Orion (Sang Pemburu)

Orion (Sang Pemburu)
Tersedak Pizza


__ADS_3

Pagi datang dan langit yang hitam berganti terang dengan bantuan sinar matahari. Benar benar menyenangkan dan membuat siapa saja tersenyum merasakan kehangatan yang diberikan sang mentari.


Hansen tersenyum memandang langit dari jendela kamar inapnya. Hari ini yang cerah dengan suasana hati yang cerah pula. Ditambah hari ini juga ia sudah diperbolehkan pulang oleh dokter. Berkat bantuan obat dari Bellatrix tulangnya yang patah menjadi cepat sembuhnya. Dokter yang memeriksanya bahkan sempat heran dan bertanya tanya bagaimana itu bisa terjadi. Dalam hati Hansen berteriak bangga karena apapun itu bisa saja terjadi bila ada ditangan teman temannya. Namun di luar Hansen hanya tersenyum menatap dokter itu.


" Kata dokter meski kau sudah boleh pulang. Kau harus tetap berhati hati dalam bergerak. Jangan lupa kontrol ke rumah sakit setiap minggunya." ucap Gabriel yang sedang membereskan makanan dan buah. Sedangkan Jack mengambil surat keterangan dari dokter sekaligus menyiapkan mobil.


Hansen tidak menjawab perkataan Gabriel. Kepalanya berpikir tentang apa yang dilakukannya setelah ini. Entah dimulai dari mana dulu dan siapa dulu yang harus dibereskan olehnya.


" Mobil sudah siap bos." Jack datang memberitahu lalu membantu Gabriel membawa makanan dan juga buah buahan yang sudah tersusun rapi di dalam paper bag.


Gabriel menoleh memandang Hansen. " Mau perlu kursi roda ?"


" Tidak aku mau jalan sendiri." jawab Hansen.


" Baiklah, ayo." Hansen beranjak berdiri dan berjalan perlahan lahan dengan senyum yang masih mengembang di wajahnya. Benar benar bahagia hatinya karena bisa lolos dari tempat seperti penjara orang sakit ini.


" Bahagianya yang baru sembuh." Jack tersenyum melihat tingkah Hansen.


" Tentu saja, setidaknya aku bisa bebas dari ancaman minum susu darimu." balas Hansen.


Jack dan Gabriel tertawa mendengarnya. Mereka masih ingat saat dokter memeriksanya untuk yang terakhir kali. Hansen berdebat dengan dokter itu tentang meminum susu yang pada akhirnya sang dokter terpaksa mengalah karena merasa lelah berbicara dengan pasiennya.


" Aku akan mentraktir kalian atas untuk merayakan hari ini." ucap Gabriel.


" Akhirnya ada juga yang gratisan ! Aku ingin ke club !" teriak Hansen sangking girangnya tanpa menyadari mereka masih berada di dalam rumah sakit.


Jack menatap sekelilingnya dan melihat semua orang melihat kearah mereka akibat suara melengking dari Hansen. " Si bodoh ini teriakannya membuat orang malu saja." ucapnya yang menahan geram.


" Aku tidak kenal dia." Gabriel berjalan lebih dulu.


Jack cepat cepat berjalan mengikuti Gabriel dengan sebelah tangan menutupi sebagian wajahnya. Hansen yang melihat itu menjadi terbengong mencoba mengerti tentang situasi yang terjadi saat ini.


" Hei kenapa kalian meninggalkanku sendiri !" Hansen berteriak memanggil Gabriel dan Jack yang dengan kurang ajar meninggalkannya sendirian.

__ADS_1


Bukannya berhenti Gabriel dan Jack semakin cepat berjalan seakan mereka tidak mengenal Hansen. Suruh siapa dia membuat mereka malu dan menjadi bahan perhatian orang orang.


" Hei jangan lupa kita mampir ke club ya !" Hansen berteriak lagi tanpa tahu malu.


" Bos itu temanmu." ucap Jack.


" Diam kau." Gabriel merengut kesal.


" Dia tidak tahu malu bos, baru saja sembuh tapi pikirannya langsung menuju ke tempat hiburan malam."


" Karena itu ayo cepat jalannya dan kita tinggalkan saja dia." Gabriel berucap kejam tanpa memperdulikan Hansen yang saat ini baru saja sembuh dari penyakitnya.


.


...*****...


.


" Kakimu masih nyeri ?" tanya Jack yang sedang mengompres telapak kaki Hansen dengan air hangat.


" Masih tapi tidak seperti tadi." jawab Hansen.


" Padahal dokter sudah bilang kau harus berlatih dulu bukannya berjalan seperti tadi."


Hansen berdecak kesal. " Salah kalian yang meninggalkanku begitu saja di rumah sakit tadi."


" Salahmu juga yang tidak tahu malu. Sudah tahu itu rumah sakit dan sempat sempatnya kau berteriak meminta pergi ke Club malam." Jack berucap tidak mau kalah.


" Apa salahnya ? Aku kan hanya berbicara."


" Salahlah ! Kau berbicara ditempat yang tidak seharusnya."


" Jack benar, kau harus tahu dimana kau berbicara. Apalagi kondisimu baru keluar dari rumah sakit." Gabriel datang setelah membeli beberapa minuman beralkohol, pizza, dan beberapa cemilan untuk merayakan kepulangan Hansen.

__ADS_1


Hansen berdecak kesal karena tidak ada yang membelanya. Lihatlah tatapan mengejek Jack yang diberikan untuknya. Ingin sekali ia memukul wajah pucat pria itu.


Gabriel mengeluarkan apa yang dibelinya tadi ke lantai kamar Hansen yang beralas karpet bulu tebal.


" Wow, alkohol dan pizza ? Cemilan juga ada ? Asik kita berpesta !" Jack bersorak melihat makanan dan juga minuman yang dikeluarkan Gabriel.


" Aku juga mau !" Hansen ikut bersorak girang. Ini barulah perayaan yang menyenangkan. Tidak banyak orang namun banyak makanan dan minuman.


Gabriel hanya tersenyum menanggapi. Ia membuka tutup botol alkohol dan menuangkannya ke dalam dua gelas. Lalu memberikan satu gelas untuk Jack yang sudah menunggunya.


" Aku ?" tanya Hansen bingung karena tidak menerima minuman seperti Jack.


Gabriel mengambil minuman kotak dari dalam plastik lalu memberikan Hansen sekotak jus buah. " Ini milikmu."


Hansen terbengong melihatnya lalu mengerang kesal. " Yang benar saja ! Gabriel kau pilih kasih sekali !"


Jack tertawa melihat itu. Ia bahkan sampai bertepuk tangan sembari memuji Gabriel betapa bosnya itu pintar sekali memilihkan minuman untuk Hansen.


" Kau masih sakit. Lihat, berjalan pun kau tidak normal." ucap Gabriel.


Hansen mengepalkan tangannya menahan geram. " Bukan tidak normal tapi belum normal. Astaga kenapa kalian menyebalkan sekali !"


Gabriel tidak memperdulikan teriakan itu. Ia memilih membuka kotak pizza lalu memakannya sambil memandangi tingkah Hansen. Namun kemudian Gabriel mendorong kotak pizza itu kearah Jack tanpa mengalihkan pandangannya.


" Terima kasih bos ! Hem.., pizza dan alkohol memang pasangan yang pas." Jack memanas manasi Hansen dengan memakan pizzanya lambat. Lalu meminum alkoholnya seakan itu adalah makanan dan minuman terenak di dunia.


Hansen menata horor kelakuan Gabriel dan Jack di depannya. Ia meremas rambutnya frustasi. Ingin menangis tetapi air matanya tidak mau keluar. Ingin marah tapi kepada siapa karena nyatanya ia sedang sakit. Namun diam pun Hansen tidak tahan karena meras kesal.


Hansen menghela napas lelah lalu mengalah dengan memakan lahap pizza yang dibeli Gabriel sebagai pelampiasan rasa kesalnya. Namun sayang sekali sepertinya hari sial mengikutinya saat. Hansen tanpa sengaja menelan potongan besar pizza hingga membuatnya tersedak.


" Mangkanya jangan rakus." Gabriel membukakan kotak jus milik Hansen lalu membantunya minum.


Hansen tidak memperdulikannya dan terus tersedak. Sedangkan Jack malah tertawa kencang.

__ADS_1


__ADS_2