
" Maaf Jenderal tetapi kami benar benar tidak sanggup lagi menyembuhkan dokter Dekandra."
Jenderal Jin mengusap pelipisnya lalu menatap kedua temannya yang tertegun mendengar berita itu. Dengan terpaksa Jenderal Jin menganggukkan kepalanya. " Baiklah terima kasih atas bantuan anda selama ini profesor."
" Senang bisa membantu anda Jenderal. Kalau begitu saya permisi, selamat sore."
" Selamat sore profesor." Jenderal Jin menghela napas merasa lelah karena profesor itu juga tidak bisa menyembuhkan penyakit temannya.
" Aku ingin mendekatinya." ucap Galiendro sambil memandang Dekandra yang sedang tertawa sendiri seperti orang gila. Atau memang gila sih menurutnya.
" Ayo aku juga ikut." George juga ingin melihat keadaan Dekandra yang bisa bisanya berubah menjadi gila dalam semalam.
" Ayo." Jenderal Jin beranjak terlebih dahulu memimpin jalan.
" Aku bebas ! Hahaha !"
" Aku bebas ! Aku bebas !"
" Bebas ? Apa itu ? Tapi..., nggak apa apa yang penting aku bebas ! Hahaha !"
Galiendro mengusap tengkuknya mendengar ocehan Dekandra yang sedang berbicara sendiri. Kenapa temannya itu bisa berubah menjadi menyeramkan sekali sekarang.
" Dekandra." Jenderal Jin memanggil lembut agar Dekandra tidak terkejut dan ketakutan.
Dekandra berhenti mengoceh lalu menoleh melihat orang yang memanggilnya. Seketika raut wajahnya berubah menjadi ketakutan. " Kamu ! Kamu sudah mati ! Kenapa kmu masih ada di sini ?! Pergi ! Pergi !"
" Sudah mati ? Siapa yang kau maksudkan itu ?" tanya George yang bingung dengan ucapan Dekandra.
" Kau bodoh ? Dia itu sedang kehilangan akal, bagaimana mungkin kau bertanya hal itu kepadanya sedangkan dia tidak mengerti ucapannya." ucap Galiendro.
Jenderal Jin berjalan mendekati Dekandra tanpa memperdulikan Galiendro dan George yang berdebat. Langkahnya yang pasti dan tubuh tegapnya membuat Dekandra semakin berteriak ketakutan.
" Jangan dekati aku ! Pergi ! Kau itu sudah mati !"
Jenderal Jin memegang kedua bahu Dekandra dan menatapnya tajam. " Kandra sadarlah, aku tahu sebenarnya kau mengingat semua."
" Pergi ! Kau sudah mati !"
" Dekandra."
" Pergi, kau sudah mati !"
" Siapa yang sudah mati ?! Apa yang kau lihat saat ini hah ?!" Jenderal Jin berteriak sambil mengguncang bahu Dekandra karena kesal.
__ADS_1
" Pergi kau !"
" Dekandra !" Jenderal Jin berteriak kencang yang sudah habis kesabarannya.
George menarik Jenderal Jin menjauh dari Dekandra. " Dia sedang sakit. Kau seharusnya mengerti Jin bukan memaksanya."
Jenderal Jin mendengus kesal lalu beranjak pergi. Galiendro yang melihat itu hanya bisa menghela napas dan menepuk bahu George bermaksud menenangkan temannya itu.
" Semuanya kacau." ucap George.
" Karena itu salah satu dari kita harus ada yang mengalah atau semuanya akan menjadi lebih kacau dari pada ini." balas Galiendro.
George menatap Dekandra yang meringkuk di atas ranjang rumah sakit dengan wajah penuh air mata. " Dia harus pulih seperti sedia kala."
" Pasti, aku akan mengundang seluruh dokter dan profesor di seluruh dunia untuk menyembuhkannya kembali." ucap Galiendro dengan yakin.
" Tapi yang lebih penting kita harus menemukan dalang dari penyebab masalah ini bisa terjadi." George mengepalkan tangannya menahan amarah.
" Itu adalah hal yang wajib kita kerjakan." balas Galiendro.
Siapapun orang itu Galiendro dan George tidak akan melepaskannya. Mereka akan terus mencarinya dan membalaskan perbuatannya pada Dekandra. Bukan hanya itu saja, Galiendro malah berniat untuk mengetahui cara yang dilakukan penjahat itu hingga dapat membuat Dekandra gila dalam semalam. Diam diam Galiendro memandang George di sampingnya dengan pandangan penuh arti dan senyuman licik yang tersembunyi.
...*****...
Orion menjatuhkan tubuhnya ke atas sofa ruang tamu. Tubuhnya terasa sangat lelah sekali setelah menempuh perjalan dari negara N. Rigel merebahkan tubuhnya di sebelah Orion. Sedangkan Saiph, Bellatrix, dan Mintaka memilih tiduran di atas lantai beralas karpet bulu.
" Kami akan ke kamar." ucap Alnilam.
" Lebih baik kalian membersih diri dulu." saran Alnitak sebelum masuk ke dalam kamar bersama Alnilam.
" Jangankan membersihkan diri, berjalan saja rasanya aku sudah tidak sanggup lagi." ucap Rigel.
Mintaka tertawa mendengar itu. " Kau benar, aku sampai tidak bisa merasakan kakiku lagi."
" Mungkin jika saat ini ada yang ingin membunuhku aku hanya bisa berpasrah diri tanpa bergerak sedikitpun." ucap Saiph.
" Apalagi aku, rasanya tubuhku seperti tertimpa puluhan ton beban." celetuk Bellatrix.
Orion membenarkan keluhan teman temannya. Menyetir mobil dari berangakat dan pergi menuju kota di negara N lalu langsung kembali pulang ke negara Z yang membutuhkan waktu sehari setengah membuat mereka tidak memiliki tenaga lagi. Meski Orion tidak terlalu lelah tetapi karena di perjalanan yang lama membuatnya malas bergerak dan langsung ingin tidur saja.
Orion memejamkan matanya dengan bersandar di sofa. Awalnya biasa saja sampai sepuluh menit kemudian di bayangannya muncul Reina yang tengah tersenyum manis memandangnya. Spontan Orion terperanjat dari duduknya.
" Kenapa kau ?" tanya Rigel.
__ADS_1
Saiph, Bellatrix, dan Mintaka bangun dari tiduran mereka dan melihat Orion yang tiba tiba berdiri dengan ekpresi terkejut.
" Kenapa kau ?" Rigel bertanya lagi.
Orion terlihat linglung lalu menggelengkan kepalanya dan kembali duduk bersandar. Jantungnya tiba tiba saja berdetak kencang. Orion memegang dada kirinya dan menghela napas. Rigel, Saiph, Bellatrix, dan Mintaka yang melihat itu memandang Orion aneh.
" Jantungmu sakit ?" tanya Bellatrix.
Orion menggelengkan kepalanya.
" Kau sakit ?" tanya Mintaka.
Orion menggeleng kepalanya lagi.
" Jantungmu kenapa ?" tanya Saiph.
" Berdetak kencang." setelah terus menggelengkan kepalanya akhirnya Orion menjawab.
" Apa itu terasa sakit ?" tanya Rigel.
Orion kembali menggelengkan kepalanya.
" Lalu kenapa jantungmu bisa berdetak kencang ?" Saiph menatap Orion tidak mengerti.
Tanpa disadari Orion pipinya bersemu merah muda. Rigel, Saiph, Bellatrix, dan Mintaka yang sedari tadi memperhatikannya menjadi menatap satu sama lain lalu tersenyum dan pura pura terbatuk.
" Ada apa dengan kalian ?" sekarang gantian Orion yang menjadi bingung dengan tingkah teman temannya bukannya memberi saran mereka malah tersenyum senyum tidak jelas.
" Rion jujur saja kau sebelumnya membayangkan siapa ?" Rigel bertanya dengan menaik turunkan alisnya menggoda Orion.
" Tidak ada." balas Orion singkat.
" Lalu kenapa jantungmu bisa berdetak tiba tiba padahal itu tidak sakit ?" Saiph ikut bertanya.
" Dan jangan lupakan pipimu yang memerah itu." tambah Bellatrix.
" Kau terlihat seperti gadis perawan yang sedang jatuh cinta." ucap Mintaka dengan wajah menahan tawa saat melihat pipi Orion yang bersemu.
Orion memegang pipinya dan berdecak kesal memandang teman temannya. " Aku tidak sedang jatuh cinta."
" Tidak ada yang bilang kau sedang jatuh cinta Orion." ucap Bellatrix yang membuat Rigel, Saiph, dan Mintaka tertawa kencang.
Orion langsung beranjak pergi tanpa berbicara lagi sembari memegang pipinya. Dengan kesal Orion membanting pintu kamarnya hingga berbunyi nyaring dan terdengar sangat kencang.
__ADS_1