
Hansen menguap dengan mulut yang ditutup telapak tangannya. Kemarin malam setelah mengantar Monica pulang, Hansen memilih tidur di kantor dari pada pulang ke apartemennya.
DRRT !
Hansel melihat ponselnya dan berdecak pelan saat satu pesan masuk dari Gabriel.
*LeBanBi
Ke ruanganku sekarang.
^^^Ya*.^^^
" Seenaknya saja dia menyuruhku di pagi pagi begini." gerutu Hansen.
Dengan malas Hansen mengambil topi dan memakainya sebelum beranjak pergi menuju ruang Gabriel.
Ting !
Hansen segera masuk ke dalam lift setelah lift terbuka.
" Hansen."
Hansen menoleh lalu tersenyum. " Hai Toni."
" Kopi ?" tanya Toni.
" Ya dan seperti biasa. Nanti antar ke ruangan bos ya, karena aku ada di sana ?" pinta Hansen.
" Iya tapi tunggu aku mengantarkan ini dulu." Toni menunjuk lima gelas kopi di atas meja dorong sebelahnya.
" Tidak masalah."
TING !
" Hans aku duluan." Toni tersenyum ramah sembari mendorong meja beroda itu keluar dari lift.
" Jangan lupa kopiku." Hansen tersenyum dan melambaikan tangannya seiring pintu lift yang tertutup kembali. Hansen membuka ponselnya untuk melihat kembali jadwal waktu kerjanya.
Hari ini pekerjaannya dimulai pukul dua siang nanti. Berarti pagi ini Hansen bisa bersantai sampai makan siang berakhir.
TING !
Hansen keluar dari lift dan berjalan menuju ruang Gabriel. Tanpa mengetuk pintu Hansen langsung masuk ke dalam dan duduk di sofa ruang kerja Gabriel tanpa memperdulikan sang pemilik ruangan yang sekarang sedang melotot kesal kepadanya.
" Kau tahu etika pekerja ?"
Hansen tersenyum jahil. " Tahu bos."
" Lalu kenapa tidak kau pakai ?!" Gabriel bertanya kesal dari kursi kerjanya.
" Khusus untuk kau, aku tidak mau memakainya."
" Kenapa ?!"
" Ya karena tidak mau."
Gabriel mendengus kesal. " Tidak maunya itu kenapa Hans ?"
__ADS_1
" Ya mana aku tahu."
" Hansen aku bertanya kepadamu tadi !"
" Dan aku sudah menjawabnya tadi LeBanBi !"
Gabriel menghela napas dan berjalan mendekati Hansen. Kenapa setiap kali mereka bertemu pasti diawali dengan perdebatan bodoh yang sama sekali tidak penting ?.
" Kenapa kau selalu memancingku untuk berdebat denganmu setiap kali kita bertemu Hans ?"
Hansen mengangkat bahunya acuh. Matanya menatap intens Gabriel yang berjalan mendekatinya. " Kau kenapa Gabriel ?"
" Kenapa apanya ? Aku baik baik saja." Gabriel duduk di sebelah Hansen.
" Jal..."
TOK ! TOK ! TOK !
" Masuk."
" Permisi pak, saya mengantarkan pesanan kopi Hansen." Toni membungkukkan tubuhnya memberi hormat pada Gabriel.
" Hai Toni." Hansen mendekati Toni dan mengambil kopinya. " Terima kasih kopinya."
" Sama sama. Pak bos saya permisi." Toni tersenyum sopan sebelum pergi dari ruangan Gabriel.
BUG !
" Argh ! Hansen sialan apa yang kau lakukan ?!" Gabriel berteriak marah saat punggungnya di pukul Hansen dari belakang.
Hansen menaikkan alisnya sebelah. " Kenapa kau sesenang itu karena kupukul ?"
" Kau bukan ikan yang harus ku pancing Gabriel." Hansen mengulum bibirnya menahan tawa. Kakinya perlahan lahan mundur ke belakang untuk bersiap siap lari menghindari Gabriel yang sudah memerah menahan kesal.
CEKREK !
" Wah ! Kau tampan sekali di foto ini Riel. Seperti orang yang sedang menahan kotoran." Hansen menunjukkan dari jauh hasil fotonya yang berhasil diambil dengan ponselnya.
" Hansen !" Gabriel berteriak marah.
Hansen menunjukkan senyum tanpa dosa dengan perlahan lahan menjauh dari Gabriel. Astaga, temannya itu sudah mirip banteng sekarang.
" Teman sialan !" Gabriel berjalan cepat mendekati Hansen tetapi temannya itu sudah lebih dulu berlari menjauh.
...*****...
" Aw ! Pelan sialan, ini sakit sekali !"
Hansen memutar matanya bosan. Ini sudah yang ke delapan kalinya Gabriel mengeluh kesakitan saat Hansen mengoleskan salep di memar tubuhnya.
" Aw..."
" Aku belum menyentuh lukamu kenapa kau berteriak ?" Hansen berdecak kesal mengoleskan perlahan memar di punggung Gabriel.
Gabriel meringis kesakitan. " Aku lupa."
Setelah berlari kejar kejaran keliling kantor, Hansen akhirnya bisa lolos dari Gabriel dan bersembunyi untuk mengambil obat obatan di dalam tasnya. Sebenarnya ini hanya tebakannya saja karena melihat cara jalan Gabriel yang berbeda dari biasanya. Hansen curiga ada luka di tubuh temannya itu. Sampai akhirnya tebakannya ternyata benar. Ada banyak memar di sekeliling tubuh Gabriel.
__ADS_1
" Kau bukan besi Gabriel. Jangan bersikap kau kuat padahal kau hanyalah manusia biasa." Hansen berucap pelan.
Gabriel tersenyum tipis mendengar ucapan Hansen. " Aku harus menahannya Hans atau aku akan kehilangan hal berharga milikku."
" Sepenting apa itu sampai kau menjadi seperti ini ? Padahal tidak ada salahnya kan menuruti keinginan ayahmu sendiri ?"
Gabriel menatap sendu ke depan. " Sangat penting, karena hal itulah aku bisa tertawa bebas setelah kepergian ibuku. Sampai kapanpun aku tidak akan mau menuruti keinginan ayahku."
" Memangnya apa yang diinginkan ayahmu ?"
Gabriel terdiam cukup lama memikirkan alasan yang tepat sebagai jawabannya. " Ayahku ingin aku menerima perjodohan yang telah diaturnya." ucapnya lirih.
" Hei ! Terima saja kalau begitu. Bukannya bagus kau tidak perlu repot repot mencari gadis cantik untuk menjadi pasanganmu ?"
Gabriel berbalik lalu memakai kembali kemejanya. " Aku bukan buaya sepertimu."
Hansen menganggukkan kepalanya. " Aku tahu, saat di kantor polisi kemarin kau bilang kita itu pria hidung belang. Karena hidungku tidak belang berarti itu kau yang hidung belang. Pantas saja kita berbeda, aku buaya dan kau pria hidung belang."
Gabriel menatap tajam wajah Hansen yang menampilkan ekspresi polos itu. Tapi dibandingkan kata polos Gabriel lebih percaya kata bodoh untuk Hansen saat ini.
TOK ! TOK ! TOK !
CEKLEK !
" Gabriel !"
Gabriel tersenyum senang menyambut Reina yang berjalan mendekatinya dengan bungkusan sedang di tangannya.
Hansen balasan untukmu telah tiba ! ucap Gabriel dalam hati.
" Hansen aku membawakanmu makan siang." Reina tersenyum menatap Hansen yang duduk di sebelah Gabriel.
" Terima kasih Reina." Hansen tersenyum kaku.
Reina mengedipkan sebelah matanya kearah Hansen. " Kembali kasih tampan."
" Oh iya, sepertinya aku ada janji dengan sekretarisku tadi." Gabriel beranjak dari tempat duduknya.
" Bukannya kau kosong hari ini Gabriel." Hansen menatapnya sinis. Yang benar saja, Hansen tahu betul sekertaris Gabriel hari ini mengambil cuti karena jadwal temannya itu sedang kosong.
Gabriel tertawa dan melambaikan tangannya. " Aku berjanji akan datang ke rumah sekretarisku untuk makan siang."
" Kenapa kita tidak bersama saja ?" Hansen tersenyum namun matanya menatap Gabriel penuh peringatan.
" Ingat, Reina sudah terlanjur membawakanmu makan siang Hans. Kau tidak kasihan dengan sahabat kecilku ?"
Hansen menatap Reina yang hanya diam memperhatikan perdebatan mereka. " Terserah kau. Rein mana makananku ?"
" Reina aku pergi dulu. Hansen nikmati waktu istirahatmu !" Gabriel tersenyum keluar dari ruangannya.
" Sampai jumpa Riel." Reina tersenyum melihat kepergian Gabriel lalu menyiapkan makan siang untuk Hansen yang telah di bawanya.
DRRT !
Hansen mengambil ponselnya dan melihat pesan masuk dari Gabriel lalu membukanya.
LeBanBi
__ADS_1
Selamat menikmati pembalasan dariku pekerja !.
Gabriel sialan ! Teriak batin Hansen.