya akan memeriksa anda lagi nanti. Saya permisi tuan tuan, selamat pagi."


" Selamat pagi dokter dan terima kasih." ucap Gabriel.


" Sama sama tuan Gabriel." dokter itu tersenyum dan beranjak pergi bersama dua perawat yang mengikutinya.


Gabriel mulai membuka bungkusan yang tadi dibawanya dan mengeluarkan sekotak susu. Sedangkan Jack memilih duduk di kursi sebelah ranjang Hansen.


" Susu ? Untuk siapa ?" Hansen langsung bertanya saat melihat Gabriel yang mengeluarkan sekotak susu dari dalam bungkusan yang dibawanya.


" Tentu saja untukmu karena kata dokter kau harus banyak minum susu dan memakan sup tulang juga buah buahan untuk mempercepat kesembuhanmu." jawab Jack karena melihat Gabriel yang hanya diam saja.


" Apa ?!" Hansen terbelalak lalu bergidik ngeri melihat susu putih yang disodorkan Gabriel kepadanya.


" Minum sampai setengah baru makan." ucap Gabriel.


Hansen menggeleng panik dan mendorong gelas berisi susu yang disodorkan Gabriel menjauh darinya. Tubuhnya merinding melihatnya. " Aku tidak mau !"


Gabriel berdecak kesal melihatnya. Hansen yang membenci susu lebih menyebalkan dibandingkan Hansen yang suka menggoda para gadis. " Ini perintah dokter Hans. Minum atau kau tidak bisa menggunakan lagi tangan kanan dan kaki kirimu."


" Tidak mau !" bukannya menurut Hansen malah berteriak kencang.


Jack yang tadinya terperangah karena baru mengetahui hal ini langsung tertawa sambil memegang perutnya merasa kram.


Hansen tidak menyukai susu ? Yang benar saja !.


Sekarang Jack tahu kelemahan Hansen. Sebuah ide balas dendam tersusun rapi di kepalanya. Hah, tidak sia sia ia menemani Gabriel dan membawa Hansen ke rumah sakit.

__ADS_1


Tunggu pembalasanku Hansen !.


__ADS_2