
" Saya..., Dion Jenderal. Saya pelayan baru di sini. Maafkan saya bila saya membuat anda tidak nyaman." pelayan yang mengurus wine itu membungkuk canggung kearah Jenderal Jin.
Galiendro mengerutkan keningnya merasa aneh melihat Jenderal Jin yang bersikap kasar hari ini. " Jin ada apa ? Apa dia melakukan kesalahan ?"
Jenderal Jin tak menjawab pertanyaan Galiendro. Matanya masih menatap tajam pelayan yang bernama Dion itu. " Berapa tinggi badanmu ?"
" Maaf ?" Dion tampak tak mengerti dan terlihat bingung.
Jenderal Jin menghela napas sebelum bertanya kembali tanpa mengurangi tatapan tajamnya. " Aku bertanya berapa tinggi badanmu ?"
Dion menundukkan kepalanya merasa bersalah. " Maafkan saya Jenderal, saya tidak pernah mengukur tinggi badan saya."
" Jin ayolah, ada apa ? Apa pelayanku ini melakukan kesalahan kepadamu ? Katakan saja aku pasti akan menghukumnya." tanya Galiendro.
Jenderal Jin menggelengkan kepalanya dengan mengibaskan tangannya " Pergilah." pintanya pada pelayan itu.
" Terima kasih Jenderal." Dion membungkukkan badannya memberi hormat lalu berbalik pergi dari ruangan itu.
" Ada apa ?" Dekandra yang sedari tadi diam ikut berbicara.
Jenderal Jin menatap Galiendro dengan pandangan yang memiliki permintaan tersirat di matanya. Galiendro yang mengerti langsung meminta para para pelayannya untuk pergi.
" Kalian keluarlah, makanan ini cukup untuk kami."
" Baik tua." ucap para pelayan itu yang membungkuk hormat lalu berjalan keluar dari ruangan itu dengan teratur.
Jenderal Jin memberi perintah pada Klein untuk menutup pintu ruangan itu. Setelah melihat tidak ada satu orang pun lagi di ruangan itu selain mereka berempat. Barulah Jenderal Jin menyampaikan maksudnya.
" Saat aku akan masuk ke dalan Mansion ini bersama Klein. Dua penjaga di depan pintu utama berkata telah melihatku sebelumnya masuk sendiri ke dalam Mansion ini lengkap dengan tanda pengenalku. Aku curiga tetapi juga ragu karena setahuku orang orang di Mansion ini tidak ada yang mirip denganku." jelas Jenderal Jin.
Galiendro terkejut mendengarnya. " Lalu apa itu sebabnya kau bersikap aneh seperti tadi kepada pelayanku ?"
Jenderal Jin mengangguk.
" Ini tiba tiba sekali." ucap Dekandra.
__ADS_1
Jenderal Jin beralih memandang Dekandra. " Ini masih dugaan."
" Itu insting Jin. Kau petarung hebat tentu kau bisa merasakan musuh disekitarmu." ucap George.
" Kalau memang benar aku akan meminta pelayan tadi ditangkap." Galiendro mengetikkan beberapa pesan di ponselnya sebagai perintah untuk menahan pelayan yang bernama Dion tadi.
Dekandra menghubungi anak buahnya untuk mencari penyusup itu. Begitupula dengan George yang juga meminta pengawalnya untuk mencari tahu tentang pelayan yang bernama Dion itu.
Jenderal Jin menatap Klein beberapa detik yang langsung dibalas dengan anggukan mengerti dari wakilnya itu sebelum beranjak pergi.
" Nah ! Sekarang, ayo kita makan dulu. Biarkan para penjaga kita yang berkerja."
Spontan Jenderal Jin, Dekandra, dan George serentak berdecak kesal sambil beranjak pergi meninggalkan Galiendro yang terperangah melihat kepergian mereka.
" Hei, kalian mau kemana ?!" teriak Galiendro.
Dekandra melambaikan tangannya ke atas tanpa menoleh ke belakang. Jenderal Jin memimpin kedua temannya berjalan menuju ruang kerja Galiendro dimana di sana terletak ruang rahasia yang dibuat khusus untuk tempat mereka berkumpul.
" Aku heran kenapa dia masih bisa santai disaat ada penyusup di dalam Mansionnya." gerutu Dekandra.
" Tapi bisa saja kepercayaan itu menjadi belati yang akan siap menikamnya dari belakang." ucap George.
...*****...
Dion berlari masuk ke dalam kamar Presiden. Menguncinya dari dalam sambil mengatur napas yang tersegal segal. Mansion ini luasnya sama dengan istana negara dan Dion baru saja berlari mencari jalan menuju ke kamar ini yang dimana dijaga ketat oleh penjagaan janggih.
" Kau dimana ?"
Dion menekan earpiece di telinga kanannya. " Kamar Presiden."
" Kau bisa keluar ?"
" Tentu saja. Kau kira aku ini bodoh sampai tidak bisa keluar dari sini ?" balas Dion.
" Baguslah kalau kau tahu. Sekarang cepat keluar, kami menunggumu di balik tembok."
__ADS_1
" Ya." Dion membalas singkat dan memulai tugasnya yaitu mencari brankas di kamar Galiendro. Dion mencari dimana brankas itu disembunyikan. Dimulai dari setiap lemari dan juga meja yang tersusun rapi, kolong tempat tidur, dinding di balik lukisan, sampai lantai keramik di bawahnya juga menjadi daftar pencariannya. Tapi setelah cukup lama Dion mencari, brankas itu belum juga ditemukan.
" Aku tidak bisa menemukannya disini." ucap Dion menghubungi teman temannya melalui earpiece.
" Lain waktu saja. Kau cepat keluar dari sana karena seseorang sedang berjalan kearah kamar itu."
" Baik." Dion berhenti mencari dan berlari melompati balkon kamar itu. Lalu menyusup melalui bunga bunga yang tumbuh segar menuju pagar tanpa ketahuan penjaga. Setelah berhasil memanjat pagar, Dion melihat sebuah mobil hitam terparkir tidak jauh dari tempatnya.
Dion berjalan menghampiri mobil itu dan mengetuk kacanya dua kali untuk memastikan apakah benar itu adalah mobil teman temannya.
" Masuk saja."
Dion tersenyum sambil membuka pintu mobil dan masuk ke dalam. " Maaf aku tidak bisa menemukannya dimanapun termasuk kamar itu."
Orion menepuk pundak Dion. " Bukan salahmu. Brankas itu sangat penting bisa saja Galiendro menyimpannya ketempat yang lain."
" Orion benar, kita masih memiliki Mintaka untuk mencarinya." ucap Saiph yang dibalas anggukan yakin dari Mintaka.
Dion menghela napas menerima kegagalannya hari ini. Tangannya menarik kulit wajahnya yang terkelupas begitu saja dan menampakkan wajah Rigel di baliknya. " Ngomong ngomong penemuanmu hebat juga Saiph."
Saiph terkekeh melihat topeng kulit yang sangat tipis di tangan Rigel. " Aku mendapatkan ide itu karena para wanita yang hobi memakai masker wajah."
" Aku pernah memakai itu. Bentuknya seperti wajah dan bahannya seperti perban luka ditambah lendir sebagai perekatnya. Itu benar benar menjijikkan." ucap Bellatrix dengan tubuh bergidik ngeri saat mengingat dimana dirinya dipaksa memakai masker topeng oleh Alnilam dan Alnitak.
Rigel menoleh mencari dua temannya yang lain. " Dimana Alnilam dan Alnitak ?"
" Mereka sedang merancang perhiasan." jawab Mintaka.
Orion yang sedang menyetir mobil hanya diam mendengar pembicaraan teman temannya. Saat ini fokusnya sedang memikirkan dimana brankas itu disembunyikan oleh Galiendro.
Orion sangat membutuhkan brankas itu karena disana terdapat bukti bukti semua kejahatan yang Galiendro lakukan bersama keempat temannya. Sepertinya Orion akan mencarinya sendiri diwaktu senggangnya. Mungkin menghipnotis salah satu dari mereka bukanlah masalah. Orion menyeringai setelah mendapatkan pemikiran itu.
" Tapi Altrix, pantas saja wajahmu terlihat mulus akhir akhir ini. Jadi itu semua karena kerjaan Alnilam dan Alnitak ?" tanya Mintaka.
Bellatrix menganggukkan kepalanya. " Aku sarankan kau menjauh dari kedua wanita itu saat mereka sedang mempercantik diri. Karena jujur saja aku merasa trauma dengan lendir dari masker topeng yang mereka pakai itu."
__ADS_1
Mintaka tertawa sambil mengacungkan dua ibu jari kearah Bellatrix.