Orion (Sang Pemburu)

Orion (Sang Pemburu)
BuSa


__ADS_3

Hansen melompat masuk melalui jendela rumah sakit dengan masih memakai pakaian pasien. Secepat mungkin ia menghampiri brankarnya dengan langkah terpincang pincang. Untung Bellatrix telah memberikan obat bius untuk setengah jam kemudian. Jadi Hansen tidak perlu merasakan sakit di lengan atas kiri tangan dan kaki kirinya.


Dilihatnya jam yang ada di dinding rumah sakit yang berada di atas televisi. Masih jam tiga malam, syukurlah berarti ia tidak telat kembali ke kamar inapnya.


Sekarang yang menjadi masalahnya adalah bagaimana caranya ia bisa memasang jarum infus ke tangannya ini ?.


Tidak mungkinkan Hansen memasangnya sendiri sedangkan tangannya yang kiri masih sakit. Hansen membaringkan tubuhnya memandang langit langit kamar inapnya. Sepertinya ia harus menunggu sampai pagi untuk dipasangkan infus oleh perawat. Juga Hansen akan mencari akal untuk beralasan pada Gabriel si cerewet itu kenapa infusnya bisa terlepas dari tangannya.


Lama menunggu Hansen akhirnya tertidur akibat kelelahan. Tidak seperti biasanya yang terkena mimpi buruk. Tidur Hansen kali ini sangat nyenyak dan pulas. Mungkin saat menyuntiknya tadi Bellatrix memberinya obat yang biasa dikonsumsinya.


Setelah Hansen tertidur lelap, Jack terbangun dari tidurnya karena ingin ke kamar mandi. Namun saat melihat infus Hansen yang terlepas rasa mengantuknya hilang seketika. Secepat kilat Jack berlari memanggil perawat untuk memasangkan kembali infus Hansen. Untung saja bosnya belum bangun kalau tidak. Habislah sudah gajih dan bonusnya yang akan diberikan untuknya bulan ini.


" Setelah ini tolong pasien dibantu kalau ingin bergerak ya tuan." ucap seorang perawat setelah selesai memasang kembali infus di tangan Hansen.


" Baik suster, terimakasih sudah membantu saya."


Perawat itu tersenyum ramah. " Sama sama tuan. Kalau begitu saya permisi dulu."


" Ya silahkan suster." Jack tersenyum lalu menatap Hansen yang masih tertidur. Apa pria itu sedang pingsan atau tertidur sampai tangannya ditusuk jarum infus dia bisa bisanya tidak terbangun sama sekali.


Jack kembali ke sofa yang sebagai tempat tidurnya sejak tadi. Sudah tidak mengantuk lagi mana bisa ia tidur kembali. Jack menghela napas lalu berbaring di sofa.


Nasibnya yang memilih kerja dengan orang lain dan membuat dirinya susah seperti ini. Tapi Jack merasa beruntung karena bekerja dengan Gabriel ia bisa memiliki teman yang tidak memandang latar belakangnya. Yah meskipun salah satu temannya memiliki bentuk seperti Hansen. Luarnya saja yang seperti malaikat, dalamnya sudah seperti iblis yang membuat Jack ingin sekali menyembelihnya.


Disela lamunan Jack, Hansen membuka matanya perlahan. Keningnya sedikit berkerut saat merasakan punggung tangannya yang terasa mengganjal. Hansen mengangkat tangannya dan melihat apa itu lalu tersenyum tipis mendapati infus sudah terpasang rapi di punggung tangannya.


Siapa yang membantunya memanggilkan perawat ? Tidak mungkin perawat itu datang kesini karena jadwal periksanya pukul lima pagi nanti.


" Kau terbangun ?" tanya Jack yang beranjak bangun menghampirinya.


Hansen menoleh dan mengangguk pelan. " Kau yang memanggil perawat ?"


" Ya, karena aku tidak sengaja melihat kau tidur tanpa infus di tanganmu." jawab Jack.

__ADS_1


" Terima kasih kalau begitu."


Jack melambaikan tangannya pada Hansen lalu mengambil satu buah apel dan menggigitnya begitu saja." Aku melakukannya karena menyelamatkan gajih dan juga bonusku bulan ini. Jadi kau jangan terlalu percaya diri."


Hansen tersenyum mendengar itu tanpa tersinggung sama sekali. " Yah apapun itu aku tetap berterima kasih."


.


...*****...


.


" Hans sekali lagi ayo."


Hansen menggelengkan kepalanya menolak. Mulutnya terasa sangat pahit bila mengunyah sesuatu dan itu tidak terasa enak.


" Baiklah kita sudahi makannya. Kau ingin makan buah ?" Reina dengan telaten membungkus kembali makanan itu agar mudah dibuang. Lalu memberikan Hansen segelas air hangat.


" Astaga Rein ! Perhatian sekali kau pada pekerjaku !" Gabriel yang datang bersama Jack langsung mengejeknya.


Gabriel berdecak sinis mendengarnya. Lalu menatap Jack yang diam diam menahan tawa. Kemudian ia berjalan ke sofa dengan membawa bungkus makanan yang tadi dibelinya bersama Jack.


" Ayo makan, jangan kau urusi terus dia." Gabriel berbicara untuk Reina tanpa memandang orangnya.


Reina beranjak bangun dan berjalan mendekati Gabriel yang makan bersama Jack. Diambilnya satu bungkus nasi dan juga sayur yang tersedia di meja sofa.


Melihat itu ketiga orang itu makan siang. Hansen memilih berbaring sambil memejamkan matanya. Lihatlah, sekarang dia sudah persis seperti babi yang kerjanya hanya makan tidur saja.


" Kau sudah seperti babi Hans." ucap Gabriel yang baru saja selesai makan.


Itukan ? Baru saja Hansen bilang kalau dirinya itu sudah seperti babi dan Gabriel juga berpikir begitu. Tapi.., bisakah dia jangan memperjelas seperti itu ? Itu bisa merusak harga dirinya.


" Baiklah baiklah, jangan memasang wajah cemberut seperti itu. Kau tidak akan terlihat seperti babi lagi tapi monyet."

__ADS_1


Spontan Hansen membuka matanya dan menatap kesal kearah Gabriel. " Kau memang teman menyebalkan."


Gabriel tertawa puas mendengarnya. Kalau Hansen susah bisa berbicara kesal seperti ini. Itu berarti dia sudah lebih baik dari yang kemarin. Mengingat satu hal Gabriel menghentikan tawanya dan memasang wajah serius menatap Hansen.


" Siapa yang mengeroyokmu kemarin ?"


Hansen mengerutkan keningnya. " Dari mana kau tahu aku dikeroyok ?"


" Dokter yang bilang lukamu bukan korban kecelakaan tapi korban pengeroyokan atau kekerasan masal." jawab Gabriel.


" Aku tidak tahu, mereka tiba tiba menghadangku di persimpangan menuju Apartemen."


" Kau melihat wajah mereka ?" tanya Gabriel.


" Lihat tapi aku tidak mengenal mereka. Mereka seperti bukan preman biasa karena aku melihat mereka cukup kekar dan juga rapih." jelas Hansen.


" Seperti bodyguard ?" tanya Gabriel lagi.


Hansen menggeleng pelan. " Bukan tapi.., seperti kumpulan para petinju. Mereka memiliki otot yang kekar dan kulit yang hitam juga tato diseluruh lehernya."


" Snake." ucap Reina tiba tiba.


" Snake ?" Gabriel menatap Reina tidak mengerti.


" Snake itu salah satu kelompok yang ada didunia bawah. Atau biasa kita menyebutkan tempatnya orang orang jahat. Snake itu seperti pembunuh bayaran yang sering menyamar menjadi preman jalanan. Mereka biasa bekerja secara berkelompok dengan ciri khas kulit hitam dan tato diseluruh lehernya." ucap Reina menjelaskan.


" Dari mana kau tahu ?" tanya Hansen.


Tanpa sadar Reina tersenyum melihat Hansen yang sudah mau berbicara dengannya. " Aku pernah menghadapi kasus yang disebabkan oleh rombongan Snake itu."


Snake ?.


Ular melata itu ?.

__ADS_1


Yang benar saja !.


Mereka berani mengusik pemburu dunia bawah sepertinya. Nyali mereka cukup besar juga ternyata. Tunggu setelah Hansen selesai berurusan dengan penyakitnya ini.


__ADS_2