Orion (Sang Pemburu)

Orion (Sang Pemburu)
Keluarga Buruk Rupa


__ADS_3

CEKLEK !


" Dari mana kau ?"


Hansen terperanjat kaget lalu melotot kesal melihat Gabriel yang duduk dengan tangan dilipat. Padahal ia baru saja membuka pintu tapi bukannya melihat pemandangan yang mengenakkan hati lah ini malah melihat perusuh di dalam Apartemennya.


" Kenapa kau ada di sini ?" Hansen balik bertanya.


" Berenang." jawab Gabriel asal.


Hansen memandang Gabriel dari kepala sampai ke kaki lalu kembali memandang wajahnya. " Kau bermimpi ?"


" Ck, diamlah." Gabriel menjadi kesal sendiri akhirnya. Niatnya tadi ia ingin membuat Hansen kesal dengan kedatangannya yang tiba tiba ini bukan malah sebaliknya.


" Kesal kan kau ? Sama aku juga. Apalagi saat baru saja membuka pintuku tapi yang kulihat di dalam Apartemen adalah wajah jelekmu itu."


Gabriel mendelik mendengarnya. Yang benar saja ia jelek. Dari seluruh keturunan ayahnya dan ibunya Gabriel yakin ia adalah yang paling tampan karena ia keturunan satu satu dan juga anak tunggal seperti ayah dan ibunya.


" Apa ?!" sentak Hansen yang melihat Gabriel mendelik kearahnya.


Gabriel membuang pandangan kearah lain lalu menghela napas sabar. Menghadapi Hansen harus penuh kesabaran atau kalau tidak siap siap saja darahnya akan berkumpul semua di kepalanya.


Hansen menutup pintu dan duduk di depan Gabriel. " Ada apa kau ke Apartemenku ?"


" Temani aku ke Restoran." ucap Gabriel.


" Untuk apa ?"


" Ayahku menjodohkanku dengan putri mentri perdagangan."


Hansen mengerti sekarang. Kalau sudah meminta ditemani olehnya berarti Gabriel tidak menyukai gadis yang akan dijodohkan dengannya. " Aku siap siap dulu."


" Ya sudah sana."


Hansen beranjak ke kamarnya sambil bersiul. Rasanya senang sekali akan bertemu dengan gadis cantik. Putri menteri perdagangan, putri seorang menteri tidak mungkin jelek bukan ? Mengingat betapa cantik dan tampannya anak anak dari para petinggi di negara Z ini. Bahkan Hansen sering diminta untuk menjadi fotografer mereka apabila mereka ingin membuat foto keluarga. Tapi khusus menteri perdagangan dan kelautan Hansen belum pernah bertemu mereka. Mungkin saja mereka sama seperti menteri yang lainnya.

__ADS_1


" Ayo aku sudah siap."


Gabriel memandang penampilan Hansen yang sangat rapi. Kemeja biru muda yang tidak dikancingkan dengan kaos putih di dalamnya. Celana jeans hitam dan sepatu putih lalu rambut yang disisir dengan gaya yang sedikit berantakan. Gabriel merasa Hansen lebih cocok yang akan di jodohkan dengan putri menteri perdagangan itu dibandingkan dengannya.


" Kalau bertemu seorang gadis, gayamu melebihi pangeran negeri. Tapi jika tidak kau bergaya layaknya gembel. Aku heran kenapa Reina bisa menyukaimu."


Hansen mengangkat alisnya sebelah. Ini sudah menjadi ciri khasnya saat merasa bangga pada dirinya sendiri. " Kau tidak lihat ketampananku yang tidak manusiawi ini ?"


" Diamlah, aku mual mendengarnya." Gabriel berdiri melangkah keluar Apartemen diikuti Hansen.


" Bilang saja kau iri."


" Iri ? Padamu ? Kau bermimpi saja." Gabriel berucap sinis.


Hansen tertawa dan mensejajarkan langkahnya dengan langkah Gabriel. " Tapi jika dilihat lihat lagi cara berpakaian kita mirip juga. Hanya saja kau memakai kemeja pendek bewarna biru tua dengan jeans putih."


Gabriel melihat pakaiannya dan membenarkan ucapan Hansen. Kenapa ia baru menyadarinya sekarang. " Aku tidak sadar. Kau tidak mengikuti gayaku kan ?"


" Untuk apa ? Kau tahu aku tidak terlalu menyukai style formal dan lebih terkesan santai."


" Benar juga. Kalau diingat ingat lagi kita juga sering kali seperti ini."


... *****...


Hansen meneguk ludahnya dengan susah payah melihat gadis yang akan dijodohkan dengan Gabriel. Khayalannya tentang putri dari menteri perdagangan yang cantik jelita seperti seorang dewi langsung pupus seketika saat melihat gadis gendut berkulit hitam dengan gigi kawat bewarna ungu tengah tersenyum menatapnya dan juga Gabriel. Bahkan dari jarak seperti ini yang bisa dilihat dari gadis itu hanyalah matanya saja yang masih normal layaknya manusia biasa.


Hansen melirik Gabriel yang terdiam seperti patung dengan wajah pucat pasih di sampingnya. Pasti temannya ini sedang syok melihat gadis yang akan dijodohkan dengannya itu ternyata diluar dugaan.


" Dia cantik kan ?" bisik Hansen pada Gabriel.


" Diam."


" Lihatlah, dia bahkan memagari giginya agar tidak kabur keluar. Aku yakin kau pun pasti juga akan dipagari dengan lengannya yang sebesar paha kita itu agar tidak bisa keluar rumah jika kau berhasil dijodohkan dengannya. " Hansen berbisik lagi untuk menggoda Gabriel. Sebenarnya kasihan juga melihat wajah Gabriel yang sudah pucat itu tapi mengingat dulu Gabriel yang mengerjainya saat Hansen masih merasa takut pada Reina yang agresif. Hansen menjadi tidak jadi kasihan dan malah berniat menjahilinya saja.


" Diam."

__ADS_1


" Senyumnya bahkan lebih menyeramkan dibandingkan dengan boneka hantu." Hansen terus berbisik.


Kali ini Gabriel menganggukkan kepalanya. Gadis yang akan dijodohkan dengannya adalah gadis terseram yang pernah ia lihat seumur hidupnya. Gabriel tidak menyangka ayahnya begitu kejam kepadanya sampai memilihkannya pasangan yang sangat menyeramkan seperti itu.


" Gabriel."


Gabriel menoleh melihat Hansen yang menatapnya dengan pandangan tersirat sebuah maksud yang ia ketahui. " Hitungan ketiga."


Hansen mengangguk. " Satu, dua, tiga. Lari !"


Gabriel dan Hansen langsung beranjak dan berlari keluar Restoran dengan wajah ketakutan.


" Hei kalian mau kemana ?!" gadis itu berteriak melihat pria yang akan dijodohkan dengannya malah berlari menjauh sebelum mereka sempat berkenalan. Sayang sekali padahal ia menyukai mereka karena mereka terlihat sangat tampan sekali. Setelah pulang dari sini gadis itu pasti akan meminta ayahnya untuk menikahkannya dengan kedua pria itu.


BRAK !


Gabriel masuk ke dalam mobil bersama Hansen. Tanpa mengatur napasnya yang tersegal segal akibat berlari Gabriel langsung menancap gas mobilnya agar melaju cepat meninggalkan Restoran itu.


" Aku tidak percaya ini." Hansen memegang dadanya yang berdegup kencang sambil mengatur napasnya. " Mungkin nanti malam aku tidak akan bisa tidur nyenyak karena ketakutan." sambungnya.


" Aku menginap malam ini di Apartemenmu Hans. Aku tidak ingin mimpi buruk sendirian." ucap Gabriel setelah merasa napasnya yang mulai teratur.


" Yah kau benar. Aku baru saja berniat ingin menginap di Apartemenmu jika kau tidak meminta duluan."


" Sebelum itu aku harus bertemu ayahku dulu."


Hansen mengambil ponselnya dan mencari data tentang menteri perdagangan melalui internet. " Ya, jangan lupa tanyakan juga tentang selera ayahmu itu. Apakah karena faktor usia dia menjadi merubah kriterianya dalam melihat gadis cantik."


" Kau ingin aku berumur pendek ? Tidak akan kulakukan saranmu itu."


Hansen menghiraukan ucapan Gabriel. Matanya melotot setelah melihat data dari menteri perdagangan.


" Gabriel hentikan mobilnya cepat."


" Ada apa ?" tanya Gabriel tetapi ia meminggirkan mobilnya ke tepi jalan sebelum berhenti.

__ADS_1


" Lihatlah." Hansen menunjukkan layar ponselnya berisi foto keluarga besar dari menteri perdagangan.


Gabriel melotot melihat foto itu. " Astaga ! Keluarga buruk rupa ternyata ! Oh tuhan bagaimana ini ?!" teriaknya frustasi.


__ADS_2