
" Hah ?!"
Orion memutar mata malas dan Neus tertawa kencang. Saiph yang dari tadi berdiri karena sedang mengomando menjadi ikut tertawa.
" Kau tidak bisa begitu Orion. Aku tidak melakukan hal fatal. Lagi pula aku sering berbicara seperti itu juga tentang Saiph, Bellatrix, dan yang lainnya tapi mereka biasa saja." ucap Rigel yang terlihat tidak terima menjadi mangsa buruan Orion kali ini. Tentu saja, lagi pula siapa yang jika ingin menjadi mangsa kalau pemburunya saja seorang psikopat haus darah seperti Orion.
" Itu karena aku tidak suka ada yang mengetahui keinginanku selain istriku nanti."
Rigel tertegun terdiam mendengar ucapan Orion. Pikirannya segera mencerna maksud dari perkataan itu.
" Tidak usah kau pikirkan Rigel. Jalan pikiranmu dan Orion itu berbeda. Kau tidak akan bisa mengerti dengan apa yang dia pikirkan." ucap Saiph yang berjalan mendekat.
Rigel menghela napas pasrah lalu menganggukkan kepalanya tanda menyerah. Terima saja nasib sialnya hari ini, Orion kejam sekali kepadanya sekarang. Rigel jadi ingin menangis tapi tidak ada yang terasa sakit. Air matanya juga tidak akan bisa keluar karena Rigel bukanlah orang yang mudah menangis meskipun tertembak puluhan kali.
" Kalian sudah selesai ?" Orion bertanya pada Saiph.
" Sudah, kita hanya tinggal berangkat saja sesuai arahan darimu." jawab Saiph.
Orion menepuk pundak Saiph lalu menghabiskan kopinya. " Ayo kita berangkat."
" Berhati hatilah. Jangan kau tunjukkan jati dirimu sebelum rakyat bisa menerima Rasi Bintang sebagai bagian dari mereka." ucap Neus.
" Aku mengerti paman. Kalau begitu kami pergi sekarang." ucapan terakhir Orion sebelum ia beranjak pergi diikuti Rigel dan Saiph.
" Papi kami berangkat dulu." ucap Rigel.
" Bila kami belum pulang saat makan malam. Papi makanlah terlebih dahulu dan jangan menunggu kami." tambah Saiph.
Neus tersenyum dan melambaikan tangannya mengusir Rigel dan Saiph untuk mengikuti Orion segera. Jangan sampai tuan muda yang pemarah itu menghukum mereka hanya karena menunggu terlalu lama.
" Orion barang sudah kami susun." ucap Alnitak.
" Bagus, sekarang masuk ke dalam mobil kita berangkat." balas Orion sebelum masuk ke dalam mobil hitam yang terparkir paling depan. Diam diam Orion menghembuskan napas beberapa kali untuk mencoba menenangkan perasaannya saat ini.
Sudah sangat lama Orion tidak melihat mereka, rakyat negara N. Dari keramahan mereka, kebaikan mereka, setiap pujian yang mereka berikan untuknya, Orion merindukan itu semua.
Sabarlah rakyatku, aku berjanji akan mengembalikan kebahagiaan kalian ! batin Orion.
Orion memandang sepanjang jalan yang dilaluinya. Tidak ada lagi bunga liar berwarna warni yang menghiasi jalan. Orion mengepalkan tangannya menahan marah. Bunga liar itu sengaja ditanam oleh rakyatnya karena mereka tahu kalau ibunya sangat menyukai bunga. Rakyatnya menanam itu dengan harapan bahwa ibunya akan bahagia setiap kali berjalan jalan bersama Orion.
__ADS_1
Tiba tiba sebuah tangan menepuk pundaknya. Orion menoleh dan melihat Rigel yang tersenyum.
" Kita akan mengembalikannya seperti semula." ucap Rigel.
Orion hanya mampu menganggukkan kepalanya karena suaranya yang tertahan di tenggorokannya entah karena apa. Rasanya sangat sulit untuk mengutarakan ucapannya pada Rigel. Sekeras apapun Orion menguatkan hatinya, kelemahannya masih terletak pada keluarga dan negaranya.
Melihat keadaan jalan di negaranya yang tandus dan gersang Orion merasa hatinya seperti tertikam benda tajam. Rasa bersalah langsung mendatanginya hingga membuatnya merasakan sesak yang menyakitkan.
...*****...
" Orion lihat itu." Mintaka yang duduk di kursi belakang menepuk pundak Orion.
Orion menoleh mengikuti arah tunjukkan Mintaka. Matanya seketika memerah menahan air matanya saat melihat para kondisi rakyatnya yang memprihatinkan. Tubuh mereka kurus dengan pakaian compang camping. Wajah mereka kuyuh dan pandangan mereka kosong seperti tak memiliki harapan hidup. Rumah rumah tembok yang dulu dilihatnya kini berubah menjadi gubuk tua.
Inikah negara ?
Inikah keadaan rakyatnya selama ini ?
Rasa bersalah semakin menyelubungi hatinya. Ternyata selama ini Orion sudah terlalu egois. Ia hanya memikirkan balas dendamnya tanpa memikirkan keadaan rakyatnya.
" Ayo turun turun."
" Siapa yang harus kita temui ?" tanya Orion.
" Para tetua dulu, kata papi kita harus meminta bantuan mereka untuk mempermudah pekerjaan kita." jawab Rigel.
" Lalu kenapa kita keluar mobil ?" kali ini Mintaka yang bertanya dan itu membuat Rigel memutar matanya malas.
" Kita bertanya kepada mereka dimana letak rumah para tetua itu berada."
" Apa aku harus ikut keluar juga ?" Orion bertanya ragu.
Rigel mengangguk. " Harus, tutup setengah wajahmu dengan masker. Kita lihat bagaimana reaksi mereka saat melihat matamu yang sama dengan mata pemimpin kesayangan mereka."
Orion memakai masker dan keluar dari mobil. Tangannya terangkat ke atas memberi perintah pada Bellatrix, Saiph, Alnilam, dan Alnitak untuk keluar juga dari mobil.
" Permisi." Rigel tersenyum ramah dan sopan menyapa sekumpulan orang dipinggir jalan. Tetapi mereka malah terkejut dan beranjak berdiri dengan wajah ketakutan.
" Siapa kalian !"
__ADS_1
" Kami tidak memiliki apapun lagi !"
" Pergilah kalian dan biarkan kami hidup !"
Mendengar ucapan dari orang orang itu senyum Rigel luntur seketika. Namun Rigel kembali memberikan senyum terbaiknya demi bisa berbicara dengan orang orang itu.
" Maaf tapi kami hanya ingin mengetahui keberadaan rumah para tetua. Bisakah tuan tuan sekalian bersedia memberitahu kami ?" tanya Rigel.
" Untuk apa ? Apa kau ingin mengambil organ kami lagi atau kau ingin mengambil para gadis di sini ?!"
" Kami sudah tidak memiliki apapun lagi kecuali nyawa kami."
" Pergilah, kalian tidak akan mendapatkan apa dari kami termasuk keberadaan para tetua."
Lagi lagi mereka mengucapkan hal yang membuat Rigel terlihat bingung harus melakukan apa untuk membujuk mereka.
" Kami membawa informasi tentang bangsawan Frendick." ucap Orion tiba tiba yang membuat sekumpulan orang itu terkejut.
" F...Frendick ?"
Orion mengangguk sekilas sebagai jawaban.
" Benarkah ?! Kalau begitu cepat beritahu kami tuan !"
" Tuan tolong beritahu kami ! Kami harus menjemput pemimpin kamu !"
" Kita bisa bebas !"
Sekumpulan orang orang itu terlihat bahagia sekali mendengar nama Frendick. Padahal keturunan terakhir dari Frendick ada di hadapan mereka.
" Kami tidak akan mengetahuinya sebelum jika tidak ada tetua bersama kami. Ini sangat rahasia dan kami tidak bisa memberitahukan hal ini pada kalian begitu saja." Orion menatap tajam sekumpulan orang orang itu. Seketika mereka terdiam dan tampak berpikir.
Orion dan teman temannya saling menatap satu sama lain menunggu sekumpulan orang itu selesai berpikir.
" Keluarkan beras dan telur untuk mereka." Orion menghampiri Bellatrix dan Saiph lalu berbisik memberi perintah.
" Ya, baiklah."
Orion memandang sekumpulan orang orang itu. " Jadi..., bagaimana ?"
__ADS_1
" Baiklah kami akan memberitahu. Tapi kami juga ingin mendengarkannya bersama yang lain."