
Hansen memasukkan dua pil putih sekaligus ke dalam mulutnya. Untuk mencegah trauma terjadi Hansen harus meminum pil penenang terlebih dahulu agar rasa takutnya bisa sedikit teratasi.
" Hans kau sudah selesai ?"
Hansen menoleh menatap pintu kamar mandi yang terkunci. " Sudah, tunggu sebentar."
" Baiklah."
Itu suara Reina, gadis itu bahkan akan mengikuti ke kamar mandi kalau saja Hansen tidak melarangnya tadi. Meski sekarang Reina jauh lebih tenang dan anggun tanpa sikap agresif yang sering diperlihatkannya. Hansen tahu kalau Reina merubah sikapnya itu untuk bisa lebih dekat dengannya. Sebenarnya Hansen merasa bersalah karena itu tapi mau bagaimana lagi. Hidupnya penuh dengan kata trauma dan ketakutan. Andai saja Hansen bisa menghilangkan traumanya ini ia berjanji akan meminta Reina untuk menjadi dirinya sendiri.
" Kau lama sekali di kamar mandi." Reina yang sedang bersandar di dinding langsung menegakkan tubuhnya saat melihat Hansen keluar dari dalam kamar mandi.
Hansen tersenyum minta maaf. " Jangan salahkan aku saja, salahkan juga kau yang mau mengikuti dari tadi sampai ke sini."
" Aku kan takut kau hilang." ucap Reina yang membuat Hansen tertawa dan mengacak gemas rambutnya.
" Alasan."
Reina mengerucutkan bibirnya dan menepis tangan Hansen dari kepalanya. " Jangan mengacak rambutku."
Hansen tertawa lalu menarik tangan Reina menuju ruang pemotretan. Saatnya membuat kekacauan dan selamat menikmati kekesalanmu nanti George. Hansen tersenyum miring membayangkan ekspresi George saat melihat foto putranya yang tampil cantik dengan pakaian seorang ratu.
" Hans ayo cepat kita mulai sesi pemotretannya. Bos sudah mengeluarkan tanduknya." Tera menghampirinya dengan wajah cemas.
Hansen tersenyum dan menepuk pundak Tera lalu menoleh menatap Reina. " Aku pergi dulu kau masih mau menunggu disini ?"
" Tentu saja aku ingin melihatnya menjadi model." tapi yang lebih penting memastikan agar Hansen tidak menyukai paras cantik milik Gabriel, itulah yang dipikirkan Reina di kepalanya saat ini.
Hansen tersenyum lalu menganggukkan kepalanya sebelum berjalan menghampiri Gabriel. Lihatlah George putramu terlihat cantik sekali sekarang. Rasanya Hansen ingin menjualnya kepara pria gay diluaran sana. Pasti Gabriel akan menghasilkan banyak uang dari wajah cantiknya itu.
" Hans ayo cepat jalannya, bos sudah menunggumu."
Hansen menatap Reynand yang sudah siap dengan kameranya terlihat ketakutan. Tidak hanya dia saja tetapi Hansen juga melihat semua orang di ruang pemotretan juga terlihat sama. Mereka sepertinya ketakutan melihat tatapan tajam Gabriel yang seperti ingin membunuh orang.
__ADS_1
" Kau membuat mereka takut Riel."
Gabriel berdecak kesal lalu membenarkan posisi duduk menjadi lebih anggun layaknya para wanita bangsawan. Hansen yang melihat itu mengangkat alisnya sebelah merasa cukup kagum dengan tingkah Gabriel.
" Kau cocok menjadi wanita Gabriel." Hansen duduk di kursi sebelah Gabriel. Dari belakang Tera membenarkan posisi rambut dan juga jubahnya karena tampilannya kali ini mirip seperti pangeran yang mulia.
" Kita akan berfoto berdua dulu baru sendiri." ucap Hansen.
" Hans kita batalkan saja ini ya ? Kita bisa mengganti tema yang lainnya asalkan aku jangan menjadi wanita seperti ini." Gabriel memohon pada Hansen. " Kalau ayahku tahu maka habislah aku Hans, tolonglah." sambungnya.
Tapi itu memang tujuannya agar George mengetahui hal ini. Hansen memang berniat membuatnya marah karena hal yang ingin dia sempurnakan menjadi cacat hanya karena sebuah foto.
" Tepati janjimu Gabriel, kau yang membuatku sakit kemarin jadi sekarang tanggunglah akibatnya."
...*****...
" Tolong lentikkan jemarimu bos dan dekatkan ke dagu." ucap Reynand yang sedari tadi selalu saja memberi arahan tentang gaya berfoto yang menarik pada Gabriel. Meskipun ketakutan karena yang sedang difotonya saat ini adalah atasannya sendiri. Namun Reynand lebih takut pada Hansen yang murah senyum dan menyebalkan tetapi terlihat seram jika marah.
" Tatap kamera dan tegakkan punggungmu Gabriel."
Lihatlah, bosnya bahkan mengikuti ucapan Hansen begitu saja. Reynand melirik Toni yang sedang menutup wajahnya dengan map tipis.
" Rey cepat foto !" sentak Hansen membuat Reynand gelagapan dan langsung mengambil gambar Gabriel.
Hansen merebut kamera itu dan melihat hasilnya bidikkan gambar Reynand. Lalu mengangguk kepalanya merasa puas.
" Hans aku lelah." ucap Gabriel tiba tiba.
Hansen mengabaikannya lalu mengembalikan kamera ke Reynand. " Lanjutkan."
" Hansen !" Gabriel berteriak kesal.
" Apa ?!" Hansen balas berteriak.
__ADS_1
" Aku lelah dan tidak mau melanjutkan ini "
" Tepati janjimu Gabriel."
" Janji yang mana lagi ? Aku sudah melakukan apa yang kau mau Hans."
Hansen menggeleng lemah. " Tapi tidak semuanya. Aku ingin kau terlihat natural di depan kamera bukan kaku seperti itu."
" Aku bukan model."
" Aku juga bukan model tapi kau memaksaku tampil di depan kamera senatural mungkin."
Gabriel langsung terdiam tak bisa berkata lagi. Inilah kelemahannya sejak tadi yaitu rasa bersalahnya karena telah memaksa Hansen menjadi modelnya kemarin. Yang tanpa diketahuinya bahwa hal itu berakhir dengan sakitnya Hansen.
" Hah, baiklah." Gabriel berucap pasrah.
Orang orang di ruang pemotretan yang mendengar hal itu membelalakkan matanya termasuk Reina. Kenapa mereka merasa Gabriel lebih menjadi penurut sekarang sedangkan dia seorang bos disini. Mereka menatap Hansen yang duduk santai di kursi lipat yang menghadap ke arah panggung pemotretan. Lalu setelah itu mereka kembali menatap Gabriel, sebenarnya siapa bosnya disini ?.
" Letakkan jarimu di pipi seakan akan kau sedang merasa bosan Gabriel." lagi lagi Hansen memberi arahan dan Reynand yang menjadi pengambil gambarnya melalui bidikkan kamera.
Hansen menutup mulutnya yang tengah menyeringai kejam. Sekarang saatnya beraksi, batinnya. Hansen mengambil ponselnya lalu merekam beberapa detik kegiatan Gabriel. Setelah itu Hansen mengirimnya kepada si penghianat alias George bangsawan rendah itu.
Kalau ada yang bertanya apakah Hansen tidak merasa kasihan bila nanti Gabriel dihajar oleh ayahnya. Maka jawabannya adalah tidak, karena jika Gabriel mati sekalipun Hansen tidak akan pernah perduli. Dia hanyalah alat dan senjatanya untuk menjatuhkan George.
" Cukup ! Pemotretannya sampai di sini saja." ucap Hansen yang tanpa sadar membuat semua orang di ruang pemotretan merasa lega. Karena mereka tidak harus menyiksa bos mereka yang mungkin nantinya akan berimbas pada gajih bulanan mereka.
Gabriel berjalan lemas menghampiri Hansen disusul Tera yang membawa sebotol cairan bening dan juga kapas.
" Bos kita hapus riasannya dulu." ucap Tera.
Gabriel mengangguk setuju. " Kalau bisa hapus lebih cepat. Karena aku sudah merasa jijik dengan riasan ini."
" Ya bos." balas Tera.
__ADS_1