Orion (Sang Pemburu)

Orion (Sang Pemburu)
Salah Ruangan


__ADS_3

" Hans sepertinya aku harus pergi ke kantor sekarang. Bagaimana ini ? Reina ada ada pekerjaan dan Jack harus ikut denganku. Siapa yang akan menjagamu di sini ?" Gabriel memandang kesal ponselnya yang menjadi alat komunikasinya dengan bawahannya di kantor.


Hansen memutar mata malas. " Pergi saja, aku tidak apa apa sendiri untuk sementara. Kau juga nanti ke sini lagi kan ?"


" Iya tapi.., kau benar tidak apa apa bila kutinggal ?" tanya Gabriel.


Hansen menggelengkan kepalanya. " Asal pulangnya belikan aku lemon cake."


Gabriel menghela napas mendengar itu. Tidak apa apa untuk kali ini saja Hansen sendiri. Nanti setelah selesai rapat Gabriel akan datang menjaga Hansen lagi.


" Baiklah, ayo Jack kita harus pergi sekarang." ucap Gabriel.


" Kami pergi dulu." Jack menepuk pelan pundak Hansen lalu berjalan mengikuti Gabriel keluar kamar.


Sekarang tinggallah Hansen sendirian di kamar inapnya ini. Hansen menutupi mulutnya yang menguap lebar. Matanya berkaca kaca merasa ngantuk. Namun baru saja Hansen akan memejamkan matanya. Enam orang menerobos masuk ke dalam kamar inapnya.


" Ada.., saja yang menggangguku." gumamnya.


" Hai ketua sudah sembuhkah ?" Mintaka berjalan dengan senyum lebar dan tangan yang memegang parsel buah favorit Hansen.


" Kenapa kalian kesini ?" Hansen bertanya kesal. Gagal sudah niatnya yang ingin bersantai dan tidur nyenyak.


" Kami datang berkunjung melihat penyakitmu bukan dirimu." ucap Bellatrix.


Hansen meliriknya sinis. " Lancar sekali suaramu Alltrix."


Bellatrix tertawa mendengar sindiran itu. Rigel berjalan mendekati Hansen lalu memberikan ponselnya.


" Zairan ingin melihat keadaanmu."


Hansen menatap layar ponsel Rigel yang memperlihatkan wajah Zairan. Ia tersenyum melihat pria itu menatapnya khawatir. " Kau merindukanku ?"


Zairan terlihat berdecak kesal diujung sana. " Jangan merusak suasana hatiku anak nakal."


" Kusudahi saja panggilan video ini klw kau terus marah seperti itu orang tua." Hansen tertawa geli mengingat panggilan yang disematkannya untuk Zairan. Memang iya dia orang tua kan ? Bahkan Rigel yang tertua dikelompoknya masih dua tahun lebih muda dari Zairan.


" Melihatmu sudah bisa mengejek orang lain kurasa kau sudah sembuh sekarang. Baiklah aku matikan panggilan video."


Setelah Zairan selesai berbicara, panggilan video itu langsung disudahinya. Hansen mengembalikan ponsel itu pada Rigel.

__ADS_1


" Wow apa ini tadi yang kulihat ? Kau cukup dekat dengannya Hans ?" tanya Bellatrix.


Hansen mengangkat bahunya acuh. " Untuk saling menguntungkan."


" Kami sudah menangkap ular melata tidak tahu diri itu." adu Saiph yang membuat Hansen menatapnya.


" Bagus."


" Aku sempat geram kemarin. Kau tahu Hans, mereka berani menggigit pemburu padahal mereka bisa hidup karena belas kasihan darinya. Benar benar tidak tahu diri bukan ?" tanya Alnilam yang tengah mengupas jeruk untuk Hansen.


Hansen tersenyum menanggapinya. " Mereka tidak tahu itu aku Nilam."


" Jadi kau mau memaafkan mereka begitu ? Hah, baik sekali kau ?!" Alnitak menatap Hansen sinis dan juga jengkel.


Mendengar pertanyaan itu Hansen tiba tiba saja menyeringai kejam. " Tidak ada yang boleh mengusikku atau balasannya aku akan dengan senang hati melempar mereka ke neraka. Tapi.., mengingat mereka adalah orang orang tangguh di Snake maka apa salahnya jika mereka dimanfaatkan ?"


Alnilam, Alnitak, Saiph, Rigel, Bellatrix, dan Mintaka tersenyum mendengarnya. Sebaik baiknya Hansen dia masihlah mahkluk terlicik yang pernah ada. Jangan lupakan sifatnya yang manipulatif itu. Mereka tidak salah menggantungkan hidup mereka pada orang selicik Hansen.


.


...*****...


.


Hansen melihat cairan infusnya lalu mengangguk mengerti. " Terima kasih."


" Sudah tugasku dan juga kewajibanku menjagamu sesuai yang diperintahkan papi."


Hansen tersenyum namun senyumannya seketika menjadi kaku saat pandangannya jatuh pada jam di dinding. Ini sudah waktunya Gabriel pulang dari kantor.


" Kalian cepat pergi karena sebentar lagi Gabriel datang kesini."


" Hah, aku merasa seperti menjadi selingkuhan sekarang." ucap Mintaka.


Hansen mendengus sinis. " Kau saja belum pernah merasakan menjadi kekasih orang. Jangan sok merasa seakan akan kau tahu rasanya menjadi selingkuhan."


Mintaka syok dengan mata terbelalak. Matanya yang sipit menjadi terbuka sedikit karena kata kata tajam Hansen yang menyakitkan untuknya.


" Ayo kita pulang sekarang." ucap Rigel.

__ADS_1


" Hans kami pulang dulu. Jaga kesehatanmu dan jangan lupa hubungi kami kalau kau butuh bantuan ya." Alnitak menatap Hansen penuh perhatian.


" Ya ya mommy aku tahu." Hansen tersenyum lucu layaknya anak kecil. Ini hanya untuk candaan mereka saja.


" Uh, lucunya anak kita Alni." Alnilam mencubit gemas pipi Hansen.


Di dekat pintu Rigel dan Saiph saling pandang lalu bergidik ngeri. Jangan sampai mereka memiliki anak seperti Hansen yang nakalnya melebihi orang tidak waras.


" Ayo cepat." pinta Bellatrix.


Mintaka, Bellatrix, Alnitak, serta Alnilam beranjak mengikuti Rigel dan Saiph yang sudah menunggu di depan pintu. Namun sepertinya mereka terlalu lambat hingga harus bertemu dengan Gabriel dan juga Jack di pintu.


" Siapa kalian ? Kenapa kalian masuk ke dalam kamar inap temanku ?" Gabriel memandang orang orang di depannya dengan kening berkerut bingung dan juga curiga.


" Ehem ! Maaf tuan, sebenarnya tadi kami salah ruangan. Saudara kami beberapa hari lalu dioperasi dan masuk ke dalam kamar ini. Tapi saat kami berkunjung orang yang sakit sudah berganti. Kami tanya ke perawat katanya saudara kami sudah pulang terlebih dahulu dan ruangan itu diganti dengan teman anda. Maaf bila kedatangan kami membuat anda tidak nyaman tuan." Alnitak menjelaskan dengan senyum canggung seakan bersalah.


Raut wajah Gabriel sedikit melemas dan berganti ramah. " Tidak apa apa saya juga minta maaf karena tidak tahu hal itu."


" Terima kasih tuan, kalau begitu kami permisi."


" Ya silahkan." Gabriel menyingkir dari depan pintu untuk memberikan mereka jalan. Setelah itu barulah ia dan Jack masuk ke dalam menemui Hansen.


" Mereka tidak berbuat aneh padamu kan Hans ?" tanya Gabriel.


Hansen menggeleng lalu terkekeh geli. " Aku bahkan diberikan banyak buah tangan dari mereka."


Jack melihat bingkisan dan parsel buah di meja sofa. Mungkin mereka menaruhnya di sini karena meja di dekat ranjang Hansen sudah penuh buah buahan dan makan ringan.


" Kukira kau mengenal mereka." ucap Gabriel.


" Kalau aku mengenal mereka kau juga pasti akan mengenalnya juga."


Gabriel membenarkan perkataan Hansen. Mereka kan berteman sejak kecil. Pasti otomatis Gabriel juga mengenal setiap orang yang mengenal Hansen begitu pula sebaliknya. Hansen pasti tahu siapa saja orang yang mengenalnya.


" Ngomong ngomong makanan ini terlihat enak." ucap Jack yang masih melihat isi di dalam bingkisan.


Hansen tersenyum melihatnya. " Ambil saja kalau kau suka Jack."


" Benarkah ?" Jack bertanya senang.

__ADS_1


Hansen menganggukkan kepala memberi jawaban.


" Wah ! Terima kasih kalau begitu." Jack berucap riang.


__ADS_2