
Pagi ini langit sangat cerah membuat siapa saja merasa semangat untuk memulai aktivitasnya. Bahkan ada juga yang memilih berolahraga sebelum berangkat bekerja. Namun berbeda dengan Hansen yang tengah berjalan lesu memasuki kantor dengan kantung mata dan lingkaran hitam di matanya. Akibat ucapan teman temannya tadi malam Hansen menjadi tidak bisa tidur sampai pagi. Padahal tubuhnya terasa sangat lelah sekali.
" Hei kawan ada apa denganmu ?" Gabriel yang juga baru tiba di kantornya merangkul bahu Hansen.
" Kurang tidur."
Gabriel menatap wajah Hansen yang memiliki lingkaran hitam di matanya. " Kau insomnia ?"
" Mungkin."
" Mau kuantar ke ruanganmu ?"
Hansen menggelengkan kepalanya. Hari ini pekerjaannya banyak sekali setelah ia tinggal cuti selama tiga hari.
" Baiklah."
" Aku duluan." Hansen menepuk pundak Gabriel sebelum melangkah pergi ke ruangannya.
" Ya, jika kau ingin cuti lagi bilang saja padaku." ucap Gabriel.
" Tentu saja." Hansen masuk ke dalan lift khusus karyawan.
Kau terlihat seperti gadis perawan yang sedang jatuh cinta !.
Yang sedang jatuh cinta !.
Cinta !.
" Tidak mungkin." Hansen menggelengkan kepalanya. Tidak mungkin ia jatuh cinta pada Reina yang agresif itu. Gadis itu bukanlah tipe wanitanya sama sekali.
Ting !
Hansen keluar dari lift dan berjalan cepat menuju ruang kerjanya. Jantungnya kembali berdetak setelah nama Reina muncul diingatannya. Kenapa hanya Reina saja yang bisa membuat jantungnya berdetak seperti ini, kenapa tidak orang lain saja ?.
Bahkan saat dengan Monica jantungnya berdetak biasa saja dimana itu masih tahap normal. Hansen bersandar di kursi kerjanya dengan mata terpejam. Tangannya mengurut pelipisnya karena rasa pusing yang datang kembali. Hah, sepertinya Hansen akan terkena demam kali ini.
" Malas sekali kalau sudah seperti ini." keluhnya.
Hansen mengambil obat di dalam laci meja kerjanya lalu meminumnya. Untung saja tadi Hansen telah sarapan di Apartemennya sebelum berangkat bekerja.
Drrrt !
__ADS_1
Hansen melirik ponselnya di atas meja, tertera nama Reina di sana. Helaan napas langsung dilakukannya. Baru saja wanita itu Hansen pikirkan sekarang dia malah menghubunginya.
Drrrt !
" Angkat tidak ya ?" tanyanya berbicara sendiri. Hansen memegang dada kirinya sekali lagi lalu menggelengkan kepalanya. Lebih baik ia tidak usah mengangkat telepon itu agar jantungnya tidak berdetak lebih kencang.
Hansen memilih membalik ponselnya tanpa mengangkat panggilan itu.
Drrrt !
" Maaf Rein tapi teleponmu kali ini membuatku tidak nyaman." ucapnya
Hanya perkara ucapan Mintaka semalam, Hansen menjadi seperti ini sekarang. Fokusnya terbagi dan tertuju pada kata kata jatuh cinta yang seumur umur belum pernah dirasakannya. Masih untung bila Hansen jatuh cinta dengan tipe wanita yang diidamkannya. Tapi ini Reina, tipe wanita yang jauh dari yang diinginkannya.
Apa yang telah Hansen lakukan hingga Reina bisa membuat jantungnya berdetak kencang ?.
...*****...
Hansen memukul pelan kepalanya yang terasa pusing. Padahal tadi pagi ia sudah meminum obat tetap tubuhnya masih terasa demam. Hansen menutup pintu ruang kerjanya.
" Kau baru selesai ?"
Seketika Hansen terperanjat kaget lalu menoleh keasal suara itu. Menatap horor Gabriel yang berada di kursi ruang kerjanya dan Reina yang tengah tersenyum di sofa. Oh, jagan lupakan makanan makanan yang berjajar rapi di atas meja.
" Hans kenapa kau berdiri di situ ?" Gabriel beranjak mendekati Hansen.
Hansen menggelengkan kepalanya " Tidak ada. Ehem ! Ada apa kalian datang ke ruanganku ?"
" Reina memasak untuk kita, ayo kita makan bersama. Asal kau tahu saja Hans perutku sudah sangat lapar tapi aku belum bis makan karena menunggumu." Gabriel menggiring Hansen untuk duduk di sofa bersama Reina. Namun keningnya berkerut saat Hansen memilih duduk agak jauh darinya dan juga Reina.
" Aku gerah." Hansen yang menyadari tatapan Gabriel pura pura mengibaskan kerah bajunya seakan akan terasa panas.
Reina yang sedari tadi menyimak hanya tersenyum dengan tangan yang mulai menyiapkan makanan.
" Reina kau tidak bekerja ?" tanya Gabriel.
" Tentu saja bekerja tapi hari ini aku tidak menangani kasus besar sehingga bisa lebih santai."
" Pantas saja kau bisa memasak semua ini. Oh ya, berikan aku udang asam dan sayur wortelnya."
Reina mengambilkan makanan itu dengan cekatan lalu memberikannya pada Gabriel. Hansen yang melihat itu entah mengapa menjadi kesal sendiri.
__ADS_1
" Hans kau ingin makan apa ?" tanya Reina setelah mengambilkan makan Gabriel.
" Terserah." Hansen menjawab dengan sedikit ketus.
Reina mengerutkan keningnya bingung. Kenapa tiba tiba Hansen terlihat kesal kepadanya. Apa Reina memiliki kesalahan hari ini ?.
" Dia suka makanan laut. Berikan saja masakanmu yang berbahan itu." bisik Gabriel yang duduk di sebelah Reina.
Reina menganggukkan kepalanya lalu mengambilkan nasi, udang asam, kerang saus tiram, dan cumi yang di masak dengan kacang panjang. " Ini untukmu."
Hansen menatap piring yang berusi makanan pemberian Reina untuknya. Lalu mengambilnya dan memakannya tanpa selera. Reina yang melihat itu bertambah bingung. Biasanya jika Hansen diberi makanan kesukaannya pria itu pasti akan kegirangan. Tapi kenapa sekarang malah terlihat tidak berselera makan.
" Hans apa masakanku enak ?" tanya Reina.
" Enak."
Reina menatap Gabriel bertanya. Tetapi temannya itu malah mengangkat bahu sebagai jawaban kalau dia tidak tahu apa apa.
Hansen menyudahi makannya lalu beranjak berdiri dari tempat duduknya. Gabriel menghentikan makannya menatap Hansen yang tidak menghabiskan makanannya.
" Kau sudah selesai ?"
Hansen menganggukkan kepalanya dan berjalan ke kursi kerjanya. Mengambil obat lalu meminumnya. Reina dan Gabriel yang melihat Hansen meminum obat langsung mengerti sekarang.
" Kau sakit ?" tanya Gabriel sambil melanjutkan makannya.
" Hm."
Reina beranjak mendekati Hansen. Dipandangnya wajah tampan pria itu yang memang terlihat pucat dengan kelopak mata yang menghitam. Reina berjalan ke belakang kursi Hansen lalu memijat pelan kepala pria itu. Tetapi hal itu membuat Hansen tersentak dan menoleh ke belakang.
" Biarkan aku memijat kepalamu. Aku yakin kepalamu pasti terasa pusing." ucap Reina.
Hansen menurutinya dan bersandar di kursi kerjanya dengan mata terpejam. Tanpa sadar bibirnya tertarik membentuk sebuah senyuman yang membuat Reina juga ikut tersenyum.
" Apakah pijatanku terasa ?" Reina bertanya dengan tangan yang masih memijat kepala Hansen.
" Hm, sedikit lebih kencang lagi."
" Seperti ini ?"
" Ya."
__ADS_1
Gabriel berdecak mendengar pembicaraan Hansen dan Reina. Meskipun matanya untuk memandang makanan tetapi telinganya yang terbuka mendengar pembicaraan yang berwarna romansa itu. Tadi saja Hansen pura pura acuh, sekarang setelah Reina memanjakannya temannya itu malah kesenangan sendiri.
Memang kalau gengsi terlalu tinggi itu susah sekali untuk berlaku jujur. Melihat dari matanya saja Gabriel tahu kalau Hansen itu mulai menyukai Reina. Tetapi teman bodohnya itu malah pura pura bersikap acuh.