Orion (Sang Pemburu)

Orion (Sang Pemburu)
Bertarung


__ADS_3

" Kau datang ?" Zairan berjalan menghampirinya tanpa memakai pakaian atas. Memperlihatkan tubuh kekar dan juga berkeringat dikulit sawo matangnya.


" Menurutmu ? Kau sudah rabun sampai tidak melihatku yang sebesar ini ?" Orion melirik sinis, sudah hampir dua jam lamanya ia menunggu di sini. Tapi Zairan baru memunculkan batang hidungnya yang tidak seberapa itu. Kalau saja ada hal lain yang membuatnya bisa beralasan. Orion mungkin tidak akan mau menemui Zairan.


" Aku melihat babi di depanku." jawab Zairan.


Orion memicingkan matanya merasa kesal. Pria ini sepertinya memang ingin mencari masalah dengannya. Orion melepaskan sebelah sepatunya kemudian melemparkannya ke wajah Zairan.


Sayang sekali lemparannya itu tidak bisa mengenai sasaran karena Zairan yang mengelak dengan mudah. Andai saja ia bawa pistol tadi mungkin Zairan tidak akan semudah itu menghindari lemparan pelurunya.


" Wow ! Santai teman, kau emosian sekali ! Apa itu karena kau yang tidak ikut ke pesta pengangkatan dokter jenius di negara ini ? Kalau iya, wah ! Bellatrix pasti akan sakit hati mendengarnya." ucap Zairan.


" Ocehanmu tidak bermutu Zai. Diam saja, suaramu itu bisa mengotori udara disekitar sini."


Zairan tertawa dan tidak merasa tersinggung sedikit pun. Ia sudah tahu karakter seorang Orion. Hal seperti ini bukanlah apa apa untuknya. " Aku berharap kau juga ikut terkotori seperti udara itu Orion. Mana tahu kau bisa tertular selera karya seniku kan ?"


" Karya seni ? Seni apanya ? Seni kemesumanmu yang kau maksud itu ? Maaf tapi aku tidak akan pernah dan tidak akan mau mengikuti karya senimu itu."


" Benarkah ?" Zairan bertanya main main.


Orion berdecak kesal dan tidak lagi menanggapi kejahilan Zairan. Biarkan saja dia yang berbicara sendiri. Orion tidak mau kalau harus wajahnya harus tua mendadak karena terus menahan kesal.


" Berarti sekarang kau sendirian ?" tanya Zairan.


Orion benar benar kesal sekarang. Zairan sudah tahu kenapa dia harus bertanya lagi ?.


" Benar berarti kau sendirian sekarang. Yah kasian tidak ada teman." goda Zairan yang membuat Orion hampir saja melayangkan tinjunya.


" Tapi tidak apa apa. Kita bisa berduaan dan saling bertukar cerita."


Orion merasa jijik sekarang mendengar ucapan Zairan yang seperti wanita genit. Sepertinya pilihan Orion untuk singgah ke tempat Zairan salah.


" Kau mau ?"


Jangan harap ! teriak Orion di dalam hati.


" Dilihat dari wajahmu sepertinya kau mau." ucap Zairan berbicara sendiri. " Baiklah kita mulai dari mana dulu ya ? Aha ! Bagaimana kalau kita bercerita tentang melukis."


Ya, melukis. Zairan dan karya seni lukisnya yang tidak bisa dipisahkan. Rasanya Orion muak sekali setiap kali Zairan berbicara tentang seni lukisnya. Kenapa semua orang di dekatnya tidak ada yang waras ?.


" Kau mau mulai dari seni yang mana ? Seni dua dimensi, tiga dimensi, atau empat dimensi ?"

__ADS_1


Orion mengepalkan tangannya menahan geram. " Zai."


" Ya, ap..." Zairan tidak berani lagi melanjutkan kata katanya saat melihat wajah Orion yang menyeramkan. Meski dia berumur lebih muda darinya tetapi Orion memiliki aura seorang penguasa yang membuat siapa pun tunduk kepadanya.


" Ayo sparring." ajak Orion.


" Apa !" Zairan spontan berteriak dengan mata melotot. Tubuhnya merinding seketika membayangkan akan jadi apa dirinya nanti setelah melakukan sparring dengan Orion.


.


...*****...


.


BUG !


" Akh !"


Zairan berteriak kencang setelah mendapatkan pukulan kencang di wajahnya. Orion benar benar monster dalam hal bertarung. Bahkan ia tidak diberi kesempatan untuk bersiap siap.


BUG !


" Sialan ! Orion aku bukan samsak tinjumu !" Zairan kembali berteriak.


Bahkan sekarang Orion berniat menanggalkan beberapa gigi Zairan agar membuatnya seperti lansia.


" Stop ! Berhenti Orion ! Aku tahu rencanamu !"


Kali ini Orion menghentikan aksinya dengan sangat terpaksa. Ia belum puas menghajar Zairan sebelum pria itu pingsan atau patah tulang.


" Kasihanilah aku Orion. Kau tahu aku ini sudah tua dan tid..."


BUG !


Tanpa perasaan Orion kembali memukul perutnya.


" Akh !"


Orion menyisir rambutnya ke belakang dengan jemarinya. " Bangun."


" Ba..ba..ji..ngan." Zairan mengumpat disela rasa sakitnya. Entah punya dendam apa Orion sampai memukulnya seperti ini. Astaga ! Ini benar benar sekali sampai membuatnya sulit bernapas.

__ADS_1


" Baru dua jam kita bertarung Zairan." ucap Orion.


Zairan melototkan matanya. " Dua jam kau bilang ?! Itu sudah lama ! Dasar monster !"


Orion menyeringai mengejek Zairan yang sudah mulai membaik. " Kalau kau lupa aku itu pemburu Zairan. Aku memburu para lawanku dan memusnahkan mereka tanpa pandang bulu."


" Itu sama saja monster !" Zairan berucap tidak mau kalah. " Atau kau perlu cermin untuk berkaca ?"


Orion tersenyum sambil bersiap memasang kuda kuda siap bertarung. " Aku lebih membutuhkan kau untuk didaftarkan ke dalam salah satu pemakan umum yang kekurangan anggota."


" Anggota apanya ? Kau mau menjadikanku mayat ?!" Zairan bertanya kesal.


Orion mengangguk polos. " Karena itu berusahalah untuk menang dariku."


" Astaga, anak ini !" Zairan meremas rambutnya frustasi.


" Sistemnya adalah hajar aku atau kau yang kuhajar sampai mati." ucap Orion.


Sebenarnya ia ingin tahu seberapa kuat seorang Zairan sampai dulu bisa menjadi mafia terkuat di negara ini. Bahkan Galiendro harus menggunakan cara licik untuk menjatuhkannya.


Orion ingin membandingkan kekuatan Zairan dengan kekuatannya. Jika ia kalah berarti dirinya harus lebih giat berlatih lagi. Tapi kalau menang Orion akan mempelajari ilmu baru dan menguasainya.


" Hah ! Baiklah, ayo kita sparring dengan kekuatan penuh kali ini. Tentunya dengan sistem yang kau buat itu." ucap Zairan yang akhirnya menyetujui permintaan Orion.


Orion mengangkat alisnya sebelah menatap remeh Zairan di depannya. " Kau percaya diri sekali bisa mengalahkanku."


" Setidaknya kematian masih enggan menjemputku untuk saat ini." balas Zairan.


Orion tersenyum dan mengangguk sekilas memandang Zairan sebagai tanda pertarungan mereka akan dimulai.


Zairan berlari dengan kecepatan tinggi dengan tangan terkepal kearah Orion. Tangannya bersiap meninju wajah Orion namun kakinya lah yang ia gunakan untuk menjatuhkan Orion.Tinjuannya itu hanya ia jadikan sebagai pengecoh saja.


Namun ternyata Orion lebih pintar dari yang ia bayangkan. Instingnya sebagai pemburu membuatnya selalu bisa lolos dari setiap pukulan dan juga siasat bertarung Zairan.


Zairan tersenyum saat kali ini berhasil mengunci salah satu tangan Orion. Alisnya terangkat menatap remeh wajah terkejut yang Orion tampilkan saat ini.


" Kalah ?" tanyanya.


Orion berusaha melepaskan kuncian di tangannya namun tidak berhasil. Tetapi tiba tiba ia menyeringai kejam yang memang menjadi ciri khasnya.


" Kau yang kalah." Orion melirik satu tangannya lagi yang bersiap mencekik leher Zairan untuk menarik nadinya.

__ADS_1


Sekarang berganti Zairan yang terkejut. Bagaimana mungkin ia bisa lupa kalau Orion masih memiliki satu tangan yang bebas dari kunciannya ?.


__ADS_2