Orion (Sang Pemburu)

Orion (Sang Pemburu)
Neus


__ADS_3

Seorang pria tua berdiri memandangi bintang melalui jendela ruang kerjanya. Matanya menerawang jauh keatas menatap satu bintang kecil tetapi memiliki sinar yang paling terang di langit malam.


Bayangan anak kecil yang sedang berlari sambil tertawa kencang setelah berhasil menjahili orang orang didekatnya. Matanya yang bermanik cokelat tampak berair karena terlalu lama tertawa. Suaranya yang lucu membuat siapa saja gemas melihatnya. Dia terlihat seperti bintang di langit itu. Kecil tetapi bersinar terang.


Sampai akhirnya, semua bayangannya hilang dan berganti dengan anak laki laki yang terlihat linglung. Pandangan matanya kosong dengan tangan terkepal erat. Kenakalan dan canda tawanya menghilang sampai tidak pernah terlihat lagi. Sewaktu waktu anak laki laki itu akan berteriak frustasi atau melukai setiap makhluk yang ada di dekatnya. Disaat waktu berganti malam anak laki laki itu tidak pernah memejamkan matanya. Dia meringkuk di sudut kamar sambil memandangi bintang di langit malam.


Melihat itu, siapapun tahu apa yang terjadi oleh anak laki laki itu. Dia depresi dan terkena gangguan mental sejak saat itu. Rasa amarah dan dendam yang tersimpan di dalam hatinya membuat anak laki laki itu tumbuh tidak seperti anak seumurannya.


" Papi."


Pria tua itu membalikkan tubuhnya memandang keenam anak angkatnya. Ia adalah Neus, supir sekaligus penjaga Orion.


" Papi, Orion kembali berulah."


" Kenapa ?" tanya Neus yang berjalan mendekati kursi kerjanya.


" Anak George memaksanya untuk menjadi model dan ternyata selama ini Orion memiliki trauma di foto papi."


Neus menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi. " Kau sudah memberikannya obat Bellatrix ?"


" Sudah papi."


" Tolong jaga dia karena dia adalah satu satunya harapan kita."


" Ya papi."


" Sampai tahap mana kalian bereaksi saat ini ?"


" Kami sedang menjalankan yang keempat papi."


Neus menganggukkan kepalanya tanda mengerti. Ia berpikir tentang bagaimana bisa Orion memiliki kelemahan seperti itu. Kalau musuh tahu, itu bisa menjadi senjata ampuh mereka untuk mengalahkan Orion suatu saat nanti. " Sekarang dimana Orion ?"


" Dia sedang berjalan jalan dengan calon kekasihnya dan juga anak George itu Papi." jawab Mintaka.

__ADS_1


Mendengar itu raut wajah Neus mengeras seketika. " Calon kekasih ?"


" Iya papi." jawab Bellatrix.


" Bilang kepadanya untuk tidak jatuh cinta pada siapapun sebelum kita bisa membangkitkan negara kita. Jangan sampai Orion memiliki kelemahan lebih banyak lagi." perintah Neus.


" Baik papi."


Neus menoleh melihat bintang di langit lalu kembali menatap keenam anak angkatnya. " Jadi ada apa kalian datang kemari ?"


Rigel yang sedari tadi diam melangkah maju mendekati Neus dan menyerahkan dua map berisi rencana mereka dalam membangun Club malam dan juga penjualan mutiara. Ditambah dengan data tentang Zairan yang bekerjasama dengan mereka.


" Zairan ?" Kening Neus terlihat mengkerut sat menemukan data tentang Zairan yang bekerjasama dengan Orion.


" Ada apa papi ?" tanya Saiph.


" Tidak ada, papi merasa hanya merasa familiar dengan orang yang bernama Zairan ini." jawan Neus.


Neus tersenyum dan kembali memandang bintang di langit. " Itu bagus karena memang sudah seharusnya seorang pemimpin mengingat rakyatnya dalam keadaan apapun. Ternyata dia sudah dewasa sekarang."


" Kalian bantu dia dan papi juga akan membantu kalian."


" Baik papi."


Neus tersenyum memandangi bintang di langit. Tuan mudanya ternyata telah menjadi pemimpin sekarang.


...*****...


" Berusahalah kalian karena rencana kita ini bukanlah hal yang mudah. Mungkin nanti kita akan kehilangan salah satu diantara kita ataupun kita sendiri yang menghilang." ucap Neus.


" Itu resiko kami yang harus kami jalani papi. Disaat kami memilih bersumpah setia kepada Orion disaat itu juga kami melepaskan kehidupan kami." balas Rigel.


Neus tertawa senang dan bertepuk tangan beberapa kali. Ia bangga melihat anak angkatnya yang tahu akan kewajiban mereka. " Tidak salah aku menjadikan kalian anak anakku. Sekarang kalian istirahat dan ini bisa kita lanjutkan besok pagi."

__ADS_1


Rigel dan Saiph tanpa bicara segera berbalik pergi seperti biasa setelah mendengar Neus mengizinkan mereka beristirahat.


Bellatrix dan Mintaka tersenyum menatap Neus sebelum pergi. " Papi kami istirahat dulu." ucap Mintaka.


" Selamat malam Altrix, Taka."


" Selamat malam juga papi." Bellatrix dan Mintaka berucap secara bersamaan.


Alnilam dan Alnitak berjalan mendekati Neus lalu mengecup pipinya. " Selamat malam papi."


Neus tersenyum sambil mengusap lembut kepala Alnilam dan Alnitak. " Selamat malam Nilam, Alni."


Setelah itu ruang kerja Neus kembali sunyi. Neus menghela napas dan memejamkan matanya sambil bersandar nyaman di kursi kerjanya. Memikirkan segala rencana yang akan dilakukan keenam anak angkatnya atas perintah Orion.


" Trauma cahaya terlalu terang ?" Neus bertanya sendiri dan menerka nerka sejak kapan Orion memiliki trauma itu.


Saat mereka bertemu Neus akan meminta Orion terapi di rumah sakit. Kalau tidak mau, Neus akan meminta bantuan Bellatrix. Secepatnya trauma Orion harus segera dihilangkan sebelum semakin parah dan itu bisa membawa dampak buruk pada kejiwaan Orion.


Neus mengingat Orion kecil yang meringkuk di sudut kamar dengan pandangan kosong atau tertawa setelah berhasil membunuh teman seusianya di panti asuhan. Neus ingin melihat Orion yang seperti dulu. Paling tidak Neus ingin melihat Orion tersenyum seperti dulu.


Neus tersenyum tipis mengingat betapa lucunya dulu tuan mudanya itu saat masih kecil. Tapi sekarang tuan mudanya telah tumbuh menjadi sosok yang menyeramkan.


Seharusnya Neus senang karena semakin menyeramkan Orion maka semakin mudah tuan mudanya itu memburu lawan mereka. Namun entah mengapa Neus malah merasa takut. Neus takut Orion melupakan jati dirinya yang dulu dan berubah menjadi seorang tiran yang haus darah.


Pemimpin yang baik bukanlah pemimpin yang ditakuti rakyatnya tetapi pemimpin yang dihormati dan disayangi rakyatnya. Neus tidak ingin bila Orion menjadi seorang tiran. Rakyat negara N malah takut kepadanya.


Neus menjadi semakin yakin untuk meminta Orion terapi dan untuk menekan traumanya itu. Jangan sampai Orion mencari pelampiasan membunuh orang lagi seperti yang telah dilakukannya hari ini.


Neus mengurut pangkal hidung yang terasa sakit. Seingatnya tuan Hansen ataupun nyonya Clara tidak ada yang memiliki sifat seperti ini. Mereka malah bisa dikatakan pemimpin yang membimbing rakyatnya dengan kasih sayang dan keadilan. Tetapi Orion..., Neus bahkan yakin kalau nanti tuan mudanya itu tidak bisa seperti orang tuanya.


Orion terlalu pemarah dan selalu membutuhkan pelampiasan dengan cara membunuh. Orion tidak akan bisa hidup tanpa darah. Dimana emosinya bermain makan disaat itu pula Orion harus bermain main dengan nyawa orang lain.


Jika yang dibunuh adalah musuh mereka Neus tidak masalah. Tetapi kalau yang Orion bunuh itu bukanlah musuh mereka. Neus tidak akan membiarkan hal itu terjadi lagi.

__ADS_1


__ADS_2