Orion (Sang Pemburu)

Orion (Sang Pemburu)
Perkara Merah Muda


__ADS_3

" Tuan muda waktunya anda kembali."


Orion dan Klein mengalihkan pandangannya dan melihat arah asal suara itu. Terlihat seorang pria tinggi dengan luka di dahinya sedang berdiri di dekat mereka.


" Oh, sudah waktunya aku pulang ?" tanya Orion pada pria itu.


Pria itu mengangguk dengan wajah datarnya.


" Baiklah." Orion menatap Klein yang masih melihat penjaganya. " Klein aku sudah dijemput. Sepertinya pertemuan kita hanya bisa sampai di sini. Sayang sekali, padahal kita belum menikmati semua kuliner yang ada."


Klein menoleh dan tersenyum. " Tidak apa apa. Aku pun juga ada pekerjaan yang harus aku selesaikan."


" Kalau begitu sampai jumpa dilain waktu teman baru."


" Ya."


Orion tersenyum jenaka dan melambaikan tangannya sebelum pergi yang dibalas dengan anggukan singkat dari Klein. Namun hal itu tidak bagi pria yang memiliki luka di dahinya. Pria itu memang hanya berdiri tanpa ekspresi apapun tetapi di dahinya mengalir keringat dengan tubuh sedikit bergetar saat melihat senyum Orion.


Klein memicingkan matanya dan memandang penjaga Orion yang menurutnya sedang ketakutan. Sepertinya pria itu takut kepadanya seperti yang orang orang rasakan. Padahal jika melihat wajah ia termasuk ke dalam pria yang tampan.


Di dalam mobil hitam pengeluaran terbaru, Orion bersandar di kursi mobil sambil memegang sebuah tablet di pangkuannya.


" Tuan muda, tuan Zairan berpesan agar anda bisa mampir sejenak melihat pelatihan kami."


Orion menghentikan bacaannya di tablet lalu melirik pria yang tadi sempat pura pura menjadi penjaganya. " Bilang padanya aku akan ke sana kalau ada waktu."


" Baik tuan muda."


" Setelah ini tolong beritahu Zairan bahwa kami akan melihat pelelangan. Aku ingin menembak jarak jauh mengawasi kami selama kami berada di sana."


" Akan saya sampaikan tuan muda."


Orion tersenyum miring dan kembali menatap tabletnya. Lelang kali ini akan terlihat lebih menyenangkan karena Rasi Bintang akan melelang satu perhiasan dan satu set perhiasan mutiara biru sebagai perkenalan awal dari barang langka itu sebelum mereka membuka toko perhiasan sendiri.


" Tuan muda kita sudah sampai."


Orion melihat keluar jendela mobil. " Tidak usah membukakan pintu untukku. Segeralah pergi dan sampai pesanku pada Zairan."

__ADS_1


" Baik tuan muda."


Orion keluar dari mobil dan berjalan masuk ke dalam rumahnya. Suara berisik dan suara saling berdebat langsung menyapa pendengarannya setelah Orion masuk ke dalam rumah.


" Alnilam kau gila ?! Kami ini pria jantan !"


" Kenapa memangnya kalau kalian pria jantan memakai jas merah muda ? Itu akan terlihat serasi dengan gaun kami yang bewarna merah muda juga."


" Apapun itu pendapatmu. Kami tetap tidak akan memakai jas bewarna merah muda !"


Orion menyadarkan tubuhnya di dinding sambil melipat tangan di depan dada. Ia melihat perdebatan sengit antara Alnilam dan Mintaka dalam memilih pakaian.


" Tapi kita akan terlihat mencolok di pelelangan itu sayang." kali ini bukan hanya Mintaka yang bersuara tetapi Saiph juga ikut berbicara tentang ketidak setujuan para pria dalam memakai setelan jas bewarna merah muda.


" Tapi kan mereka tidak mengenal kita." ucap Alnilam yang masih kutub dengan pendapatnya.


Bellatrix berdecak kesal memandang Alnilam yang menurutnya sangat keras kepala tanpa mau melihat pendapat orang lain.


" Heh ! Kau kira Orion mau memakai jas bewarna seperti itu ?! Kau tidak lihat lemarinya yang hanya berisi pakaian dengan warna gelap saja ?"


...*****...


" Bagaimana dengan warna biru dongker ? Itu juga termasuk warna gelap seperti langit malam." celetuk Alnitak memberi usul.


Rigel menepuk keningnya mendengar itu. Mengapa para gadis dikelompoknya memiliki selera norak dalam memilih warna pakaian ?.


Orion menahan bibirnya yang berkedut ingin tertawa. Teman temannya saat ini terlihat seperti anak kecil yang sedang kebingungan memilih pakaian karena takut dimarahi oleh orang tuanya.


" Ehem !"


" Orion." Rigel yang pertama kali melihat Orion yang sedang bersandar sambil melipat tangan di dada langsung berseru dengan mata berbinar senang. Akhirnya sang penyelamatnya dalam berpakaian datang juga, batinnya.


Alnilam, Alnitak, Bellatrix, Saiph, dan Mintaka menoleh melihat arah pandangan Rigel dimana ada Orion di sana.


" Rion sejak kapan kau ada di sana ?" tanya Saiph.


Orion berjalan mendekati teman temannya. " Sejak kalian memilih ingin memakai jas bewarna merah muda."

__ADS_1


" Itu bukan keinginan kami !" Mintaka langsung bersuara dengan nada tinggi. Sungguh, lebih baik ia berenang di selokan dibandingkan harus memakai pakaian yang bewarna merah muda.


Orion duduk di dekat Rigel lalu mengambil tablet yang menampakkan sepasang pakaian dewasa bewarna merah muda. " Sepertinya ini tidak buruk juga."


" Apa ?!" Mintaka dan Bellatrix berteriak heboh.


" Yey ! Pilihanku yang terbaik !" Alnilam bersorak senang.


" Rion kita akan terlihat gemulai memakai warna itu." ucap Saiph yang juga tidak setuju.


" Lihatlah otot otot kita yang mengagumkan ini." Rigel menunjukkan lengannya yang berotot pada Orion.


" Apa jadinya kalau kita memakai warna itu di malam hari ? Seharusnya kau memikirkannya terlebih dahulu sebelum menyetujui saran Alnilam." sambungnya.


Orion tersenyum tipis melihat kehebohan teman temannya hanya karena perkara merah muda. Padahal warna itu tidak akan membuat nyawa mereka melayang.


" Aku tidak bilang kalau aku menyetujuinya."


Alnilam sontak berhenti bersorak. " Tapi tadi kau bilang pilihanku tidak buruk juga."


" Itu bukan berarti aku setuju dengan saranmu Alnilam." Orion tersenyum miring memandang Alnilam yang terdiam.


Mendengar itu Rigel, Bellatrix, Saiph, dan Mintaka langsung bersorak bersama. Mereka bahkan tanpa sadar saling berdiri dan saling berpelukan.


" Orion." Alnilam menggenggam tangan Orion sambil merengek. " Warna merah muda itu indah. Kau tahu hati yang lembut itu dilambangkan dengan warna merah muda dan itu cocok untuk kita." sambungnya.


Orion menggeleng pelan dan menepuk kepala Alnilam layaknya seorang ayah yang akan menasihati putrinya. " Dibandingkan merah muda kita lebih cocok bewarna hitam. Kita ini penjahat Nilam bukan malaikat yang memiliki hati lemah lembut seperti yang kau sebutkan itu."


" Tapi aku ingin memakai warna itu." Alnilam tetap merengek kepada Orion. Matanya mulai berkaca kaca menahan tangis.


Orion memandang Alnitak meminta bantuan tetapi gadis itu hanya mengangkat bahu acuh. Begitupula dengan yang lainnya kecuali Bellatrix dan Mintaka yang menggelengkan kepala mereka tanpa sepengetahuan Alnilam.


" Orion." Alnilam merengek kembali.


" Kau ingin warna merah muda ?" tanya Orion.


Alnilam menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


" Bagaimana kalau warnanya kita gabungkan saja ? Terserah kau dalam membentuk gaunmu. Tetapi kami para pria akan memakai setelan jas hitam dengan kemeja dan dasi bewarna merah muda. Setuju ?" tanya Orion setelah berpikir keras untuk mencari solusi dari masalah ini.


" Setuju." Alnilam membalas dengan senyuman.


__ADS_2