
" Jadi kalian menipuku ?"
Hansen dan Reina menggelengkan kepala bersama. Mereka serentak menyangkal tuduhan berupa pertanyaan yang diberikan Gabriel untuk mereka.
" Kau sendiri yang tiba tiba bertingkah tidak jelas. Menjauhi Hansen tanpa sebab lalu pura pura sibuk seakan akan kau sudah menjadi bos besar." ucap Reina.
Gabriel mengusap kasar rambutnya karena merasa frustasi. Bagaimana Gabriel bisa menjelaskan apa yang sedang dialaminya sedangkan masalahnya ini akan berakhir dengan putusnya persahabatan mereka. Gabriel tidak ingin itu terjadi. Hansen adalah sahabat terbaiknya begitu juga Reina.
" Aku benar benar sibuk."
Reina memutar mata bosan mendengarnya. " Ya sudah terserah, urus saja kesibukanmu itu"
Hansen beranjak pergi dari tempat duduknya. Reina dan Gabriel melihat kepergiannya dengan raut wajah bingung.
" Apa dia marah ?" tanya Gabriel. Baru saja disadarinya bahwa Hansen tidak bicara apapun setelah bersorak bersama Reina tadi.
Reina mengangkat bahu acuh. " Mungkin, tapi aku berharap dia muak denganmu dan bisa menerimaku."
Gabriel berdecak kesal mendengar ucapan Reina. " Jelek sekali pemikiranmu itu."
" Biarkan saja. Asal Hansen bisa kudapatkan menjadi iblis pun tidak masalah bagiku." Reina tersenyum angkuh sambil mengibaskan rambutnya menatap Gabriel penuh percaya diri.
" Gila." Gabriel mencibir pelan.
TUK !
Gabriel terkejut saat sebuah penampan yang berisi makanan dan minuman tiba tiba hadir di depannya dari belakang tubuhnya. Seketika kepalanya menoleh melihat orang yang melakukan itu kepadanya.
" Hans ?"
" Makan." Hansen kembali duduk di sebelah Reina.
Reina berdecih pelan sembari membuang pandangannya kearah lain. Melihat perhatian Hansen kepada Gabriel membuat Reina iri. Kapan Hansen juga perhatian kepadanya seperti pria itu memperlakukan Gabriel. Bahkan Reina mengharapkan lebih karena dirinya tidak ingin Hansen menjadi temannya tetapi kekasihnya.
Gabriel tersenyum menerima makanan di depannya. Biarkan rasa bersalahnya menjadi rahasia terdalamnya. Asalkan Hansen tidak mengetahuinya Gabriel akan berusaha untuk terus menyimpannya demi pertemanan mereka.
Hansen mengetuk punggung tangan Reina yang sedang memandang dinding. Apa yang menarik dari dinding bercat pastel dan datar tanpa lekukan apapun seperti itu. Hansen menjadi mengerutkan kening bingung menatap Reina dan dinding itu bergantian.
__ADS_1
" Apa ?" Reina menoleh menatap Hansen.
Hansen menggelengkan kepalanya untuk menghilangkan pemikiran anehnya. " Tidak ada. Kau mau ke pantai ?"
Perlahan Reina tersenyum manis. Ternyata Hansen tidak seburuk apa yang dipikirkannya. " Apa bisa ?"
" Bisa, asal kau mau."
" Aku mau !"
Hansen tersenyum hingga menampakkan sepasang lesung pipinya. Tangannya menepuk gemas kepala Reina. " Setelah Gabriel selesai makan."
Reina memalingkan wajahnya yang terasa memanas. Perlakuan Hansen barusan membuat detak jantungnya sulit terkontrol. Reina menjadi salah tingkah hanya karena perlakuan kecil seperti itu.
Gabriel yang diam diam melihat interaksi Hansen dan Reina tersenyum tipis. Ternyata benar yang dikatakan Reina tentang kedekatannya dengan Hansen. Lihatlah, bahkan sekarang mereka terlihat serasi seperti sepasang kekasih.
Namun itu tidak berlangsung lama saat tanpa sengaja Gabriel melihat pergelangan tangan kanan Hansen yang masih terisi gelang bewarna hitam. Senyum yang tadi sempat hadir menjadi pudar perlahan. Gabriel sangat ingat gelang itu. Gelang pemberian Monica saat dulu gadis itu menerima gajih pertamanya menjadi model di perusahaan Gabriel.
Pandangan Gabriel beralih menatap wajah Hansen yang sedang tersenyum memandang Reina. Apa wajah itu benar benar sedang tersenyum saat merasa bahagia atau dia tersenyum hanya untuk menutupi hatinya yang sedang terluka ?.
...*****...
Orion menatap Zairan sekilas. " Setidaknya aku memasang gambarnya dengan berpakaian lengkap."
Zairan tertawa tanpa merasa tersindir. " Yah, kau kan tidak mengerti seni gambar jadi wajar saja."
Orion berdecak sebelum melirik Zairan sinis. Pria mesum yang tidak tahu diri. " Tidak masalah yang terpenting aku tidak mesum sepertimu."
" Mesum caraku menunjukkan cinta kepadanya karena dia pergi meninggalkan bekas penghianatan diingatanku." ucap Zairan.
" Jadi kau melecehkannya dengan menggambarnya seperti waktu itu ?" tanya Orion.
Zairan menyeringai dengan mata berbinar licik. " Untuk saat ini cukup gambarnya saja, lain kali mungkin aku langsung mencoba ke orang aslinya."
" Kau pria yang menjijikkan." cibir Orion.
" Itulah obsesi cinta jika terkhianati." balas Zairan.
__ADS_1
" Terserah kau saja." Orion kembali memandang gambar Monica di depannya.
" Apa yang kau lihat sampai tidak berkedip seperti itu ? Apa itu kenangan masa lalu kalian ?" tanya Zairan.
" Tidak." Orion membalas singkat tanpa mengalihkan pandangannya.
" Wajah cantiknya ?" Zairan bertanya lagi.
" Tidak."
" Lalu ?" kali ini Zairan bertanya bingung.
" Kebodohannya."
" Apa ?!"
" Aku memandangi kebodohannya. Dia gadis yang cerdas dan mandiri tetapi mengapa dia bisa begitu bodoh ? Aku sudah menunjukkan Orion yang sebenarnya tetapi dia masih tetap bersikeras untuk mencari jati diri Hansen. Bahkan kenyataan masa lalu tidak membuatnya berpaling. Dia masih tetap menginginkan Hansen yang baik hati tanpa dendam dengan harapan melupakan masa lalunya. Bukankah dia gadis yang bodoh dan naif ?" Orion bertanya setelah menjelaskan panjangnya.
" Tidak." Zairan mengela napas sebelum melanjutkan ucapannya. " Dia gadis yang mencintai pria tanpa arah sepertimu dengan tulus. Dia tidak bermaksud menginginkanmu ataupun Hansen. Dia hanya ingin pria yang dicintainya untuk bisa berdamai dengan masa lalunya dengan harapan suatu hari kalian bisa hidup bahagia tanpa bayang bayang dendam."
Orion menatap Zairan di sampingnya. Perlahan kedua tangannya terkepal dengan rahangnya yang mulai mengeras. " Jangan mengarang."
Zairan tersenyum sambil menepuk pundak Orion. " Aku hanya menyimpulkan dari kisah kalian yang pernah kudengar setiap kali anggota Rasi Bintang membicarakan kisahmu dengannya."
" Ternyata kalian memiliki banyak waktu untuk mengurus hidup orang lain. " Orion menepis tangan Zairan dari pundaknya. Matanya berubah tajam menatap mata hitam Zairan seperti layaknya predator yang menantang lawannya.
" Kau tidak mencintainya." ucap Zairan setelah menyimpulkan.
" Diam kau." Orion menekan ucapannya.
Zairan terus tersenyum menatap Orion tanpa rasa takut. " Kau hanya merasa bersalah kan ? Karena disaat kematiannya kau tidak datang melindunginya seperti janji yang pernah kau ucapkan kepadanya dulu."
" Kubilang kau diam !" Orion berteriak marah. Tangannya menarik kencang kerah baju Zairan kearahnya. Pria ini terlalu ikut campur urusannya dan Orion sangat tidak menyukai hal itu.
" Kenali dirimu dan bangkitlah. Tidak ada gunanya kau termenung hanya dengan memandang potretnya. Cari dalangnya dan balaskan kematiannya seperti kau membalaskan kematian orang tuamu." Zairan melepaskan cengkeraman tangan Orion di kerah bajunya sebelum berbalik pergi.
Orion berteriak kencang menyalurkan rasa amarah yang sedari tadi dipendamnya. " Jangan berbicara omong kosong kalau kau sebenarnya tidak tahu tentang apapun Zairan !"
__ADS_1
Orion beralih memandang gambar Monica di dinding. Melihat wajah cantik gadis itu yang sedang tersenyum manis. Kau bahagia sekarang melihatku begini Monica ?.