
Zairan tertawa karena merasa tidak menyangka Orion bisa secepat itu mengimbanginya. Bahkan dia bisa lolos dari setiap taktik serangannya. Insting seorang pemburu memang tidak bisa diremehkan begitu saja.
" Aku hebat bukan ?" tanya Orion dengan tangan yang masih bersiap mencekik leher Zairan. Ibu jari dan jari telunjuk bersama jari tengahnya bersiap menekan saraf yang ada di leher Zairan. Bukan untuk membunuh tapi paling tidak Zairan akan melemah atau kehilangan suaranya.
Ini adalah ilmu yang diajari ayahnya dulu. Terlihat seperti mencekik namun sebenarnya hanya menekan saraf yang ada di leher lawan saja. Tujuannya bukan untuk membunuh namun lebih membuat lawan tak bisa berbicara ataupun lemas seperti kehabisan tenaga.
" Yah kuakui itu, keturunan Frendick memang memiliki bibit yang unggul." Zairan melepaskan kuncian di tangan Orion. Bersamaan itu sebelah tangan Orion yang siap mencekiknya pun ikut dilepaskan.
Namun tiba tiba saja Zairan menendang perut Orion hingga membuat pria itu memundurkan langkahnya sembari meringis kesakitan.
" Licik." ucap Orion.
Zairan tersenyum miring melihatnya. " Itu dibutuhkan saat kau menghadapi lawan. Ingat Orion jangan beri lawanmu kelonggaran meskipun dia berbicara akan berhenti. Karena lawan selamanya akan tetap menjadi lawan. Sekarang, nanti, besok, ataupun waktu yang akan datang kemudian."
" Aku mengerti terimakasih saranmu Zai." Orion menegakkan tubuhnya dan berjalan menghampiri Zairan.
" Kau..., kacau." sambungnya setelah melihat penampilan Zairan setelah bertarung dengannya.
Zairan merapikan rambutnya sembari terkekeh merasa lucu. Baru kali ia merasa terkalahkan oleh orang lain. Bahkan sebelumnya Zairan pernah bertarung dengan Hansen Frendick tetapi tidak seperti ini. Dia memang kuat namun tidak selicik Orion sekarang.
" Aku rasa kau akan menjadi pemimpin yang hebat." ucap Zairan.
" Aku masih belajar." Orion menjawab dengan rendah kemudian membuka baju atasnya karena terlalu banyak keringat.
Zairan bersiul melihat itu. Matanya memandang kagum tato yang ada di dada kiri Orion. Begitu keren dan estetik, entah siapa orang hebat mana yang bisa menciptakan tato seindah itu untuk Orion.
" Tatomu keren." komentarnya.
Orion tersenyum tipis mendengarnya. " Ini lambang yang akan aku gunakan nanti kalau negara N bisa bangkit kembali."
Zairan terdiam sesaat lalu menatap Orion. " Aku ingin sekali menjadi bagian negaramu. Meskipun aku dilahirkan di negara ini tapi aku ingin menjadi salah satu penghuni negara N. Itu pun jika kau mau mengizinkannya."
" Tentu, tapi sebelum itu kita harus membunuh Galiendro dulu agar kau mendapatkan izin pindah negara." balas Orion.
Zairan berdecak kesal dan menunju lengan kekar Orion. " Kau sangat tahu cara membuatku kesal anak muda."
Orion tertawa lalu merangkul Zairan keluar dari ruang latihan. Untuk hari ini cukup sampai di sini dulu pembelajarannya. Dilain waktu Orion ingin kembali sparring dengan Zairan untuk melihat perkembangan dari latihannya sendiri.
__ADS_1
Dan Zairan tentu saja akan ia gunakan sebagai lawan main bertarungnya setelah Rigel.
Hah, Orion semakin ingin cepat cepat mempelajari semua ilmu bela diri dan menjadi kuat sebelum menghadapi Jenderal negara ini.
.
...*****...
.
Orion merebahkan tubuhnya di atas sofa. Sedangkan Zairan berjalan ke dapur untuk mengambil minuman.
" Jus atau mineral !" Zairan berteriak dari arah dapur.
" Mineral !" balas Orion berteriak juga. Ia menatap jam di pergelangan tangannya. Masih ada beberapa waktu lagi untuk menjemput dokter kesayangan negara ini.
" Ini minummu." Zairan memberikan sebotol aqua dingin sebelum duduk di sofa.
Orion beranjak bangun dan kembali memakai pakaian atasnya. Lalu mengambil minumnya dengan wajah malas.
" Hei, kau kapan bermain dengan Dekandra ?" tanya Zairan.
" Dasar sok keren, tinggal jawab apa susahnya sih ?!" Zairan berganti mencibir Orion yang tengah malas itu.
" Hah ! Nanti Zai." Orion menjawab penuh kesabaran. Mau bagaimana lagi ? Tenaganya terkuras akibat sparring tadi dan sekarang tubuhnya membutuhkan istirahat.
Orion ingin tidur sampai besok pagi andai saja tidak mengingat buruannya yang telah keluar dari zona nyamannya. Sekarang saatnya dia bertemu dengan orang tua Orion dan menjaga mereka sesuai dengan sumpahnya dulu.
" Aku ikut ya ?" pinta Zairan.
Orion merebahkan kembali tubuhnya di atas sofa lalu menggeleng untuk menolak.
Zairan langsung berdecak dan memandang tak terima. Ia di sini juga butuh hiburan seperti yang lainnya. Teman teman Orion, mereka bermain dengan kebebasan. Nah kalau dirinya ? Jangankan keluar, berjemur di bawah matahari saja ia hampir tidak pernah.
Karena di sini Zairan hanya mengajar dan berlatih. Setelah itu makan, minum, mandi, dan tidur. Bangun tidur kembali mengajar dan berlatih. Itu itu saja yang ia kerjakan selama misi ini mulai berlangsung.
Zairan bukannya tidak senang melakukan misi yang diberikan Orion. Namun alangkah baiknya kalau ia ikut untuk melihat dan merasakan sedikit hiburan.
__ADS_1
" Kenapa ?" tanya Zairan.
" Beban." Orion menjawab santai sembari menutup matanya bersiap tidur.
Mata Zairan membelalak seketika. Orion menyebutnya tadi beban ? Hei ! Dari bagian mananya dirinya ini disebut beban ?!.
" Hei ! Jangan asal berbicara !" seru Zairan berteriak kencang.
Orion menghiraukan teriakkan itu. Ia mengambil sepasang handset dari saku celananya lalu memakainya. Waktu istirahatnya akan habis sia sia kalau ia terus saja mendengar teriakan membahana dari Zairan. Pria tua itu sungguh sangat berisik sekali hingga membuat telinganya kebas.
" Orion !" Zairan berteriak kesal memanggil Orion. Namun panggilannya masih tetap tak dihiraukan.
" Oriooonn !" dan teriakkan itu semakin menjadi dengan Zairan yang menerjang tubuh Orion. Dicubitnya bahu dan juga telinga Orion tanpa ampun sebagai pelampiasan rasa kesalnya.
Orion langsung membuka matanya dan melotot memandangi Zairan di atas tubuhnya. Kurang ajar sekali pria tua itu dan berani beraninya dia berada di atas tubuh seksinya ini. " Menyingkir atau kebanting kau sekarang !"
" Kau tidak akan bisa." Zairan semakin mengencangkan cubitannya di telinga Orion.
" Akh ! Zai sakit ! Kau keterlaluan sekali, lepaskan cubitanmu ini !"
Zairan menyeringai senang. Sekarang giliran Orion yang berteriak dan ia yang berlaku seenaknya. Tahu begini Zairan akan lakukan dari dulu.
" Zai lepas !" Orion berteriak kesakitan. Astaga, telinganya bisa putus kalau lama lama terus seperti ini. Dasar Zairan si tua bangka mesum dan sialan. Orion akan benar benar membantingnya sekarang juga.
" Kau yang membuatku kesal tadi Orion." balas Zairan.
" Kau !" Orion melotot marah menatap Zairan di atasnya.
" Apa hah ?! Kau ingin membuatku kesal lagi ? Tidak akan ! Aku tid..."
BRUG !
" Akh !"
" Mampus kau !" Orion tersenyum senang setelah berhasil membanting tubuh Zairan dari atas sofa ke lantai.
Segera ia beranjak dan menyeringai kejam memandang Zairan yang tengah kesakitan. Sudah ia bilang tadi jangan pernah memancingnya atau lihatlah sendiri akibatnya.
__ADS_1
" Orion kau kejam !" teriak Zairan.
" Kau baru tahu ?"