
" Maaf Tuan kami tidak bisa menemukannya." para penjaga Galiendro yang ditugaskan untuk menemukan penyusup itu membungkuk hormat. Mereka menahan gugup dan juga ketakutan atas kegagalan mereka kali ini.
PRANG !
" Bodoh." umpat Galiendro yang memandang penuh amarah pada para penjaganya.
Dekandra terkekeh bersama George yang sedang menahan tawa melihat Galiendro memarahi para penjaganya. Sebelumnya mereka sudah memperingati tetapi Galiendro masihlah tetap pria bebal yang selalu mengandalkan orang lain. Sekarang, pria itu bahkan tidak bisa menangkap penyusup di dalam Mansionnya sendiri.
Jenderal Jin menatap Klein meminta jawaban dari perintah yang sebelumnya diberikan olehnya. Tetapi wakilnya itu menggeleng lemah sebagai jawaban atas perintahnya.
Melihat ini Jenderal Jin menyimpulkan dua hal yaitu pertama penyusup itu tidak ada. Kedua, penyusup itu adalah orang yang cukup pintar dalam mengelabui orang orang disekitarnya.
" Hentikan sikapmu itu Galiendro. Dari pada kau seperti itu lebih baik kau periksa barang berhargamu apakah ada yang hilang atau tidak." ucap Jenderal Jin yang mulai kesal dengan tingkah Galiendro.
Galiendro terdiam untuk beberapa detik lalu mengangguk setuju. Tapi kemudian bibirnya melengkung membentuk sebuah seringai licik. " Tidak ada barang berhargaku di Mansion ini."
" Memangnya kau memiliki barang beharga apa selain wajah keriputmu itu ?" Dekandra menatap Galiendro dengan alis terangkat sebelah.
" Barang yang mungkin akan membuat kalian berlutut karenanya." Galiendro memandang temannya satu persatu dengan tatapan penuh arti.
" Maksudmu ?" tanya George.
Galiendro tersenyum sinis sebelum menjawab. " Hanya sebuah brankas."
" Kau tidak sedang menyembunyikan sesuatu kan ?" tanya Jenderal Jin sambil menatap tajam Galiendro.
Galiendro menggeleng pelan dan memandang santai teman temannya. " Tidak, brankas itu menyimpan seluruh hartaku. Aku hanya mempersiapkan diri kalau tiba tiba aku jatuh miskin nanti."
" Kau konyol sekali." ucap George.
" Aku bukan pengusaha sepertimu yang memiliki saham dimana mana. Apalagi Dekandra yang memiliki rumah sakit diseluruh daerah dan juga Jin yang memiliki pengacara terbaik diseluruh negara. Karena itu aku menyimpan hartaku untuk persiapan saja." jelas Galiendro.
Persiapan bila kalian berbalik arah menyerangku suatu hari nanti ! ucap batin Galiendro.
__ADS_1
Galiendro bukanlah pria bodoh yang tidak tahu dunia politik. Brankas itu berisi semua kejahatan yang telah dilakukan oleh teman temannya selama ini. Galiendro diam diam menyimpan semua itu sebagai senjata jika suatu saat nanti ketiga temannya itu berbalik arah menyerangnya. Karena bagaimana pun mereka berteman karena demi kepentingan mereka masing masing. Bukan murni keinginan mereka yang datang dari dalam hati.
Dulu, Frendick yang terkenal sebagai bangsawan tertinggi dan begitu dihormati diseluruh negara bisa hancur karena teman temannya yang berbalik arah mengkhianatinya. Frendick begitu percaya dengan ikatan tulus pertemanan yang suatu saat bisa membunuhnya. Hal itu membuat Galiendro belajar dan diam diam menjadi penyerang dalam bayangan.
Galiendro tidak ingin memiliki nasib yang sama seperti itu. Karena itulah brankas itu ia simpan ditempat lain. Untuk masalah harta baginya itu bukanlah barang beharga selama ia masih menjadi Presiden di negara Z ini.
Karena keinginannya selama ini adalah membuat semua orang tunduk kepadanya, mematuhi setiap perintahnya, dan memiliki kedudukan tertinggi diantara yang lainnya.
" Kau jangan khawatir, kami pasti akan mendukungmu bila kau dalan masalah." ucap Dekandra bersama anggukan setuju dari George dan juga Jenderal Jin.
" Ya tentu." balas Galiendro.
...*****...
Hansen berjalan menuju balkon kamarnya. Tangannya terentang dengan mata terpejam menikmati sejuknya udara pagi.
" Aku merindukan udara ini." gumamnya.
Hansen kembali membuka matanya. Memandang langit yang terlihat masih gelap. Bintang dan bulan juga tidak terlihat begitupula dengan matahari yang sepertinya akan terlambat terbit.
Hansen memandang langit dengan seksama. Jika dilihat lihat lagi memang langit pagi hari ini lebih gelap dari biasanya. " Sepertinya memang akan turun hujan. Sayang sekali aku merindukan sinar matahari yang hangat."
DRRT ! DRRT !
Hansen menoleh mengerutkan keningnya saat mendengar ponselnya berbunyi di atas meja. Orang gila mana yang menelponnya pagi buta seperti ini. Bahkan jarum jam masih mengarah pada pukul setengah enam pagi.
DRRT ! DRRT !
Hansen memutar mata malas sebelum berjalan mengambil ponselnya. " Hal..."
" Lama."
Hansen mengerutkan keningnya mendengar suara yang dikenalnya. " Gabriel ?"
__ADS_1
" Kau kira siapa lagi ? Selingkuhanmu ? Kau kan berstatus sendiri saat ini." Gabriel bertanya sambil tertawa geli.
" Setidaknya cadangan wanitaku banyak tidak seperti kau yang berpacaran saja tidak pernah." Hansen tersenyum mengejek meskipun tahu Gabriel tidak akan bisa melihatnya.
" Hah ! Aku kalah, terserah kau saja. Karena memang nyatanya begitu. Hei, pekerja ! Malang sekali nasib bosmu ini kan ?"
" Iya, tapi aku tidak kasihan padanya."
" Kenapa ?"
" Entahlah, mungkin saja karena dia tidak terlalu penting untukku."
" Hei ! Tarik kembali ucapanmu itu !" Gabriel berteriak kencang.
Hansen segera menjauhkan ponselnya dari jangkauan telinganya. " Kenapa harus kutarik ? Kau tahu ucapan itu seperti udara ? Dia tidak berbentuk dan tidak bisa disentuh. Lalu bagaimana caraku untuk menarik ucapanku kembali sedangkan aku saja tidak bisa menyentuhnya ?"
" Ya tuhan Hans ! Kau itu polos atau bodoh sih ?! Berbicara denganmu membuat darah tinggiku naik." Gabriel terlihat marah di sana.
Hansen tersenyum dan menggaruk belakang kepalanya yang tidak terasa gatal. " Kalau begitu turunkan saja darah tinggimu itu. Lagipula darah tidak berkaki dan juga tidak bisa merayap. Bagaimana dia bisa naik ? Memangnya darah tinggimu itu naik kemana ?"
" Hansen.. ! Awas kau ! Aku akan memukulmu setibanya nanti kau di kantor !" Gabriel berucap marah sebelum mematikan panggilan secara sepihak.
Hansen menatap bingung layar ponselnya. Sebenarnya apa maksud Gabriel menelponnya pagi buta seperti ini ?.
" Apa dia ingin mengajakku bertengkar ? Tapi untuk apa ? Apa itu untuk menaikkan darah tingginya ? Tapi tadi dia seperti tidak mau memiliki darah tinggi. Hah ! Sudahlah, biar itu jadi urusannya sendiri." Hansen berbicara sendiri dan dijawab sendiri juga olehnya.
Jika orang lain yang melihat Hansen seperti itu pasti mereka akan meragukan kewarasannya.
BRES !
" Nah, kan hujan ?! Ramalanku tidak salah ternyata." Hansen berucap bangga melihat turunnya hujan dari langit melalui jendela kamarnya.
Hansen berjalan kearah meja kerjanya. Meletakkan ponselnya di atas meja dan duduk bersandar di kursi. Ia membuka komputernya dan mulai mengetik beberapa kata untuk membuka sandi sebuah akun. Setelah terbuka jemari tangannya berlanjut mengetik cepat keyboard dengan pandangan fokus kearah komputer.
__ADS_1
Hansen meneliti setiap pergerakan yang ada di dalam layar komputernya. Disana ia melihat seluruh tayangan dari setiap CCTV yang ada di negara Z. Matanya meneliti dan mencari apa yang diinginkannya. Satu persatu Hansen lihat tanpa melewatkannya tetapi sepertinya apa yang dicarinya tidak bisa ia temukan saat ini.